Operasi SAR Hari Keempat, Pencarian Nelayan Saparua Hilang Belum Membuahkan Hasil
Operasi SAR gabungan memasuki hari keempat untuk mencari Roy Souhoka, nelayan Saparua yang terjatuh dari longboat di Perairan Desa Haria, Maluku Tengah, masih belum menemukan keberadaan korban.
Tim SAR Gabungan dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Ambon terus melanjutkan operasi pencarian seorang nelayan yang dilaporkan terjatuh dari perahu panjang atau longboat di Perairan Desa Haria, Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Operasi pencarian ini telah memasuki hari keempat sejak laporan diterima.
Nelayan yang hilang tersebut teridentifikasi bernama Roy Souhoka, berusia 41 tahun, dan berasal dari Desa Haria. Ia dilaporkan terjatuh dari longboat miliknya pada Rabu, 8 April 2026, sekitar pukul 20.00 WIT.
Meskipun upaya pencarian intensif telah dilakukan oleh tim gabungan, termasuk penyisiran area yang luas, keberadaan Roy Souhoka hingga kini belum berhasil ditemukan. Keluarga dan pihak berwenang masih menanti kabar baik terkait pencarian ini.
Fokus Operasi SAR Gabungan
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Ambon, Muhamad Arafah, menyatakan bahwa Tim SAR Gabungan kembali dikerahkan pada hari keempat operasi. Mereka menyisir sejumlah titik koordinat di sekitar Perairan Pulau Saparua sesuai dengan SAR MAPS yang telah ditentukan.
Pencarian dimulai sejak pukul 07.00 WIT, mencakup area seluas kurang lebih 27 Nautical Mile. Wilayah pencarian ini membentang dari sekitar Pulau Saparua hingga Perairan Pulau Haruku.
Namun, hingga menjelang sore hari, upaya pencarian tersebut belum menunjukkan tanda-tanda keberadaan korban. Kondisi perairan dan luasnya area menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan.
Operasi SAR akan dilanjutkan kembali pada hari kelima, Senin, 13 April 2026, dengan harapan dapat segera menemukan Roy Souhoka. Basarnas Ambon terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memaksimalkan upaya pencarian.
Kronologi Kejadian Hilangnya Nelayan Saparua
Peristiwa hilangnya Roy Souhoka bermula pada Rabu malam, 8 April 2026, sekitar pukul 20.00 WIT, saat ia terjatuh dari longboatnya di Perairan Desa Haria. Kejadian ini kemudian terlihat oleh nelayan lain pada Kamis pagi, 9 April 2026, sekitar pukul 06.30 WIT.
Nelayan lain sempat melakukan upaya pencarian mandiri setelah melihat Roy terjatuh. Namun, pencarian awal tersebut tidak membuahkan hasil, sehingga keberadaan korban masih menjadi misteri.
Informasi mengenai hilangnya Roy Souhoka kemudian diteruskan oleh Camat Saparua kepada Comm Centre Basarnas Ambon. Laporan ini disampaikan pada Kamis, 9 April 2026, untuk meminta bantuan operasi SAR.
Segera setelah menerima laporan, Basarnas Ambon membentuk Tim SAR Gabungan untuk memulai operasi pencarian. Upaya ini melibatkan berbagai unsur untuk menyisir area yang diperkirakan menjadi lokasi hilangnya korban.
Tantangan dan Rencana Lanjutan Pencarian
Luasnya area pencarian yang mencapai puluhan Nautical Mile menjadi salah satu tantangan utama bagi Tim SAR Gabungan. Kondisi geografis perairan Maluku Tengah yang dinamis juga memerlukan strategi pencarian yang adaptif.
Meskipun demikian, semangat tim tidak surut dalam melanjutkan upaya pencarian. Mereka terus berkoordinasi dan mengevaluasi setiap titik yang telah disisir untuk memastikan tidak ada area yang terlewat.
Muhamad Arafah menegaskan bahwa operasi SAR akan terus berlanjut hingga batas waktu yang ditentukan atau hingga korban berhasil ditemukan. Prioritas utama adalah keselamatan dan penemuan Roy Souhoka.
Rencana untuk hari kelima pencarian akan mencakup perluasan area atau penyesuaian strategi berdasarkan data dan kondisi lapangan. Semua pihak berharap agar Roy Souhoka dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Sumber: AntaraNews