Mengenal Lebih Dekat Mahakarya Hagia Sofia Turki: Jejak Sejarah di Istanbul dan Iznik
Jelajahi keindahan arsitektur dan kekayaan sejarah Hagia Sofia Turki, dari kemegahan Istanbul hingga jejak kuno di Iznik. Temukan perpaduan budaya dan spiritualitas yang memukau di dua situs warisan dunia ini.
Turki, sebuah negara yang kaya akan sejarah dan budaya, memiliki ikon arsitektur yang tidak lekang oleh waktu, yaitu Hagia Sofia. Bangunan megah ini seringkali langsung terlintas dalam benak saat membicarakan Turki, khususnya di jantung Kota Istanbul. Namun, ternyata Hagia Sofia tidak hanya satu, melainkan ada beberapa di negara tersebut, masing-masing dengan kisah dan pesonanya sendiri.
Secara harfiah, Hagia Sofia (dibaca: Ayasofia) berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “Kebijaksanaan Suci”. Nama ini memiliki signifikansi teologis yang mendalam dalam Kekristenan awal, terkait erat dengan Yesus Kristus sebagai hikmat Allah. Di Turki, setidaknya ada empat bangunan yang berbagi nama ini, termasuk di Istanbul, Iznik, dan Edessa.
ANTARA, berkolaborasi dengan AirAsia X dan Badan Pariwisata Turki (TGA), berkesempatan menjelajahi dua dari mahakarya ini. Perjalanan ini membawa tim ke Hagia Sofia yang akbar di pusat Kota Istanbul, serta Hagia Sofia yang sarat sejarah di Iznik, Provinsi Bursa, yang terletak di bagian Asia Turki. Kedua situs ini menawarkan pengalaman spiritual dan historis yang mendalam bagi setiap pengunjung.
Megahnya Masjid Agung Hagia Sofia Istanbul
Pada awal Februari, langit mendung Istanbul seolah menyatu dengan warna abu dan cokelat pucat yang mendominasi bangunan Hagia Sofia yang agung. Meskipun sedang dalam tahap pemugaran dan renovasi di beberapa bagian luarnya, kemegahan bangunan ini tetap menarik perhatian banyak pengunjung. Dahulu merupakan gereja Kristen terpenting di era Kekaisaran Romawi Timur, Hagia Sofia kini berdiri kokoh sebagai simbol sejarah yang hidup.
Kawasan yang dibangun oleh Kaisar Justinian 15 abad silam ini mudah dikenali dari kubahnya yang besar, salah satu contoh awal penggunaan pendentif dalam arsitektur. Memasuki Hagia Sofia, pengunjung akan disambut oleh motif, pola, dan kaligrafi bernuansa Islami yang indah di setiap sudut. Motif-motif ini merupakan warisan dari masa ketika Mehmed II mengubahnya menjadi masjid, menandai babak baru dalam sejarah panjangnya.
Meskipun tertutup oleh pola Islam, sejumlah mosaik emas peninggalan Romawi Timur telah ditemukan kembali dan tetap bertahan hingga kini. Salah satu yang paling legendaris adalah Mosaik Deisis, yang masih dapat dilihat jelas oleh wisatawan di bagian atas atau museum bangunan. Mosaik ini menggambarkan Kristus dalam Kemuliaan yang diapit oleh Perawan Maria dan Santo Yohanes, sebuah representasi ikonik dalam seni Bizantium dan ikonografi Ortodoks Timur.
Hagia Sofia terdaftar dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1985, sebuah pengakuan atas keindahan seni dan arsitektur Romawi Timur serta Kekaisaran Ottoman yang terkandung di dalamnya. Sejak tahun 2020, bangunan ini beroperasi sebagai masjid dan menjadi salah satu proyek konservasi terbaru Turki. Pekerjaan restorasi saat ini berfokus pada kubah Hagia Sofia untuk meningkatkan ketahanannya sambil mempertahankan bentuk aslinya, serta konservasi mosaik di permukaan interior kubah.
Jejak Sejarah Masjid Hagia Sofia Iznik
Beranjak dari Istanbul, cuaca berubah menjadi lebih hangat saat menuju Provinsi Bursa, di barat laut Turki. Lokasi Bursa yang berada di sisi Asia Laut Marmara menjadikannya lebih dekat ke benua Asia dibandingkan Eropa. Meski berada di wilayah Marmara yang menjembatani dua benua, kota ini terletak di Anatolia, bagian Turki yang lebih dekat dengan Asia.
Perjalanan ke Iznik, sebuah kota di Bursa yang terkenal dengan produksi zaitun, industri tembikar, dan keramik, hanya memakan waktu 1 hingga 2 jam dengan mobil. Iznik juga merupakan salah satu kota penting dalam sejarah Kekaisaran Ottoman. Berbeda dengan hiruk pikuk Istanbul, daya tarik Iznik terletak pada kepadatan penduduk lokal yang terasa lekat namun tenang.
Hagia Sofia di Iznik, meskipun berbagi nama, sangat kontras dengan kemegahan Istanbul. Bangunannya tergolong cukup kecil, didominasi warna cokelat dan bata yang menampakkan usia tua namun tetap kokoh dan terawat. Dibangun pada abad ke-7 sebagai basilika di era Romawi Timur, bangunan ini masih menyimpan peninggalan Kristen seperti mosaik dan undakan yang dulunya merupakan area paduan suara.
Hagia Sofia di Iznik sempat runtuh akibat gempa bumi, namun kemudian direnovasi dan dipulihkan. Pada tahun 1331, setelah penaklukan Iznik, Orhan Gazi mengubahnya menjadi masjid. Renovasi lebih lanjut dilakukan oleh arsitek Ottoman terkenal, Mimar Sinan, selama pemerintahan Sultan Suleiman I. Meskipun berbeda ukuran, kedua Hagia Sofia ini memiliki kesamaan dalam kekayaan seni dan sejarah, serta upaya restorasi yang berkelanjutan. Penemuan mosaik lantai berwarna-warni dan tempat duduk setengah lingkaran pada restorasi tahun 1935 dan 1953 menjadi bukti kekayaan tersebut.
Tidak butuh waktu lama untuk mengelilingi Hagia Sofia di Iznik. Saat langkah perlahan menaiki undakan tangga menuju area ibadah, azan berkumandang di tengah hari, memanggil umat Muslim untuk salat Zuhur. Di sinilah keajaiban sesungguhnya dari kedua Hagia Sofia ini terasa, baik di Istanbul maupun Iznik. Doa-doa dan pujian kepada para nabi serta Sang Ilahi terus terpanjat ke langit, di dalam bangunan yang tetap memegang teguh sisa-sisa sejarah dan nilai-nilai Kristiani.
Sumber: AntaraNews