Mengapa Tari Lengger Banyumas Jadi Terapi Stres di Tokyo? Ini Rahasianya!
Tari Lengger Banyumas memukau warga Tokyo, Jepang, dan menjadi terapi stres yang diminati. Simak bagaimana seni tradisi ini berhasil menyentuh hati dan jiwa masyarakat di sana.
Tari Lengger Banyumas, seni tradisional yang berasal dari Jawa Tengah, berhasil memikat hati masyarakat Tokyo, Jepang, dan mendapatkan sambutan hangat. Maestro tari Rianto mengungkapkan bahwa minat publik terhadap bentuk seni tradisional ini sangat tinggi, menjadikannya fenomena budaya yang menarik perhatian. Kehadiran tarian ini di Negeri Sakura tidak hanya sekadar pertunjukan, melainkan juga berfungsi sebagai medium penyembuhan yang efektif bagi warga setempat.
Maestro tari Rianto, sosok di balik popularitas Tari Lengger Banyumas di Jepang, melihat potensi tarian ini sebagai terapi stres. Ia berharap tarian ini dapat membantu mengurangi tingkat bunuh diri di Jepang, yang dikenal memiliki mobilitas tinggi dan tingkat stres yang signifikan. Respons emosional dari penonton dan peserta pelatihan menjadi bukti nyata akan dampak positif yang dihasilkan oleh ritme dan gerakan Tari Lengger Banyumas.
Melalui Dewandaru Dance Company, yang dikelola bersama istrinya yang berkebangsaan Jepang, Rianto tidak hanya melibatkan warga lokal Tokyo tetapi juga pekerja migran Indonesia. Studio ini kini melatih sekitar 100 orang, meningkat tajam dari 25 peserta awal, menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana seni tradisional Indonesia mampu menembus batas geografis dan budaya, menawarkan nilai-nilai baru di tengah masyarakat modern.
Daya Tarik Ritme dan Healing Tari Lengger Banyumas
Daya tarik utama Tari Lengger Banyumas, menurut Rianto, terletak pada ritmenya yang menawarkan pengalaman penyembuhan atau healing. Dalam masyarakat Jepang yang memiliki mobilitas tinggi dan tingkat stres signifikan, tarian ini hadir sebagai oase ketenangan. Rianto bahkan menyaksikan sendiri bagaimana beberapa peserta meneteskan air mata saat menyaksikan dan ingin mempelajari tarian ini, mengindikasikan kedalaman emosional yang ditawarkan.
Melalui Dewandaru Dance Company, Rianto secara aktif mengembangkan komunitas penari Lengger di Tokyo. Perusahaan ini tidak hanya menjadi wadah bagi warga Jepang untuk belajar, tetapi juga merangkul pekerja migran Indonesia yang berada di sana. Keterlibatan berbagai lapisan masyarakat ini menunjukkan inklusivitas dan daya adaptasi Tari Lengger Banyumas di lingkungan budaya yang berbeda.
Rianto menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah menjadikan Tari Lengger Banyumas sebagai bentuk penyembuhan. "Sebagai bentuk healing, karena mobilitas di Jepang sangat tinggi. Banyak orang di bawah tekanan. Beberapa bahkan menangis ketika mereka menonton dan ingin belajar," ujarnya di Jakarta, Selasa lalu. Pernyataan ini menggarisbawahi peran penting seni dalam mengatasi tantangan kesehatan mental di era modern.
Antusiasme Tinggi dan Pelestarian di Negeri Sakura
Antusiasme terhadap Tari Lengger Banyumas di Tokyo sangat tinggi, tercermin dari peningkatan jumlah peserta pelatihan yang signifikan. Dari awalnya hanya 25 peserta, kini studio tersebut melatih sekitar 100 orang. Mayoritas peserta, sekitar 85 persen, adalah warga Jepang, sementara sisanya adalah pekerja migran Indonesia yang juga menunjukkan minat besar terhadap seni tradisional ini.
Untuk pekerja Indonesia, Rianto tidak memungut biaya, asalkan mereka memiliki kemauan untuk belajar. Sementara itu, peserta Jepang memberikan iuran keanggotaan yang digunakan untuk mendukung operasional dan kegiatan studio. Model ini memastikan keberlanjutan Dewandaru Dance Company dan aksesibilitas Tari Lengger Banyumas bagi berbagai kalangan di Tokyo.
Upaya pelestarian Tari Lengger Banyumas tidak hanya berhenti pada pelatihan rutin. Rianto juga telah mengorganisir berbagai festival untuk memperkenalkan dan merayakan tarian ini. Inisiatif ini penting untuk menjaga agar seni tradisional ini tetap hidup dan relevan, baik di kancah internasional maupun di tanah kelahirannya.
Dari Panggung Internasional hingga Hari Lengger Sedunia
Dalam rangka pelestarian dan promosi, Rianto telah merencanakan berbagai acara penting. Dari tanggal 20 hingga 27 November mendatang, ia akan menampilkan Lengger Lanang, yang dibawakan oleh penari-penari Indonesia, di sebuah festival musik internasional di Tokyo. Pertunjukan ini juga akan diiringi oleh calung, ansambel gamelan bambu khas Banyumas, yang menambah kekayaan budaya yang disajikan.
Selain itu, Rianto juga mengumumkan festival besar di Banyumas, Indonesia, yaitu pertunjukan 24 jam pada 2-3 Mei 2025, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Ada pula festival Lengger Bicara yang akan menampilkan 10.000 penari, serta pertunjukan Lengger Satria Suwarna Banyumas pada 22 Juni 2025. Tanggal 22 Juni 2025 ini juga menandai deklarasi Hari Lengger Sedunia, bersamaan dengan ritual kesuburan tradisional oleh petani lokal.
Tari Lengger Banyumas sendiri merupakan tarian rakyat tradisional dari Jawa Tengah, Indonesia, yang dikenal dengan presentasi uniknya oleh penari pria yang berdandan sebagai wanita (lengger lanang) atau kadang oleh penari wanita. Tarian ini berkembang dari tari Tayub dan sering diiringi musik calung, membawa nilai hiburan serta makna budaya dan spiritual. Lengger berfungsi sebagai medium pelestarian budaya yang menyampaikan pesan moral tentang kebaikan dan penolakan nilai-nilai negatif.
Sumber: AntaraNews