Makna Mendalam di Balik Hidangan Imlek: Yu Sheng hingga Mi Panjang Umur
Perayaan Imlek tak lengkap tanpa Hidangan Imlek yang kaya makna. Dari Yu Sheng simbol kemakmuran hingga mi panjang umur, temukan filosofi di balik setiap sajian yang membawa harapan baik di tahun baru.
Perayaan Tahun Baru Imlek merupakan tradisi tahunan yang dirayakan oleh seluruh warga Tionghoa, termasuk keturunannya di Indonesia. Momen ini tidak hanya melibatkan ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ajang berkumpulnya keluarga dalam suasana penuh kehangatan.
Berbagai aktivitas seni dan budaya turut menyemarakkan perayaan Imlek, mulai dari pertunjukan tarian barongsai hingga festival makanan. Kehadiran ragam sajian kuliner menjadi daya tarik utama yang menarik perhatian masyarakat luas.
Salah satu aspek menarik dari perayaan ini adalah Hidangan Imlek khas yang disajikan saat berkumpul bersama keluarga. Makanan seperti yu sheng, mi panjang umur, hingga aneka boga bahari tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki makna penting.
Makna Filosofis di Balik Hidangan Imlek
Pakar kuliner keturunan Tionghoa, William Wongso, mengungkapkan bahwa bahan-bahan pangan dalam Hidangan Imlek bukanlah sekadar merefleksikan kemewahan semata. Sebaliknya, setiap bahan mengandung simbol yang menggambarkan keselamatan, kekayaan, kelanggengan, hingga kebahagiaan.
Menurut William Wongso, di Tiongkok, setiap bahan memiliki makna penting yang dijelaskan melalui tulisan kaligrafi dari bahan tersebut. Contohnya, apel dalam bahasa Mandarin disebut "ping guo", di mana "ping" berarti kedamaian.
Tradisi menikmati hidangan khusus Imlek ini telah dibudayakan oleh warga etnis Tionghoa di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, sejak ratusan tahun lalu. Semangat menjaga tradisi ini tetap kuat, bahkan jauh dari tanah asal.
Yu Sheng: Simbol Kemakmuran dan Harapan Baru
Yu Sheng adalah hidangan tradisional Imlek yang sarat simbol dan harapan, sering menjadi hidangan pembuka dalam tradisi Lo Hei. Tradisi ini melibatkan mengangkat salad setinggi-tingginya menggunakan sumpit, melambangkan harapan agar rezeki, keberuntungan, dan kesuksesan terus meningkat di tahun baru.
Setiap elemen dalam yu sheng memiliki makna tersendiri, seperti ikan mentah yang melambangkan kelimpahan sepanjang tahun. Kepercayaan ini berasal dari kata "yu" yang berarti ikan sekaligus surplus, sehingga menyantapnya diyakini membawa limpahan rezeki.
Pomelo juga menjadi bagian penting dalam yu sheng sebagai simbol hoki dan keberuntungan. Saat dicampurkan, biasanya disertai doa untuk kesuksesan dan kelancaran dalam setiap urusan. Sayuran hijau melambangkan harapan akan kesehatan, sementara kacang tumbuk melambangkan kemakmuran rumah tangga, dan biji wijen menjadi simbol harapan agar usaha terus berkembang.
Ikan Utuh dan Mi Panjang Umur: Harapan Rezeki dan Usia
Hidangan ikan utuh, seperti garoupa kukus Kapitan Cirebon, menonjolkan cita rasa alami dan manis lembut daging ikan. Dalam kepercayaan Tionghoa, ikan tidak boleh disajikan terpotong-potong karena melambangkan keutuhan, keberlanjutan rezeki, dan kelancaran hidup.
William Wongso menegaskan bahwa ikan yang tidak dipotong-potong adalah hal wajib dalam perayaan makan bersama Imlek, karena memotong ikan dipercaya dapat memutus simbol keberuntungan dan rezeki. Ikan diletakkan di tengah meja untuk dibagi bersama, bukan per porsi.
Mi panjang umur (siu mie) yang ditumis dengan sayuran segar dan boga bahari lainnya juga memiliki makna mendalam. Disajikan utuh dengan panjang mencapai dua meter tanpa terputus, mi ini melambangkan harapan akan umur panjang, kemakmuran, dan kelancaran rezeki di tahun yang akan datang.
Masyarakat Tionghoa biasanya tidak boleh memotong atau menggigit mi hingga putus saat memakannya. Mi harus diseruput utuh dari ujung ke pangkal agar tidak membawa nasib buruk, sebagai bentuk penghormatan terhadap simbol umur panjang.
Klappertaart dan Kekayaan Budaya Peranakan
Mengakhiri jamuan Imlek dapat dilakukan dengan menikmati hidangan penutup khas seperti Ny. Kwee Coconut Klappertaart. Hidangan Manado-Belanda ini terbuat dari kelapa muda, kismis, almond panggang, dan telur putih kayu manis, disajikan dengan es puter gula aren.
Menurut William Wongso, jumlah hidangan yang tersaji di meja makan saat Imlek umumnya tidak sedikit, bahkan bisa lebih dari sepuluh menu. Keberagaman hidangan ini mencerminkan kelimpahan dan keberuntungan, dengan sajian yang mencakup berbagai jenis rasa dan bahan.
Semangat menjaga tradisi dan akulturasi budaya juga tercermin pada ragam hidangan di House of Tugu. Bangunan bersejarah di Kawasan Kota Tua Jakarta ini menghadirkan hidangan khas yang dirangkai dari tradisi peranakan Jawa pesisir, menunjukkan perpaduan budaya Nusantara, Tionghoa, dan Belanda.
Selain menikmati hidangan, pengunjung House of Tugu juga diajak menelusuri sejarah yang melekat di setiap sudut bangunan. Ornamen naga di langit-langit yang dibuat pada tahun 1961 untuk perayaan Cap Go Meh, serta dokumentasi keluarga Raden Ajeng Kasinem, menjadi bukti kekayaan sejarah yang tak ternilai.
Sumber: AntaraNews