Jelajahi Kekayaan Budaya di Festival Kuil Imlek Beijing: Tradisi dan Hiburan Meriah

Rayakan Tahun Baru Imlek di Beijing dengan mengunjungi festival kuil yang kaya tradisi. Temukan sejarah, kuliner, dan pertunjukan unik di Festival Kuil Imlek Beijing yang tak terlupakan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Jelajahi Kekayaan Budaya di Festival Kuil Imlek Beijing: Tradisi dan Hiburan Meriah
Rayakan Tahun Baru Imlek di Beijing dengan mengunjungi festival kuil yang kaya tradisi. Temukan sejarah, kuliner, dan pertunjukan unik di Festival Kuil Imlek Beijing yang tak terlupakan. (AntaraNews)

Libur Musim Semi, atau yang lebih dikenal sebagai Tahun Baru Imlek, merupakan perayaan paling istimewa di China. Momen ini tidak hanya memberikan masyarakat Tiongkok libur panjang lebih dari sepekan, tetapi juga menampilkan kekayaan tradisi dan budaya yang mendalam. Sejarah Imlek sendiri telah tercatat hingga sekitar 2000 SM, bermula dari hari pertama penanggalan lunar yang ditetapkan pada masa pemerintahan Kaisar Wu Di dari Dinasti Han.

Meskipun perayaan di setiap kekaisaran memiliki perbedaan dan diwarnai beragam catatan mitologis, semuanya mengerucut pada sosok "Nian". Kata "Nian" dalam bahasa China kontemporer berarti "tahun", namun pada masa lampau diartikan sebagai makhluk mengerikan bermulut besar yang muncul setiap malam tahun baru untuk meneror manusia. Tradisi memasang jimat kertas merah di pintu rumah dan menyalakan petasan setiap akhir tahun berasal dari pesan seorang pendekar yang berhasil mengalahkan Nian, karena makhluk tersebut tidak menyukai suara keras dan warna merah.

Frasa "guo nian" (过年), yang awalnya berarti "selamat dari Nian", kini telah bergeser maknanya menjadi "merayakan Tahun Baru", mencerminkan konotasi ganda dari karakter "guo" (过) yang berarti "melewati" sekaligus "merayakan". Dekorasi serba merah dan tradisi menyalakan petasan masih bertahan hingga kini, namun fungsinya sebagai penolak bala sebagian besar telah memudar. Kini, tradisi tersebut digantikan dengan berbagai aktivitas yang lebih meriah untuk menyambut tahun baru, salah satunya adalah kegiatan festival kuil, terutama di Beijing.

Sejarah dan Evolusi Festival Kuil Imlek

Jauh sebelum dikenal sebagai pusat hiburan dan perdagangan, cikal bakal festival kuil berasal dari ritual pemujaan dalam masyarakat agraris kuno. Masyarakat pada masa itu memohon perlindungan dan hasil panen melimpah kepada dewa-dewi alam. Dalam upacara tersebut, musik dan tarian menjadi bagian tak terpisahkan, menandai awal mula adanya pertunjukan dalam festival kuil.

Seiring waktu, interaksi sosial dan ekonomi mulai terjalin karena orang-orang berkumpul dan memanfaatkan momen tersebut untuk saling bertukar barang. Masuknya agama Buddha ke China pada abad pertama Masehi dan perkembangan Taoisme pada periode yang sama menjadi titik balik penting. Demi merebut hati masyarakat, kedua agama tersebut gencar membangun kuil dan menciptakan berbagai kegiatan keagamaan yang menarik.

Salah satu kegiatan yang digelar adalah ritual "行像" (xíng xiàng), yaitu arak-arakan patung dewa yang dihias menggunakan kereta warna-warni berkeliling kota. Prosesi ini diiringi musik, tarian, dan berbagai atraksi akrobat meriah. Akibatnya, halaman kuil dan sekitarnya berubah menjadi pusat keramaian yang mempertemukan elemen religi, hiburan, dan semakin banyaknya pedagang di areal tersebut.

Puncak kejayaan festival kuil di Beijing terjadi pada masa Dinasti Ming (1368–1644) dan Qing (1644–1911). Pada masa itu, festival kuil tidak lagi hanya soal kegiatan agama, tetapi bergeser menjadi pusat perayaan publik, interaksi sosial, kegiatan ekonomi, dan hiburan bagi masyarakat dari berbagai kalangan. Tradisi "逛庙会" (guàng miàohuì) atau jalan-jalan santai menikmati suasana festival kuil saat Imlek, telah mengakar kuat dalam budaya Beijing hingga saat ini. Setelah sempat terhenti selama beberapa dekade pada masa Revolusi Kebudayaan, tradisi ini mulai dihidupkan kembali pada tahun 1985 dan terus berkembang menjadi perayaan budaya yang tak terpisahkan dari Tahun Baru Imlek di Beijing modern.

Mengintip Kemeriahan Festival Kuil Ditan

Festival Kuil Ditan di Distrik Dongcheng, pusat Kota Beijing, dikenal sebagai festival kuil terbesar dan terpopuler di ibu kota China. Pada tahun 2025, festival ini menarik sekitar 600 ribu pengunjung dalam tujuh hari pelaksanaannya. Festival yang dimulai pada tahun 1985 sebagai bagian dari revitalisasi budaya ini memiliki daya tarik utama berupa pertunjukan reka ulang upacara pemujaan tanah ala Dinasti Qing, lengkap dengan kostum kekaisaran dan ratusan "abdi dalem".

Selain itu, terdapat panggung-panggung lain yang menampilkan berbagai pertunjukan seperti barongsai, semi musik genderang Pinggai Ansai dari Provinsi Shaanxi, genderang Suku Bai, hingga tari modern seni kaligrafi, bahkan pertunjukan robot humanoid. Pengunjung juga dapat menikmati ratusan jajanan tradisional maupun modern. Beberapa jajanan yang biasa hadir di Ditan antara lain "tanghulu" (buah berlapis gula renyah), "Lǘ Dǎ Gǔn" (kue beras ketan isi pasta kacang merah), dan "Ái Wō Wō" (kue ketan bulat kecil isi gula dan aneka kacang).

Bagi penggemar jajanan gurih, tersedia sate Xinjiang (sate domba bumbu jintan dan cabai kering), "Bào Dù" (babat sapi/domba dengan saus wijen), "Chòu Dòufu" (tahu fermentasi dengan aroma menyengat), dan roti isi daging kedelai khas Beijing. Untuk minuman, ada "Chátāng" atau "teh sup" berbasis tepung gandum dengan rasa manis dan aneka isian. Berbagai stan produk tradisional seperti kicir-kicir, pajangan, gantungan kunci, serta lokasi permainan tradisional juga menambah semarak festival.

Dengan beragam penawaran menarik, pengunjung Festival Kuil Ditan hanya perlu membayar 10 RMB (sekitar Rp24 ribu) untuk tiket masuk. Namun, pengunjung harus siap berjalan sekitar 1 kilometer sebelum mencapai gerbang masuk karena adanya rekayasa lalu lintas yang menutup akses kendaraan bermotor dan transportasi publik, sehingga masyarakat perlu berjalan cukup jauh untuk mencapai lokasi.

Pesona Tradisi di Festival Kuil Dongyue dan Danau Longtan

Festival Kuil Dongyue adalah festival kuil tertua di Beijing, dengan sejarah yang dapat ditelusuri lebih dari 700 tahun. Kuil Dongyue di Distrik Chaoyang sendiri, sejak era Dinasti Yuan hingga kini, masih berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan Taoisme. Di kuil ini, para penganut Taoisme dapat membakar dupa dan berdoa memohon berkah di tahun yang baru. Khusus saat Festival Musim Semi, pengelola kuil menampilkan berbagai pertunjukan kesenian, termasuk atraksi barongsai, panggung boneka, dan opera ganti topeng atau "Bian Lian" yang populer dengan kecepatan pemain mengganti topengnya.

Atraksi barongsai yang ditampilkan di sini adalah gaya China utara, dengan ciri khas barongsai berbulu tebal yang sekilas mirip anjing. Gerakannya lincah dan akrobatik, seperti melompat, memanjat tiang, dan naik ke susunan kursi layaknya singa dalam pertunjukan sirkus. Gaya ini berkembang dari hiburan istana kekaisaran dan kelompok akrobat tradisional, sehingga umum ditemui dalam festival kuil di Beijing. Festival ini juga menyajikan berbagai jenis makanan dan produk yang mirip dengan yang ada di Festival Kuil Ditan, namun dengan suasana yang tidak terlampau ramai.

Sementara itu, Festival Kuil Danau Longtan digelar di Taman Longtan yang luasnya sekitar 49,2 hektare, dengan Danau Longtan di tengah taman. Dinamakan "Longtan" (kolam naga) karena formasi danau di dalamnya menyerupai naga. Kegiatan festival dibuat mengelilingi danau dengan berbagai pertunjukan seni rakyat, pasar buku, jajanan kuliner, serta parade yang berkeliling taman. Karena festival diadakan di penghujung musim dingin, Danau Longtan terkadang masih beku dan dapat digunakan sebagai arena seluncur es, khususnya bagi anak-anak, termasuk perosotan es sepanjang 180 meter.

Di satu sisi taman, terdapat juga arena permainan untuk anak, yaitu Taman Bermain Anak Longtan, dengan wahana mobil-mobilan, roller coaster anak, pesawat terbang berputar, dan kereta api kecil. Untuk menikmati permainan ini, pengunjung harus membayar biaya tambahan di luar tiket masuk taman seharga 10 RMB. Interaksi teknologi juga hadir di beberapa titik, seperti pertunjukan robot, lokasi swafoto augmented reality (AR), dan pengalaman virtual reality (VR). Kios-kios makanan di sini serupa dengan taman lain, ditambah dengan kios restoran "Quanjude" yang menjual bebek peking, "Tianxingju" yang menyajikan sup kental irisan hati dan usus babi, "Menkuang Luzhu" dengan hidangan khas jeroan rebus, serta "Fengzeyuan" yang menawarkan jajanan teripang rebus daun bawang.

Kemeriahan Pasar Imlek di Taman Hiburan Shinjingshan

Berbeda dengan festival kuil yang umumnya diadakan di taman dan kuil, Pasar Imlek di Taman Hiburan Shinjingshan, Distrik Shinjingshan, berlokasi sekitar 20 kilometer sebelah barat pusat Kota Beijing. Kegiatan ini menawarkan dua acara dengan jadwal berbeda: "Pasar Imlek Musim Semi" yang berlangsung dari 17-23 Februari 2026 pukul 09.00 - 16.00 waktu setempat, dan "Festival Lampion Malam Tahun Baru Imlek" yang berlangsung pada 17 Februari - 8 Maret 2026 dan dapat dinikmati pada malam hari.

Atraksi utama dan paling ditunggu adalah parade gendang pinggang dari Ansai atau 安塞腰鼓 (dibaca ānsài yāogǔ), yang telah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda nasional China sejak tahun 2006. Permainan gendang pinggang Ansai ini dilaksanakan enam kali dalam sehari dan dibawakan oleh sekitar 30 pemain pria dan wanita. Mereka mengenakan kostum dominan merah dan putih yang tersusun dalam delapan baris, masing-masing terdiri dari empat orang.

Pemain pria mengenakan atasan dominan putih bermotif floral di dada dan ikat kepala tradisional putih atau "tóujīn" yang mirip udeng, sementara pemain wanita menggunakan atasan dominan merah dengan hiasan floral di pundak dan rambut yang dikuncir ke sisi kiri. Pada baris pertama, terdapat "gǔwáng" atau gendang berdiameter sekitar 80 sentimeter yang dimainkan oleh dua orang, dengan satu orang menabuh dan satu orang menariknya, diiringi dua pemain simbal tradisional untuk membuka irama utama. Sementara itu, pemain di baris dua hingga delapan membawa "yāogǔ" atau gendang dua sisi sepanjang sekitar 30 sentimeter, yang diikat di pinggang bagian kiri dan ditabuh dengan dua "gǔchuí" atau stik di kedua sisinya, dengan ritme tiga ketukan berulang.

Terdapat juga arak-arakan dan parade kendaraan hias, serta lampion ikan yang tampak hidup bergerak pada malam hari. Panggung hiburan menampilkan opera wajah berubah hingga musik hip-hop yang lebih bernuansa anak muda. Pengunjung juga dapat menikmati berbagai wahana khas taman bermain, seperti kereta luncur, bianglala, hingga rumah hantu. Untuk wahana ini, pengunjung harus membeli tiket secara terpisah di pintu masuk tiap wahana. Masih banyak lokasi keramaian Imlek lainnya di Beijing, semuanya demi menyambut musim semi yang membawa kesegaran baru.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi