Mahasiswa UTU Aceh Barat Terjunkan 100 Relawan PKM Bantu Pemulihan Bencana Banjir
Ratusan Mahasiswa UTU Aceh Barat diterjunkan ke lokasi bencana banjir bandang di Pante Ceureumen melalui program PKM Berdampak 2026, wujud nyata kepedulian kampus dalam pemulihan pascabencana.
Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Aceh, mengerahkan 100 mahasiswa dalam program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berdampak Tahun 2026. Mereka akan membantu proses pemulihan pascabencana banjir bandang di Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat. Inisiatif ini menunjukkan komitmen kampus dalam merespons kebutuhan masyarakat terdampak bencana alam.
Program PKM Berdampak ini berfokus pada penguatan kesehatan, penyediaan air bersih, pemulihan lahan, serta pendampingan psikososial ibu dan anak. Kepala LPPM UTU Meulaboh, Yuliatul Muslimah, menyatakan bahwa program ini merupakan bukti nyata kehadiran kampus di tengah masyarakat. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu warga bangkit dari dampak bencana secara berkelanjutan.
Pengabdian mahasiswa ini secara khusus ditujukan untuk wilayah Sumatera, dengan fokus pada daerah terdampak banjir. Pendekatan berbasis kebutuhan lokal diterapkan untuk memastikan bantuan yang diberikan relevan dan efektif. Keterlibatan langsung perguruan tinggi diharapkan mampu mempercepat proses pemulihan di lokasi bencana.
Fokus Program PKM Berdampak Mahasiswa UTU Aceh Barat
PKM Berdampak Tahun 2026 merupakan sebuah program pengabdian mahasiswa yang secara spesifik dirancang untuk pemulihan pascabencana. Program ini mendorong keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam membantu masyarakat. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat bangkit kembali dari dampak bencana melalui pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Yuliatul Muslimah menjelaskan bahwa delapan kelompok PKM Berdampak telah dinyatakan lulus. Dua lokasi penempatan utama berada di Kabupaten Aceh Barat, yaitu Desa Lawet dan Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen. Penempatan ini memastikan bantuan terfokus pada area yang paling membutuhkan.
Program ini tidak hanya menghadirkan solusi konkret, tetapi juga menumbuhkan semangat meuseuraya dan gotong royong di kalangan masyarakat. Semangat kolaborasi ini penting untuk membangun Aceh Barat yang lebih tangguh di masa depan. Melalui upaya bersama, diharapkan dampak bencana dapat diminimalisir.
Kontribusi Multidisipliner Mahasiswa di Lokasi Bencana
Setiap desa yang menjadi lokasi program PKM Berdampak akan ditempatkan 50 mahasiswa. Mahasiswa ini berasal dari berbagai program studi dan lintas fakultas di lingkungan UTU. Pendekatan multidisipliner ini memungkinkan penanganan masalah yang komprehensif dan terintegrasi di lapangan.
Di Desa Lawet, fokus utama kegiatan mahasiswa mencakup isu kesehatan, penguatan konsep gampong tangguh, serta penyediaan air bersih. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan ketahanan masyarakat. Sementara itu, di Desa Jambak, kegiatan lebih diarahkan pada pemulihan lahan terdampak melalui Program Meuseuraya.
Selain pemulihan lahan, mahasiswa di Desa Jambak juga memberikan pendampingan psikososial melalui edukasi ibu dan anak. Pendampingan ini krusial untuk membantu pemulihan mental dan emosional warga pascabencana. Kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat diharapkan menciptakan dampak positif jangka panjang.
Apresiasi Pemerintah Daerah atas Peran Mahasiswa UTU Aceh Barat
Program PKM Berdampak ini melibatkan sejumlah himpunan mahasiswa UTU Meulaboh yang berkolaborasi erat dengan masyarakat. Mereka bekerja sama di Desa Lawet dan Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen. Fokus kolaborasi meliputi penguatan kesehatan, penyediaan air bersih, pemulihan lahan, serta pendampingan psikososial ibu dan anak.
Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil, menyampaikan apresiasi tinggi atas kontribusi nyata UTU Meulaboh. Beliau menekankan dukungan kampus dalam upaya penanganan dan pemulihan bencana di Aceh, khususnya di Kabupaten Aceh Barat. Keterlibatan ini menunjukkan peran strategis perguruan tinggi dalam mengatasi persoalan sosial.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran UTU melalui PKM Berdampak ini. Ini bukan sekadar program akademik, tetapi wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial kampus dalam membantu masyarakat korban bencana,” ujar Said Fadheil. Pernyataan ini menegaskan pentingnya peran akademisi dalam pengabdian kepada masyarakat.
Sumber: AntaraNews