Kodam Udayana Gandeng Berbagai Pihak Atasi Krisis Penanganan Sampah Bali
Kodam IX/Udayana berkolaborasi dengan akademisi, praktisi, dan pemerintah daerah menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk mencari solusi penanganan sampah Bali yang kian mendesak, menarik perhatian publik.
Kodam IX/Udayana mengambil langkah proaktif dalam mengatasi krisis sampah di Bali dengan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD). Acara ini bertujuan mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi komprehensif. Krisis sampah di Pulau Dewata telah menjadi isu serius yang memerlukan penanganan segera dari berbagai pihak.
FGD ini dilaksanakan di Markas Kodam IX/Udayana, Denpasar, pada hari Rabu, 14 Mei 2026, sebagai bagian dari rangkaian Hari Bakti Ke-69 Kodam IX/Udayana. Kegiatan penting ini dibuka langsung oleh Kepala Staf Kodam (Kasdam) IX/Udayana, Brigjen TNI Taufiq Hanafi. Berbagai pejabat utama Kodam, akademisi, tokoh masyarakat, organisasi, dan insan media turut hadir dalam diskusi.
Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Piek Budyakto, menegaskan bahwa permasalahan sampah di Bali bukan sekadar masalah estetika semata. Lebih dari itu, krisis ini telah menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat, sektor pariwisata, dan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, penanganan yang terintegrasi dan kolaboratif menjadi sangat krusial.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Penanganan Sampah Bali
Pangdam IX/Udayana menekankan bahwa penanganan sampah tidak bisa dilakukan secara parsial oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi dan kolaborasi yang kuat dari seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas lingkungan. Hal ini sejalan dengan tugas pokok TNI dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP) untuk membantu pemerintah daerah dalam pengelolaan lingkungan.
Komitmen Kodam IX/Udayana dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan juga selaras dengan instruksi Presiden RI. TNI diharapkan turut aktif menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab nasional. Keterlibatan Kodam menunjukkan keseriusan institusi militer dalam menghadapi tantangan lingkungan yang ada di Bali.
FGD ini menjadi wadah penting untuk menyatukan beragam perspektif dan keahlian. Diskusi yang dinamis diharapkan mampu menghasilkan strategi efektif yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. Pendekatan multisektoral ini diharapkan dapat mempercepat penyelesaian masalah sampah yang kompleks di Pulau Dewata.
Strategi dan Solusi Inovatif dari Berbagai Pihak
Diskusi panel menghadirkan empat narasumber ahli dari berbagai bidang yang memaparkan pandangan dan solusi. Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani, menjelaskan strategi penanganan sampah terintegrasi. Fokus utamanya adalah peningkatan tata kelola dan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya.
Dari kalangan akademisi, pemerhati lingkungan Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini menyoroti pentingnya pengolahan sampah mandiri. Beliau menekankan pendekatan berbasis rumah tangga dan komunitas sebagai kunci mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Edukasi dan pemberdayaan masyarakat di tingkat paling dasar dianggap sangat efektif.
Sementara itu, penggiat waste management, Putu Gede Indra, menawarkan solusi manajemen sampah modern yang lebih efisien. Ia juga mendorong keterlibatan sektor swasta dalam pengembangan ekonomi sirkular sampah. Model ekonomi sirkular ini diharapkan dapat mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.
Founder Komunitas Malu Dong, Komang Sudiarta, menyoroti aspek pendidikan dan infrastruktur. Ia menekankan pentingnya pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan sejak usia dini. Selain itu, Sudiarta juga menggarisbawahi perlunya dukungan infrastruktur pengolahan sampah yang memadai dari pemerintah.
Sumber: AntaraNews