Kanwil Ditjenpas Kalsel Giatkan Program Cetak Sawah Rakyat untuk Ketahanan Pangan
Kantor Wilayah Ditjenpas Kalimantan Selatan (Kalsel) aktif mengimplementasikan program Cetak Sawah Rakyat, sebuah inisiatif strategis Kementerian Pertanian, guna mewujudkan pembinaan pertanian bagi warga binaan sekaligus mendukung swasembada pangan nasion
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Selatan (Kanwil Ditjenpas Kalsel) telah memulai program strategis Cetak Sawah Rakyat, sebuah inisiatif dari Kementerian Pertanian. Program ini bertujuan untuk mewujudkan pembinaan pertanian bagi warga binaan pemasyarakatan, sekaligus berkontribusi pada pencapaian swasembada pangan nasional. Penanaman padi perdana telah dilaksanakan di Desa Pagatan Besar, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
Kegiatan ini merupakan bagian integral dari upaya pemerintah dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada di lingkungan pemasyarakatan untuk mendukung ketahanan pangan. Kepala Kanwil Ditjenpas Kalsel, Mulyadi, menyatakan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada hasil produksi, melainkan juga pada pembentukan karakter dan peningkatan keterampilan warga binaan. Inisiatif ini menunjukkan peran pemasyarakatan yang lebih luas dalam pembangunan daerah.
Lahan yang dimanfaatkan untuk program Cetak Sawah Rakyat ini memiliki luas sekitar 20 hektare, terdiri dari 10 hektare lahan hibah dan 10 hektare lahan pinjam pakai. Pada tahap awal, penanaman padi dilakukan di atas lahan seluas empat hektare. Area ini berfungsi sebagai proyek percontohan untuk pengembangan kawasan pertanian yang produktif.
Optimalisasi Lahan dan Tahap Awal Program Cetak Sawah Rakyat
Program Cetak Sawah Rakyat yang digagas Kanwil Ditjenpas Kalsel memanfaatkan total lahan seluas 20 hektare di Desa Pagatan Besar, Takisung, Tanah Laut. Lahan tersebut terbagi menjadi 10 hektare yang merupakan hibah dan 10 hektare lainnya diperoleh melalui skema pinjam pakai. Ini menunjukkan kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak dalam penyediaan lahan.
Proyek percontohan pengembangan kawasan pertanian produktif dimulai dengan penanaman padi perdana di lahan seluas empat hektare. Pemilihan lokasi ini strategis untuk menguji efektivitas metode pertanian dan adaptasi tanaman. Keberhasilan tahap awal ini akan menjadi dasar untuk ekspansi program ke area yang lebih luas.
Mulyadi menjelaskan bahwa lahan yang kini produktif dulunya merupakan kawasan yang dipenuhi vegetasi galam. Proses pengolahan lahan menjadi area pertanian yang subur membutuhkan kerja keras dan sinergi berbagai pihak. Transformasi ini menjadi bukti nyata potensi lahan tidur yang dapat dioptimalkan untuk kepentingan masyarakat.
Pembinaan Karakter dan Keterampilan Warga Binaan
Program Cetak Sawah Rakyat ini memiliki dimensi ganda, tidak hanya berorientasi pada hasil produksi pertanian semata. Mulyadi menegaskan bahwa program ini juga berfungsi sebagai sarana efektif untuk pembentukan karakter dan peningkatan keterampilan warga binaan pemasyarakatan. Mereka mendapatkan pengalaman langsung dalam praktik pertanian.
Melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan pertanian, warga binaan dibekali dengan keterampilan kerja yang relevan dan aplikatif. Lebih dari itu, program ini menanamkan nilai-nilai penting seperti kedisiplinan, tanggung jawab, serta semangat untuk membangun masa depan yang lebih baik. Aspek ini krusial untuk reintegrasi mereka ke masyarakat.
Keterampilan dan nilai-nilai yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal berharga bagi warga binaan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat. Ini sejalan dengan tujuan pemasyarakatan untuk membina individu menjadi pribadi yang mandiri dan produktif. Dengan demikian, mereka dapat berkontribusi positif dan mengurangi potensi residivisme.
Kontribusi pada Ketahanan Pangan Nasional dan Sinergi Antar-Instansi
Program Cetak Sawah Rakyat ini merupakan implementasi dari Asta Cita Presiden Republik Indonesia dan selaras dengan Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Inisiatif ini secara spesifik mendukung ketahanan pangan nasional melalui optimalisasi sumber daya yang dimiliki pemasyarakatan. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memanfaatkan setiap potensi.
Pemasyarakatan tidak hanya berperan dalam aspek pembinaan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan ketahanan pangan masyarakat. Kalimantan Selatan menjadi salah satu provinsi fokus dengan target 500 ribu hektare lahan cetak sawah secara bertahap dari 14 provinsi yang ditunjuk Kementerian Pertanian. Ini merupakan langkah besar dalam mencapai swasembada pangan.
Mulyadi menekankan bahwa keberhasilan program ini merupakan hasil dari sinergi dan semangat gotong royong antar-instansi. Berbagai tantangan, termasuk pengolahan lahan galam, dapat dihadapi bersama. Kolaborasi ini menghasilkan sesuatu yang bermanfaat luas bagi masyarakat, membuktikan kekuatan kerja sama lintas sektor.
Sumber: AntaraNews