Hari Ini Menko AHY Luncurkan Gerakan Nasional Ayo Muliakan Sungai
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa sungai tidak dapat lagi dipandang sekadar sebagai saluran air, melainkan sebagai urat nadi kehidupan.
Di tengah meningkatnya ancaman pencemaran, banjir, dan menurunnya kualitas sumber daya air, sungai-sungai di Indonesia menghadapi tantangan yang semakin serius. Hasil pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan 70,7 persen titik pemantauan pada 1.482 sungai berada dalam kondisi tercemar.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa sungai tidak dapat lagi dipandang sekadar sebagai saluran air, melainkan sebagai urat nadi kehidupan yang menopang keberlanjutan lingkungan, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
Berangkat dari kondisi tersebut, Gerakan Nasional Ayo Muliakan Sungai hadir untuk mengajak seluruh elemen bangsa mengubah cara pandang terhadap sungai dan menempatkannya sebagai aset strategis pembangunan melalui pendekatan Blue Infrastructure (Infrastruktur Biru) yang mengintegrasikan pembangunan fisik dengan fungsi-fungsi ekologis secara berkelanjutan.
Gerakan ini dijadwalkan diluncurkan oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (19/6).
Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Herzaky Mahendra Putra, menegaskan pembangunan infrastruktur masa depan harus mengedepankan prinsip keberlanjutan dengan menempatkan sungai sebagai bagian penting dari sistem pembangunan nasional.
“Rencananya Pak Menko AHY akan hadir langsung karena beliau memiliki perhatian besar terhadap kondisi sungai saat ini. Sungai adalah bagian penting dari sistem kehidupan dan pembangunan. Karena itu, pembangunan infrastruktur tidak boleh memutus atau mengabaikan fungsi alami sungai. Justru sebaliknya, kita harus membangun dengan pendekatan yang terintegrasi, di mana sungai menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan banjir, penyediaan air baku, hingga penguatan ketahanan lingkungan,” ujar Herzaky.
Menurut Stafsus Menko Bidang Humas dan Komunikasi Publik tersebut, konsep Blue Infrastructure menjadi semakin relevan dalam pembangunan modern. Infrastruktur tidak hanya berbicara mengenai jalan, jembatan, bendungan, atau bangunan fisik lainnya, tetapi juga bagaimana seluruh pembangunan mampu berjalan selaras dengan sistem alam yang menopangnya.
“Ketika kita berbicara tentang pembangunan modern, kita tidak bisa lagi memisahkan beton dengan aliran air alami. Sungai harus ditempatkan sebagai inti (core) dari Infrastruktur Biru yang terintegrasi. Pembangunan tidak boleh memotong jalur air, melainkan harus beradaptasi dengannya,” lanjut Herzaky.
Ia menjelaskan sungai yang sehat dan terkelola dengan baik mampu menjadi pengendali alami terhadap risiko banjir melalui fungsi resapan dan vegetasi di sekitarnya. Selain itu, keberlanjutan sungai menjadi faktor penting dalam menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan rumah tangga, pertanian, maupun industri di masa depan.
“Sungai yang sehat adalah penyerap banjir terbaik sekaligus fondasi ketahanan air baku. Jika sungai terjaga, kita tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga menjaga keberlangsungan kehidupan dan aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Herzaky.
Sementara itu, Ketua Gerakan Nasional Ayo Muliakan Sungai, Irwan Fecho, menegaskan gerakan ini hadir untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sungai sebagai ruang hidup bersama yang harus dijaga dan dimuliakan.
“Memuliakan sungai bukan berarti menghentikan pembangunan. Justru sebaliknya, memuliakan sungai adalah membangun dengan lebih bijaksana, memberi ruang bagi air untuk mengalir, menghidupi, dan menyejahterakan masyarakat,” ujar Irwan.
Menurut Irwan, sungai yang bersih dan tertata akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun kualitas hidup. Sungai yang terjaga dapat menjadi penggerak ekonomi lokal melalui pengembangan wisata air, kuliner tepi sungai, hingga transportasi yang lebih ramah lingkungan.
“Sungai yang bersih membuka peluang ekonomi baru, mulai dari wisata air, kuliner tepi sungai, hingga transportasi yang lebih ramah lingkungan. Pada saat yang sama, kualitas kesehatan masyarakat meningkat karena lingkungan yang lebih bersih dan bebas polusi,” jelasnya.
Ia menambahkan, penataan kawasan bantaran sungai yang baik juga dapat meningkatkan nilai estetika dan ekonomi kawasan di sekitarnya. Karena itu, menjaga dan memulihkan sungai harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat luas.
Melalui Gerakan Nasional Ayo Muliakan Sungai, seluruh pemangku kepentingan diajak untuk mengintegrasikan kelestarian sungai ke dalam setiap cetak biru pembangunan. Pembangunan yang menghormati alam akan melahirkan infrastruktur yang tangguh, lingkungan yang sehat, serta kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.
“Mari satukan langkah untuk memuliakan sungai. Sungai bersih, infrastruktur megah, rakyat sejahtera,” tutup Irwan.
Peluncuran Gerakan Nasional Ayo Muliakan Sungai akan diisi dengan berbagai kegiatan, antara lain susur sungai, aksi pengumpulan sampah, peresmian fasilitas pengolahan sampah, serta pemberian bantuan bagi pos pengawasan sungai.
Kegiatan tersebut juga akan dihadiri sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih, anggota DPR RI, pemerintah daerah, komunitas lingkungan, serta berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian sungai dan lingkungan hidup.