Harga Daging Ayam Melonjak Jelang Natal di Pasar Tomang, Konsumen Berhemat
Harga daging ayam di Pasar Tomang, Jakarta Barat, meroket hingga Rp45 ribu per ekor menjelang Natal 2025, memicu penurunan omzet pedagang dan perubahan pola belanja konsumen.
Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, harga daging ayam di Pasar Tomang, Jakarta Barat, mengalami lonjakan signifikan. Kenaikan ini membuat harga per ekor mencapai Rp45 ribu, jauh di atas harga normal harian yang berkisar antara Rp32 ribu hingga Rp35 ribu per ekor. Situasi ini tidak hanya membebani konsumen, tetapi juga berdampak langsung pada pendapatan para pedagang di pasar tersebut.
Salah satu pedagang daging ayam, Hardi (50), mengonfirmasi bahwa kenaikan harga ini sudah berlangsung cukup lama dan diperkirakan akan bertahan hingga periode perayaan berakhir. Menurutnya, penyebab utama kenaikan harga berasal langsung dari tingkat peternakan, bukan dari pedagang di pasar. Fenomena ini menjadi perhatian utama bagi masyarakat yang bersiap merayakan hari besar.
Selain daging ayam, beberapa komoditas lain seperti cabai juga menunjukkan tren kenaikan harga yang serupa di Pasar Tomang. Pedagang lain, Ida (61), melaporkan bahwa harga cabai rawit merah telah mencapai Rp80 ribu per kilogram, menunjukkan adanya tekanan inflasi pada bahan pangan pokok di ibu kota.
Kenaikan Harga Daging Ayam dan Dampaknya pada Konsumen
Harga daging ayam di Pasar Tomang, Jakarta Barat, kini dibanderol antara Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per ekor, menurut pengakuan Hardi, seorang pedagang ayam di sana. Angka ini menunjukkan peningkatan drastis dibandingkan harga normal yang biasanya hanya Rp32 ribu sampai Rp35 ribu per ekor. Kenaikan ini telah terjadi sejak beberapa waktu lalu dan diperkirakan akan terus bertahan hingga perayaan Natal dan Tahun Baru usai.
Hardi mengungkapkan bahwa penyebab kenaikan harga daging ayam ini berasal langsung dari tingkat peternakan, bukan dari pedagang di pasar. "Saya juga kurang tahu, yang pasti dari peternakan harga sudah naik," katanya. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa harga daging ayam cenderung tidak akan turun selama periode perayaan besar.
Dampak langsung dari lonjakan harga daging ayam ini adalah penurunan omzet bagi para pedagang. Hardi mengaku mengalami penurunan omzet sekitar 30 persen karena konsumen mulai mengurangi jumlah pembelian. Banyak pembeli yang biasanya membeli satu kilogram kini hanya membeli setengah kilogram untuk menghemat pengeluaran.
Perubahan pola belanja konsumen ini mencerminkan upaya masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan kenaikan harga. Meskipun demikian, kebutuhan akan daging ayam tetap tinggi menjelang perayaan, sehingga pedagang dan konsumen sama-sama menghadapi tantangan ekonomi yang signifikan.
Lonjakan Harga Cabai dan Faktor Penyebabnya
Tidak hanya daging ayam, komoditas cabai juga mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan di Pasar Tomang. Pedagang Ida (61) melaporkan bahwa harga cabai rawit merah telah menyentuh angka Rp80 ribu per kilogram, bahkan sempat mencapai Rp70 ribu per kilogram sebelumnya. Kenaikan ini menambah daftar panjang bahan pangan yang harganya melonjak menjelang akhir tahun.
Selain cabai rawit merah, jenis cabai lainnya juga menunjukkan tren kenaikan. Cabai merah keriting dan cabai merah besar kini berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram. Sementara itu, cabai hijau besar dan cabai keriting hijau dijual seharga Rp50 ribu per kilogram, dan cabai rawit hijau mencapai Rp60 ribu per kilogram.
Ida menjelaskan bahwa faktor utama di balik kenaikan harga cabai dan sayur-mayur adalah kondisi cuaca ekstrem yang sering menyebabkan petani gagal panen. "Kenaikan harga cabai maupun bawang hingga sayur mayur biasanya disebabkan karena faktor cuaca yang menyebabkan petani gagal panen," ujarnya. Gangguan distribusi akibat cuaca buruk juga turut berkontribusi terhadap lonjakan harga di pasaran.
Meskipun demikian, Ida memastikan bahwa stok pangan di Pasar Induk masih dalam kondisi aman. Hal ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan pada ketersediaan barang, melainkan pada proses produksi dan distribusi yang terhambat oleh faktor alam. Sementara itu, harga bawang merah dan bawang putih masih relatif normal, masing-masing Rp55 ribu per kilogram dan Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.
Statistik Harga Pangan Terkini di Jakarta
Data dari laman Informasi Pangan Jakarta pada Minggu menunjukkan gambaran umum harga komoditas pangan di ibu kota. Harga ayam ras rata-rata dibanderol Rp44.337 per ekor, mengkonfirmasi laporan kenaikan harga di tingkat pasar. Angka ini mendekati harga tertinggi yang disebutkan oleh pedagang di Pasar Tomang, yaitu Rp45 ribu per ekor.
Untuk komoditas cabai, statistik menunjukkan harga cabai rawit merah rata-rata Rp89.000 per kilogram, sedikit lebih tinggi dari harga yang disebutkan pedagang Ida. Cabai rawit hijau tercatat Rp70.067 per kilogram, cabai merah besar Rp68.700 per kilogram, dan cabai merah keriting Rp66.417 per kilogram. Data ini menguatkan adanya lonjakan harga yang signifikan pada berbagai jenis cabai.
Sementara itu, harga bawang merah rata-rata tercatat Rp51.650 per kilogram dan bawang putih Rp41.167 per kilogram. Angka-angka ini menunjukkan bahwa harga bawang masih berada dalam kisaran yang relatif stabil dibandingkan dengan cabai dan daging ayam. Kestabilan harga bawang ini memberikan sedikit kelegaan di tengah gejolak harga komoditas lainnya.
Informasi dari statistik harga pangan ini sangat penting bagi konsumen dan pemerintah. Data ini membantu dalam memantau fluktuasi harga, mengidentifikasi komoditas yang paling terdampak, dan merumuskan kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan menjelang periode hari besar.
Sumber: AntaraNews