Fakta Penting Peran Penyuluh Agama: Kemenag Minta Perkuat Persatuan dan Harmoni Sosial
Kementerian Agama (Kemenag) meminta para Penyuluh Agama di seluruh Indonesia untuk aktif memperkuat persatuan dan harmoni sosial. Bagaimana peran krusial mereka?
Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam secara tegas meminta seluruh jajarannya, termasuk para Penyuluh Agama di seluruh Indonesia, untuk aktif memperkuat persatuan dan harmoni sosial.
Permintaan ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad di Jakarta pada Sabtu, 30 Agustus, sebagai upaya menjaga kerukunan umat dan meredam dinamika sosial yang mungkin terjadi.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa pesan-pesan keagamaan yang disampaikan dapat menjadi perekat bangsa, sekaligus menjadi teladan dalam merawat tali persaudaraan di tengah masyarakat.
Peran Strategis Kemenag dalam Merawat Persatuan
Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, menekankan pentingnya peran seluruh aktor layanan Bimas Islam, mulai dari tingkat pusat hingga daerah, dalam menjaga kerukunan umat. Ia secara khusus menyoroti tanggung jawab para Kepala Bidang di Kanwil, Kepala Seksi, hingga para Penyuluh Agama dan penghulu di lapangan.
Abu Rokhmad juga mengajak seluruh pemuka agama dan tokoh masyarakat, termasuk para dai, penceramah, takmir masjid, serta pimpinan ormas Islam dan majelis taklim, untuk turut serta meredam dinamika sosial. Kehadiran mereka diharapkan menjadi penyejuk di tengah berbagai isu yang berkembang.
Dalam kesempatan tersebut, Abu Rokhmad menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Affan Kurniawan, menjadikan peristiwa ini sebagai pengingat bagi seluruh elemen bangsa. Ia berharap kepergian almarhum dapat menjadi momentum untuk terus merajut tali persaudaraan dan menjaga perdamaian nasional.
Penyuluh Agama sebagai Garda Terdepan Kerukunan
Senada dengan Dirjen Bimas Islam, Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Kemenag, Ahmad Zayadi, menegaskan bahwa Penyuluh Agama memiliki peran krusial sebagai garda terdepan dalam merawat kerukunan. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan pesan-pesan agama dengan realitas sosial yang kompleks.
Zayadi mengimbau para Penyuluh Agama untuk memanfaatkan mimbar dan media sosial sebagai sarana efektif dalam menyebarkan nilai-nilai kasih sayang, toleransi, dan persatuan. Pesan-pesan positif ini diharapkan dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan menciptakan iklim sosial yang kondusif.
Lebih lanjut, Zayadi menyoroti bahaya pertikaian dan perdebatan tidak produktif yang dapat merusak sendi-sendi kebangsaan. Ia mengajak semua pihak untuk mengedepankan dialog dan musyawarah sebagai solusi, mengingat perbedaan adalah keniscayaan, namun persatuan adalah pilihan yang harus diperjuangkan.
Dengan peran aktif para Penyuluh Agama dan pemuka agama lainnya, diharapkan masyarakat dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa, termasuk wafatnya Affan Kurniawan, untuk terus memperkuat ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan). Duka ini harus dijadikan pemersatu, bukan pemecah belah, demi membangun harmoni bersama.
Sumber: AntaraNews