Evaluasi Tim Panjat Tebing Speed Indonesia: Pekerjaan Rumah Bertambah Usai Seri Wujiang
Asisten pelatih tim panjat tebing speed Indonesia menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh setelah World Climbing Series Wujiang 2026, menegaskan pekerjaan rumah tim semakin bertambah karena persaingan ketat.
Asisten pelatih tim panjat tebing disiplin speed Indonesia, Fitriyani, menyatakan bahwa pekerjaan rumah timnya semakin bertambah usai mengikuti World Climbing Series Wujiang 2026. Kompetisi ini berlangsung di China pada hari Minggu, 10 Mei.
Menurut Fitriyani, persaingan di nomor speed akan semakin ketat pada seri International Federation of Sport Climbing (IFSC) berikutnya. Meskipun demikian, Indonesia berhasil membawa pulang satu medali perunggu melalui Desak Made di turnamen terakhir.
Hasil dari seri Wujiang ini menjadi gambaran jelas bagi tim pelatih untuk segera melakukan evaluasi mendalam. Fokus utama adalah pembenahan di pemusatan latihan nasional (pelatnas) agar atlet mampu bersaing lebih baik.
Tantangan Persaingan Ketat di Nomor Speed
Fitriyani menjelaskan bahwa ketatnya persaingan terlihat dari banyaknya atlet yang mampu membukukan waktu kompetitif secara konsisten. Fenomena ini menjadi indikasi bahwa standar performa di kancah internasional terus meningkat pesat.
Kondisi ini menuntut tim pelatih untuk segera mengevaluasi berbagai aspek teknis secara menyeluruh. Fokus utama adalah pada peningkatan konsistensi start yang sempurna dan penyelesaian di dekat garis finis yang seringkali menjadi penentu kemenangan.
Perkembangan pesat lawan juga menjadi perhatian serius bagi tim pelatih. Oleh karena itu, kemampuan atlet Indonesia harus lebih digenjot melalui program latihan yang lebih intensif dan terarah. Tujuannya adalah agar atlet tanah air tidak kalah bersaing di kancah internasional dan mampu mencetak prestasi lebih tinggi.
Performa Atlet Indonesia di Wujiang
Dalam perebutan tempat ketiga (small final) yang sengit, Desak Made berhasil merebut medali perunggu untuk Indonesia. Ia mengalahkan Natalia Kalucka dari Polandia dengan catatan waktu impresif 6,17 detik, unggul atas lawannya yang mencatatkan 6,38 detik. Kemenangan ini menunjukkan ketahanan mental dan kecepatan Desak Made di momen krusial.
Perjalanan Desak Made menuju medali perunggu cukup menantang dan melalui beberapa babak eliminasi. Ia berhasil menyingkirkan rekan senegara Rajiah Salsabillah di babak 16 besar, kemudian melanjutkan dominasinya dengan mengalahkan Isis Rothfork pada perempat final. Ini membuktikan kedalaman skuad putri Indonesia.
Namun, di babak semifinal, atlet asal Bali itu harus mengakui keunggulan Aleksandra Kalucka dari Polandia, yang kemudian berhasil meraih medali emas di kompetisi tersebut. Sementara itu, medali perak diraih oleh Elizaveta Ivanova. Hasil ini memberikan pelajaran berharga bagi Desak Made untuk seri berikutnya.
Di sisi lain, sektor putra yang diwakili oleh lima atlet harus pulang dengan tangan hampa dari Wujiang. Meskipun demikian, langkah terjauh diraih Raharjati Nursamsa dan Veddriq Leonardo yang berhasil menembus perempat final atau delapan besar. Pencapaian ini menunjukkan potensi, namun keduanya gagal melaju ke babak semifinal, mengindikasikan perlunya peningkatan performa lebih lanjut di kategori putra untuk mencapai podium.
Sumber: AntaraNews