Atlet panjat tebing muda Indonesia, Putra Tri Ramadani, yang akrab disapa Srondeng, menunjukkan performa gemilang di ajang World Climbing Series Wujiang 2026. Meskipun gagal melaju ke babak final, perjuangannya di nomor lead putra mendapatkan apresiasi tinggi dari tim pelatih. Penampilan Srondeng dinilai telah memberikan harapan besar bagi masa depan panjat tebing Indonesia di kancah internasional.
Asisten pelatih tim panjat tebing disiplin lead dan boulder Indonesia, Sholikhin, menyatakan bahwa Srondeng telah berjuang maksimal dalam kompetisi yang berlangsung di Wujiang. Ia berhasil menunjukkan perkembangan positif sejak babak kualifikasi, bersaing ketat dengan pemanjat elite dunia. Namun, ia harus menghentikan langkahnya di semifinal pada hari Sabtu.
Kegagalan ini bukan karena penampilan buruk, melainkan faktor kecil yang memengaruhi hasil akhir saat menghadapi rute dengan tingkat kesulitan tinggi. Pengalaman di Wujiang diharapkan menjadi bekal berharga bagi Srondeng untuk turnamen selanjutnya.
Advertisement
Advertisement
Apresiasi Pelatih untuk Perjuangan Srondeng
Sholikhin, asisten pelatih, memberikan apresiasi tinggi terhadap penampilan Srondeng di World Climbing Series Wujiang 2026. Menurutnya, Srondeng memanjat dengan rileks dan enjoy selama semifinal. Namun, saat memasuki bagian krusial, ia sedikit panik dan pegangannya kurang pas, menyebabkan ia terjatuh.
Penampilan keseluruhan Srondeng patut diacungi jempol karena ia mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya. Ia bersaing dengan para pemanjat elite dunia dan membuktikan potensinya. Kegagalan menembus final dianggap bukan karena performa yang buruk.
Faktor kecil yang memengaruhi hasil akhir ketika menghadapi rute dengan tingkat kesulitan lebih tinggi menjadi penentu. Sholikhin menegaskan bahwa Srondeng sudah berusaha semaksimal mungkin, namun belum rezekinya untuk menjadi finalis di World Cup Wujiang ini.
Advertisement
Advertisement
Evaluasi dan Harapan untuk Masa Depan
Hasil di Wujiang menjadi modal penting untuk evaluasi tim pelatih dan Srondeng sendiri. Ini akan digunakan untuk menghadapi seri berikutnya dengan lebih baik. Diharapkan Srondeng dapat tampil lebih tenang pada momen-momen menentukan di kompetisi mendatang.
Pengalaman berharga di Wujiang diharapkan dapat memompa kepercayaan diri Srondeng. Tujuannya adalah untuk meraih hasil yang lebih baik pada turnamen internasional selanjutnya. Ini menunjukkan komitmen untuk terus mengembangkan potensi atlet muda Indonesia.
Srondeng sebelumnya menempati peringkat keempat di babak kualifikasi pada Jumat (8/5). Namun, langkahnya terhenti di semifinal setelah hanya menempati peringkat sembilan dari 24 peserta. Ia membukukan skor 36+, setara dengan pemanjat Jepang Neo Suzuki, namun kalah dalam tiebreaker kualifikasi.
Advertisement
Advertisement
Perwakilan Indonesia di World Climbing Series Wujiang
Kegagalan Srondeng membuat Indonesia tanpa wakil di final nomor lead putra maupun putri Seri Wujiang. Atlet putra lainnya, Raviandi Ramadan, serta dua pemanjat putri, Sukma Lintang Cahyani dan Alma Ariella Tsany, tidak mampu melewati babak kualifikasi.
Meskipun demikian, Indonesia masih memiliki harapan di nomor speed. Babak kualifikasi hingga final nomor speed dijadwalkan akan digelar pada Minggu (10/5). Tim Indonesia akan berjuang keras untuk meraih hasil terbaik.
Untuk sektor putra, Indonesia diwakili oleh Veddrriq Leonardo, Kiromal Katibin, Antasyafi Robby Al Hilmi, Aditya Tri Syahria, dan Raharjati Nursamsa. Sementara itu, di sektor putri, ada Desak Made Rita, Kadek Adi Asih, Rajiah Salsabillah, dan Berthdigna Devi yang siap bertanding.
Advertisement
Sumber: AntaraNews