Ejekan Mirip Perempuan Berujung Maut Siswa SMP Grobogan
Ejekan dari pelaku menyebabkan dua perkelahian antara korban dan temannya.
Kepolisian telah menetapkan dua orang sebagai tersangka dalam kasus perundungan yang melibatkan Angga Bagas Perwira (12), seorang siswa dari SMPN 1 Geyer, yang terletak di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Karena kedua tersangka masih di bawah umur, mereka tidak ditahan.
Menurut informasi dari Liputan6.com, kronologi kematian ABP (12) yang merupakan murid kelas VII di SMPN 1 Geyer dimulai ketika korban dan teman-temannya melaksanakan kerja bakti di sekolah pada hari Sabtu (11/10) sekitar pukul 07.00 Wib.
Saat itu, para murid laki-laki bekerja di luar kelas, sedangkan murid perempuan berada di dalam kelas. Selama kerja bakti, korban diejek oleh salah satu temannya yang diduga sebagai pelaku, yang menyatakan bahwa korban mirip dengan murid perempuan lainnya. Pelaku kemudian memaksa korban untuk masuk ke dalam kelas dan bergabung dengan murid-murid perempuan.
Ejekan tersebut memicu terjadinya perkelahian antara korban dan pelaku, namun masalah tersebut dapat dilerai dan dianggap selesai. Namun, sekitar pukul 11.30 Wib, setelah jam istirahat, korban kembali terlibat dalam perkelahian dengan siswa lainnya.
Dalam perkelahian kedua ini, korban diduga didorong dan dipukul hingga jatuh, yang menyebabkan kepala korban terbentur ke lantai. Setelah terjatuh, korban mengalami kejang-kejang dan segera dibawa ke ruang UKS.
Namun, setibanya di UKS, korban sudah tidak bernapas. Dalam keadaan panik, beberapa guru di SMPN 1 Geyer membawa korban ke Puskesmas Geyer, tetapi setelah dilakukan pemeriksaan oleh tim medis, korban dinyatakan telah meninggal dunia.
Korban Tidak Terima Diejek
Kapolres Grobogan, AKBP Ike Yulianto Wicaksono, mengonfirmasi kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa perundungan yang terjadi berujung pada kematian korban. Peristiwa ini bermula dari ejekan yang dilontarkan oleh para pelaku kepada korban, yang kemudian memicu terjadinya perkelahian.
Akibat dari perkelahian itu, korban mengalami luka di bagian kepala dan akhirnya meninggal dunia di dalam kelas. "Motif terjadinya perkelahian itu berawal dari pelaku mengejek korban dan korban tidak terima," ujar Ike kepada wartawan.
Dinas Pendidikan Grobogan Mohon Maaf
Dinas Pendidikan (Disdik) Grobogan telah mengirimkan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) untuk melakukan penyelidikan menyeluruh di sekolah yang terlibat. Kepala Dinas Pendidikan Grobogan, Purnyomo, menyatakan bahwa insiden perundungan ini harus menjadi peringatan serius bagi semua sekolah untuk meningkatkan pengawasan dan menciptakan lingkungan belajar yang aman serta bebas dari kekerasan.
"Kami mohon maaf sebesar-besarnya dan turut berdukacita, semoga ini menjadi yang pertama dan terakhir," ungkap Purnyomo.
Ia juga menambahkan bahwa pihaknya telah menyerahkan penyelidikan kasus ini kepada kepolisian dan memastikan telah mengkaji secara menyeluruh permasalahan tersebut. Selain itu, mereka juga memberikan pendampingan kepada anak-anak yang terlibat dalam kasus hukum ini.
Purnyomo menyesalkan terjadinya peristiwa ini di lingkungan sekolah, yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman, serta berfungsi sebagai rumah kedua bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang.
"Kami sesalkan hal ini terjadi di sekolah, seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman serta rumah kedua bagi anak-anak untuk belajar dan tumbuh," tutup Purnyomo.