Disperpusip Jatim dan BPBD Perkuat Literasi Kebencanaan Melalui Dongeng Interaktif
Disperpusip Jatim berkolaborasi dengan BPBD setempat melatih staf dalam mendongeng dan membaca nyaring untuk memperkuat Literasi Kebencanaan, khususnya bagi anak-anak terdampak bencana.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Jawa Timur berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dalam upaya penguatan layanan literasi. Kolaborasi ini diwujudkan melalui pelatihan mendongeng dan membaca nyaring (read aloud) yang ditujukan bagi staf BPBD Jatim. Pelatihan ini merupakan bagian integral dari strategi untuk meningkatkan literasi kebencanaan di kalangan masyarakat, khususnya bagi mereka yang terdampak bencana.
Kegiatan pelatihan ini berlangsung di Kantor BPBD Jatim, Waru, Sidoarjo, pada hari Selasa, 3 Februari. Kepala Disperpusip Jatim, Tiat S. Suwardi, menegaskan bahwa sinergi antarinstansi ini bertujuan membangun layanan publik yang holistik melalui pendekatan literasi. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang baik dan benar kepada masyarakat mengenai penanganan bencana.
Fokus utama pelatihan adalah membekali staf BPBD dengan metode efektif untuk menyampaikan pesan-pesan kebencanaan. Terutama bagi pengungsi dan anak-anak di masa tanggap darurat bencana, pendekatan ini sangat relevan. Dengan demikian, layanan literasi kebencanaan dapat menjangkau lebih banyak kalangan dengan cara yang mudah diterima dan komprehensif.
Mendongeng sebagai Metode Efektif Edukasi Literasi Kebencanaan
Tiat S. Suwardi menjelaskan bahwa mendongeng dan read aloud menjadi metode yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan kebencanaan secara sederhana. Metode ini mudah dipahami, terutama oleh anak-anak, karena menggabungkan unsur imajinasi dan pesan moral. Pendekatan ini dinilai mampu menanamkan pemahaman sejak pra bencana, saat kejadian, hingga pascabencana.
“Cara ini sangat ampuh untuk memberikan pemahaman dasar mengenai bahaya bencana dan langkah penanganannya, sekaligus menjaga ketenangan anak-anak di lokasi pengungsian,” ujar Tiat. Melalui tokoh-tokoh sederhana seperti hewan atau anak-anak cerdas, pesan siaga bencana dapat tersampaikan dengan lebih menarik. Dongeng juga terbukti mampu menjaga ketenangan anak-anak di tengah situasi darurat.
Seorang pendongeng, Kartikanita Widyasari atau akrab disapa Kak Ninit, juga turut serta dalam pelatihan ini. Kak Ninit menyampaikan bahwa dongeng dapat menjadi pintu awal untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku. Ia juga memberikan workshop membaca nyaring kepada peserta pelatihan, menekankan pentingnya pengenalan buku sejak dini sebagai tanggung jawab bersama.
Dongeng dan Membaca Nyaring: Menumbuhkan Minat Baca dan Kesiapsiagaan
Metode mendongeng dan read aloud tidak hanya efektif untuk edukasi literasi kebencanaan, tetapi juga terbukti mampu menumbuhkan minat baca sejak usia dini. Baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas, pendekatan ini dapat mendorong kebiasaan membaca. Tiat S. Suwardi menambahkan bahwa inisiatif ini sangat mendukung pengembangan budaya literasi secara keseluruhan.
Kak Ninit menegaskan, “Reading is our business. Membaca adalah urusan kita semua. Dongeng dan read aloud bisa menjadi pijakan agar anak-anak keranjingan membaca.” Pernyataan ini menggarisbawahi peran penting mendongeng dalam membentuk fondasi membaca anak. Pengenalan buku sejak dini menjadi krusial untuk perkembangan kognitif dan emosional mereka.
Dalam sesi praktik, Kak Ninit membawakan dongeng berjudul "Awas, Banjir Datang" yang disiarkan secara daring melalui program Dongeng Online (Dolen) di akun Instagram Disperpusip Jatim. Kegiatan ini diikuti oleh 87 siswa TK Terpadu Baiturrahman, Sidoarjo, menunjukkan jangkauan luas dari metode edukasi ini. Inisiatif seperti ini sangat membantu menyebarkan informasi penting dengan cara yang menyenangkan.
Disperpusip Jatim juga mengapresiasi BPBD Jatim yang meraih juara pertama lomba pojok baca. Lomba ini diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Jawa Timur, menandakan komitmen BPBD terhadap literasi. Prestasi ini semakin memperkuat sinergi dalam menghadirkan pendekatan pelayanan yang lebih komprehensif, khususnya bagi pengungsi.
Sumber: AntaraNews