Dinkes Aceh Intensifkan Pencegahan DBD Aceh di Lokasi Pengungsian Pascabanjir
Dinas Kesehatan Aceh Utara dan Puskesmas Lapang gencar melakukan upaya Pencegahan DBD Aceh di pos-pos pengungsian pascabanjir untuk melindungi warga dari ancaman demam berdarah dan malaria.
Dinas Kesehatan Provinsi Aceh bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara dan Puskesmas Lapang bergerak cepat mengendalikan vektor nyamuk di pos-pos pengungsian. Pada Minggu (25/1), langkah ini diambil di Desa Kuala Cangkoi, Aceh Utara, guna melindungi ribuan warga dari potensi peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) dan malaria pascabanjir.
Kegiatan ini merupakan bagian integral dari upaya tanggap darurat pascabanjir yang melanda wilayah tersebut, terutama di 11 desa yang terdampak. Tiga desa, yaitu Kuala Cangkoi, Matang Baro, dan Kuala Keretou, mengalami dampak paling parah dengan sejumlah rumah warga yang hanyut terbawa arus banjir.
Kepala Puskesmas Lapang, Mastuti, menjelaskan bahwa timnya melakukan pemeriksaan jentik nyamuk secara menyeluruh. Selain itu, mereka memberikan bubuk abate dan edukasi mengenai pentingnya penerapan 3M Plus kepada masyarakat di area pengungsian.
Strategi Pengendalian Vektor Nyamuk di Pengungsian
Tim kesehatan menyusuri setiap pos pengungsian yang tersebar di wilayah pesisir Aceh Utara, fokus pada pemeriksaan langsung tempat penampungan air. Mereka memeriksa wadah yang tidak tertutup, kubangan air di sekitar tenda pengungsian, serta fasilitas MCK darurat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Edukasi pencegahan DBD Aceh juga menjadi prioritas utama dalam kegiatan ini, disampaikan langsung kepada warga pengungsian. Penggunaan bahasa daerah dalam penyampaian informasi bertujuan agar pesan-pesan penting terkait pencegahan DBD lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ketua Tim Pengendali Vektor Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Muhammad Jamil, menjelaskan detail pemberian bubuk abate. Bubuk tersebut difokuskan pada penampungan air di luar rumah atau penampungan air dalam rumah yang tidak digunakan untuk air minum.
Apabila jentik ditemukan pada tempat penampungan air minum, air akan dipindahkan. Selanjutnya, tempat penampungan air tersebut akan disikat dan dibersihkan secara menyeluruh untuk menghilangkan telur nyamuk yang mungkin menempel.
Belum Ada Peningkatan Kasus dan Imbauan Berkelanjutan
Muhammad Jamil menegaskan bahwa hingga saat ini belum terjadi peningkatan signifikan kasus DBD dan malaria pascabanjir di Aceh Utara. Fakta ini didukung oleh status Kabupaten Aceh Utara yang telah mencapai eliminasi malaria sejak tahun 2020.
Meskipun demikian, Jamil mengimbau masyarakat untuk tidak lengah dan terus menerapkan praktik 3M Plus secara konsisten. Praktik ini meliputi menutup rapat tempat penampungan air, menguras bak mandi secara rutin, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
Langkah tambahan lain juga ditekankan untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk, seperti menaburkan larvasida di tempat-tempat yang sulit dijangkau. Kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat sangat krusial dalam menjaga lingkungan tetap bersih dan bebas dari sarang nyamuk.
Efendi (50), salah seorang warga pengungsian, menyambut baik inisiatif pemeriksaan jentik yang dilakukan oleh tim kesehatan. Ia juga mengonfirmasi bahwa hingga kini belum ada kasus DBD maupun malaria yang terdeteksi di lokasi pengungsian, menunjukkan efektivitas upaya pencegahan yang telah dilakukan.
Sumber: AntaraNews