Pengasapan Kemenkes Aceh Tamiang Gencarkan Pencegahan Penyakit Menular Pasca-Bencana

Kemenkes melalui relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) gencar melakukan pengasapan di hunian sementara Aceh Tamiang guna mencegah penyebaran penyakit menular pasca-bencana banjir dan longsor, melindungi kesehatan para pengungsi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pengasapan Kemenkes Aceh Tamiang Gencarkan Pencegahan Penyakit Menular Pasca-Bencana
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) gencar melakukan pengasapan hunian sementara di Aceh Tamiang guna mencegah penyakit menular pasca-banjir dan longsor. Simak langkah antisipasi selengkapnya! (AntaraNews)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengerahkan relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) untuk melakukan pengasapan di hunian sementara (huntara) Kabupaten Aceh Tamiang. Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan penyakit menular di kalangan pengungsi korban banjir dan longsor yang terjadi akhir November 2025. Inisiatif kesehatan ini bertujuan melindungi masyarakat rentan dari risiko kesehatan pasca-bencana.

Pengasapan atau fogging serta penyemprotan insektisida lalat menjadi fokus utama kegiatan ini. Tujuannya adalah mengendalikan populasi vektor penyakit seperti nyamuk demam berdarah atau dengue dan lalat penyebab diare. Lingkungan pasca-bencana sangat rentan terhadap penyebaran penyakit menular.

Lucky Aris Suryono, Tenaga Sanitasi Lingkungan Kemenkes, menjelaskan bahwa tindakan ini krusial. Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi komprehensif Kemenkes dalam menjaga kesehatan masyarakat di daerah terdampak bencana. Upaya ini diharapkan dapat meminimalisir dampak kesehatan buruk.

Relawan TCK Kemenkes secara aktif melakukan pengasapan di area hunian sementara Aceh Tamiang. Pengasapan ini ditujukan untuk membasmi nyamuk penyebab demam berdarah. Langkah ini penting mengingat kondisi lingkungan pasca-bencana yang seringkali menjadi sarang nyamuk.

Selain fogging, penyemprotan larvasida juga dilakukan untuk mengantisipasi lalat hijau di tumpukan sampah. Lalat-lalat ini berpotensi menyebarkan berbagai penyakit, termasuk diare, terutama di sekitar tumpukan sampah. Pengendalian lalat menjadi prioritas untuk menjaga sanitasi lingkungan.

Lucky Aris Suryono menyampaikan bahwa pengasapan dapat dilakukan secara berkala menyesuaikan faktor risiko yang ada. Secara berkala, pengasapan dilakukan per tiga bulan. Survei jentik juga rutin dilakukan oleh kader kesehatan di setiap rumah pengungsi untuk mengantisipasi jentik nyamuk demam berdarah.

Kemenkes tidak hanya berfokus pada tindakan kuratif, tetapi juga preventif melalui edukasi. Relawan TCK memberikan penyuluhan kepada para pengungsi mengenai pentingnya kebersihan lingkungan. Edukasi ini bertujuan agar pengungsi dapat mandiri dalam mencegah penyakit menular dari lingkungan sekitar.

Salah satu poin penting edukasi adalah pengelolaan sampah yang benar. Pengungsi diimbau menggunakan plastik sampah tertutup dan menghindari genangan air. Genangan air di plastik atau wadah lain dapat menjadi tempat perlindungan nyamuk.

Oleh karena itu, Lucky Aris Suryono menekankan bahwa pengelolaan sampah menjadi perhatian utama. Kebersihan sanitasi dan ketersediaan air juga harus dijaga sesuai standar. Hal ini vital untuk mencegah timbulnya penyakit yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak sehat.

Aspek keamanan pangan di dapur umum pengungsian juga menjadi perhatian serius Kemenkes. Relawan memastikan bahwa standar keamanan pangan yang disyaratkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kemenkes terpenuhi. Ini untuk mencegah keracunan makanan atau penyakit bawaan makanan.

Lima kunci keamanan pangan menjadi pedoman utama yang harus diterapkan. Pedoman ini mencakup kebersihan, pemisahan makanan mentah dan matang, memasak dengan benar, menjaga makanan pada suhu aman, serta menggunakan air dan bahan baku yang aman. Penerapan ini sangat krusial di kondisi darurat.

Pengelolaan limbah, baik itu sampah domestik atau sampah-sampah medis rumah sakit, juga harus dilakukan dengan cermat. Kemenkes memastikan limbah dikelola dengan baik agar tidak menjadi faktor risiko kesehatan lebih lanjut. Pengelolaan limbah yang buruk dapat memperburuk kondisi sanitasi dan menyebarkan penyakit.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi