Cegah Wabah Virus Hanta, Ketua DPR Tekankan Deteksi Dini dan Edukasi Masyarakat
Puan mendesak Kementerian Kesehatan segera memperkuat fasilitas kesehatan primer untuk menyediakan alat diagnosis.
Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti temuan delapan kasus virus Hanta tipe HFRS di sejumlah daerah seperti Yogyakarta, Jawa Barat, NTT, dan Sulawesi Utara. Ia menilai temuan ini menunjukkan kurangnya kesiapan negara menghadapi ancaman penyakit zoonosis yang berpindah dari hewan ke manusia.
"Virus Hanta mungkin belum menyebar masif, maka itu kita harus bertindak cepat. Bukan hanya respons darurat, tapi harus membangun kemampuan deteksi dini dan respons medis yang efektif di tingkat desa, tempat yang paling rentan penyebaran penyakit," ujar Puan, Rabu (2/7/2025).
Puan mendesak Kementerian Kesehatan segera memperkuat fasilitas kesehatan primer, menyediakan alat diagnosis cepat di Puskesmas, dan melatih tenaga medis hingga tingkat daerah untuk mengenali gejala virus Hanta serta penyakit menular serupa.
"Dimulai dari daerah yang padat permukiman, dekat pasar tradisional, dan zona pertanian," ujar Puan.
Ia pun mendorong pendekatan lintas sektor dalam pencegahan penyakit, termasuk pengendalian tikus berbasis komunitas. "Tentunya ini memerlukan kerjasama antara Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Pertanian," tegasnya.
Selain itu, Puan menekankan pentingnya pengelolaan sampah, kebersihan pasar, dan sanitasi lingkungan sebagai bagian dari kebijakan pencegahan yang terintegrasi. Ia menilai, kedekatan habitat manusia dan hewan pengerat jadi pemicu utama muncul virus.
"Kita butuh respons lintas sektor dengan target terukur, misal turunnya populasi tikus dan peningkatan indikator sanitasi," katanya.
Puan menilai, virus Hanta kerap terabaikan padahal dapat menimbulkan penyakit serius seperti rabies, leptospirosis, flu burung, brucellosis toksoplasmosis, dan cacar monyet. Ia pun mendorong Pemerintah meningkatkan edukasi masyarakat soal bahaya zoonosis.
"Edukasi harus menyentuh ke pasar, lahan pertanian, dan kampung-kampung. Jangan sampai masyarakat menganggap gejala yang biasa," tuturnya.
"Virus Hanta tak bisa ditangani dengan pendekatan pasif. Negara harus hadir melalui sistem medis yang konkret, edukasi publik yang tepat sasaran, dan tata kelola lingkungan yang mendukung pencegahan agar tidak jadi wabah," pungkas Puan.
Diketahui, delapan kasus virus Hanta tercatat di Indonesia periode 15–21 Juni 2025, dengan penularan berasal dari paparan tikus yang terinfeksi. Sebaran kasus ditemukan di beberapa daerah; 4 di Yogyakarta, 2 di Jawa Barat, 1 di NTT dan 1 lainnya di Sulawesi Utara.