Bukan Sekadar Pertukaran, Program Ini Satukan Pemimpin Muda RI dan Singapura
Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kohesi sosial dan hubungan antarmasyarakat kedua negara di tengah tantangan keberagaman.
Sebanyak 30 pemimpin muda dari Indonesia dan Singapura mengikuti program pertukaran kepemimpinan Bilateral Relations and Intercultural Dialogue for Growth and Empowerment (Bridge) yang berlangsung di Singapura pada 12–16 Januari 2026.
Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kohesi sosial dan hubungan antarmasyarakat kedua negara di tengah tantangan keberagaman.
Program Bridge diselenggarakan oleh Singapore International Foundation (SIF) dan mempertemukan 16 pemimpin muda asal Singapura serta 14 pemimpin muda dari Indonesia. Para peserta berasal dari beragam latar belakang, mulai dari organisasi masyarakat sipil, pendidikan, hingga pengembangan komunitas, dengan fokus pada isu inklusi dan persatuan sosial.
Mengusung tema “Fostering Social Cohesion in a Multicultural Society”, Bridge dirancang sebagai program pembelajaran imersif. Peserta mengikuti diskusi panel, lokakarya penguatan kapasitas, serta kunjungan lapangan yang memperkenalkan praktik pengelolaan keberagaman di Singapura.
Sejumlah agenda lapangan dijalani peserta, di antaranya tur sosial di kawasan Selegie–Prinsep yang dipandu social impact hub The Foundry, kunjungan ke kawasan perumahan publik Toa Payoh, hingga kunjungan ke Harmony in Diversity Gallery yang menampilkan pendekatan Singapura dalam membangun keharmonisan antarumat beragama.
Peserta juga mengikuti lokakarya penceritaan inklusif yang difasilitasi The Black Sampan, dengan fokus pada peran cerita, budaya, dan makanan sebagai sarana dialog lintas identitas.
Selain itu, peserta terlibat dalam diskusi panel yang membahas peran generasi muda dalam memperkuat kohesi sosial serta membangun kepemimpinan yang inklusif. Diskusi tersebut membuka ruang pertukaran pandangan mengenai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat Indonesia dan Singapura.
Salah satu peserta asal Singapura, Amalina Binte Abdul Nasir, Wakil Presiden Mendaki Club, menyebut pengalaman berdialog langsung dengan peserta Indonesia membantunya memahami pentingnya empati dalam membangun kepercayaan lintas perbedaan.
Sementara itu, peserta asal Indonesia Budy Sugandi menilai Bridge bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang refleksi bersama untuk membangun koneksi nyata antarkomunitas.
“Ini bukan sekadar dialog, tetapi membangun koneksi nyata dan mencari cara untuk bersama-sama menciptakan komunitas yang inklusif,” ujar Budy, Direktur Buperta Pramuka.
Pentingnya Peran Pemimpin Muda
Jamuan pembukaan program turut dihadiri oleh Chargé d’Affaires KBRI Singapura, Thomas Ardian Siregar, yang menegaskan pentingnya peran pemimpin muda dalam memperkuat kohesi sosial dan hubungan bilateral kedua negara.
Chief Executive Officer SIF, Corinna Chan, mengatakan keberagaman yang semakin kompleks di kawasan ASEAN menuntut peran aktif generasi muda dalam menjembatani perbedaan.
“Bridge bukan sekadar program pertukaran, tetapi katalis kolaborasi yang mempertemukan pemimpin muda Indonesia dan Singapura untuk berbagi gagasan, menantang perspektif, serta bersama-sama merumuskan solusi guna memperkuat fondasi kohesi sosial,” ujar Corinna Chan dalam keterangannya, Kamis (22/1).
Ia menambahkan, jejaring yang terbangun melalui BRIDGE diharapkan mampu melahirkan aksi nyata di komunitas masing-masing demi menciptakan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.