BPBD Padang: Normalisasi Sungai Kunci Utama Cegah Banjir Berulang
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang menegaskan normalisasi sungai adalah solusi krusial untuk mencegah banjir berulang dan dampak buruk lainnya di wilayah tersebut.
Kota Padang, Sumatera Barat, kembali dihadapkan pada tantangan serius terkait bencana banjir. Kejadian banjir bandang atau galodo pada akhir November 2025 telah meninggalkan dampak signifikan, termasuk terputusnya akses vital di beberapa wilayah. Akibatnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang menyoroti perlunya langkah mitigasi jangka panjang.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, pada Jumat (2/1) menegaskan bahwa normalisasi sungai menjadi kunci utama. Upaya ini sangat penting untuk memitigasi potensi luapan debit air sungai yang kerap memicu banjir berulang di ibu kota provinsi tersebut. Tanpa tindakan konkret, kondisi serupa dikhawatirkan akan terus terjadi.
Pernyataan ini muncul menyusul terputusnya akses jalan utama di daerah Batu Busuak, Kecamatan Pauh, sepanjang 15 meter. Kerusakan parah tersebut diakibatkan oleh terjangan arus sungai Batang Kuranji yang meluap, menunjukkan urgensi penanganan kondisi sungai secara menyeluruh.
Urgensi Normalisasi Sungai Pasca-Banjir Bandang
Banjir bandang yang melanda Kota Padang pada akhir November 2025 telah menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Salah satu dampak paling terasa adalah terputusnya akses utama di Batu Busuak, Kecamatan Pauh, yang kini tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Kondisi ini secara langsung mengganggu aktivitas warga dan perekonomian lokal.
Hendri Zulviton dari BPBD Kota Padang menekankan bahwa pengerukan sedimen sungai adalah langkah krusial pasca-bencana. Meskipun sejumlah alat berat telah dikerahkan, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengatasi kerusakan aliran sungai yang terjadi. Pendangkalan dan pelebaran sungai menjadi masalah utama yang memperparah kondisi.
Sungai Batang Kuranji, khususnya di sekitar Batu Busuak, telah mengalami pendangkalan parah dan melebarkan alirannya ke sisi kanan maupun kiri hingga menyebabkan akses utama roda dua dan empat putus total. Fenomena ini tidak hanya mempercepat erosi tetapi juga menyebabkan tergerusnya daratan di sekitarnya. Oleh karena itu, normalisasi sungai menjadi sangat mendesak guna mencegah kerugian yang lebih besar di masa depan.
Solusi Jangka Panjang: Pengerukan Sedimen dan Cekdam
Untuk mengatasi masalah banjir berulang dan kerusakan sungai, BPBD Kota Padang mengusulkan solusi konkret. "Yang kita butuhkan adalah alat berat untuk menormalisasi sungai. Jika tidak, maka kondisinya akan seperti ini terus," kata Hendri Zulviton. Pengerukan sedimen secara masif menjadi prioritas utama untuk mengembalikan kapasitas aliran sungai.
Selain pengerukan sedimen, pembuatan cekdam juga dinilai sangat vital. Cekdam berfungsi untuk menahan laju air dan sedimen, sehingga dapat mengurangi risiko banjir bandang serta erosi. Kombinasi kedua upaya ini diharapkan mampu mengelola debit air sungai dengan lebih baik, terutama saat musim hujan tiba.
Kondisi sungai yang mendangkal dan melebar saat ini membutuhkan intervensi cepat dan terkoordinasi. Hendri Zulviton menegaskan bahwa pengerukan dan pembuatan cekdam tergolong mendesak dan vital. "Jadi, kita harus mengeruk sedimen sungai kemudian membuat cekdam. Jika tidak maka kondisinya akan berlarut-larut seperti ini," ujarnya, menyoroti pentingnya tindakan segera.
Mendatangkan alat berat dalam jumlah yang mencukupi menjadi kunci keberhasilan program normalisasi sungai ini. Dengan sumber daya yang memadai, diharapkan proses perbaikan dan mitigasi dapat berjalan efektif. Hal ini akan membantu mengembalikan fungsi sungai sebagai jalur aliran air yang aman dan mencegah terulangnya bencana di Kota Padang.
Beberapa poin penting terkait kondisi dan kebutuhan normalisasi sungai di Kota Padang:
- Akses utama di Batu Busuak, Kecamatan Pauh, terputus sepanjang 15 meter akibat terjangan arus sungai Batang Kuranji.
- Sungai di Batu Busuak mengalami pendangkalan dan pelebaran signifikan, mengancam infrastruktur sekitar.
- Pengerukan sedimen sungai dinilai krusial pascabanjir bandang atau galodo akhir November 2025.
- Dibutuhkan alat berat dalam jumlah banyak untuk menormalisasi sungai dan membuat cekdam.
- Normalisasi sungai mendesak untuk mencegah kerugian atau dampak terburuk di kemudian hari.
Sumber: AntaraNews