BPBD Ciamis Asesmen 12 Lokasi Longsor, Waspada Bencana Hidrometeorologi
BPBD Ciamis melakukan asesmen terhadap 12 lokasi longsor di wilayahnya pasca hujan deras, memastikan mitigasi dampak dan mobilisasi tetap aman.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menurunkan tim untuk melakukan asesmen terhadap 12 lokasi yang dilanda bencana tanah longsor. Langkah ini diambil setelah curah hujan tinggi mengguyur wilayah tersebut pada Jumat (7/11). Tujuannya adalah untuk mencegah dampak bahaya serta memastikan mobilisasi masyarakat tidak terganggu.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ciamis, Ani Supiani, mengonfirmasi laporan rekap kejadian ini melalui sambungan telepon pada Sabtu (8/11). Ia menyatakan bahwa tim sedang bekerja keras di lapangan untuk mengidentifikasi kerusakan. Laporan sementara menunjukkan adanya kerusakan infrastruktur dan bangunan rumah warga.
Meskipun bencana ini menyebabkan kerugian materiil, beruntung tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. BPBD Ciamis terus melakukan penghitungan cepat terkait kerugian yang ditimbulkan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada mengingat saat ini telah memasuki musim penghujan.
Dampak dan Sebaran Longsor di Berbagai Wilayah Ciamis
Serangkaian bencana tanah longsor melanda Kabupaten Ciamis setelah hujan deras yang berlangsung lama pada Jumat (7/11). BPBD Ciamis mencatat total 12 titik longsor yang tersebar di beberapa kecamatan. Kejadian ini menimbulkan kerusakan signifikan pada infrastruktur dan properti warga.
Beberapa lokasi longsor secara langsung menimpa badan jalan, seperti di Dusun Cidarma, Desa Sandingtaman, Kecamatan Panjalu. Longsor juga terjadi di jalan nasional Buniseuri, Kecamatan Cipaku, serta bahu jalan kabupaten di Desa Pusakasari, Kecamatan Cipaku. Kondisi ini tentunya mengganggu kelancaran lalu lintas dan aksesibilitas.
Selain jalan, dampak longsor juga dirasakan oleh warga di Desa Bahara, Kecamatan Panjalu, yang pekarangan rumahnya tertimpa longsor. Di Lumbungsari, Kecamatan Lumbung, longsor menimpa kandang ayam dan kolam ikan, menyebabkan kerugian bagi peternak. Tanah tebing dan irigasi di Desa Muktisari, Kecamatan Cipaku, juga mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah.
Titik-titik longsor lainnya tersebar di Desa Payungagung Kecamatan Panumbangan, Desa Kertayasa Kecamatan Panawangan, dan Desa Bendasari Kecamatan Sadanananya. Kemudian, longsor juga dilaporkan di Desa Sindangsari Kecamatan Kawali, Desa Mekarwangi Kecamatan Sukamantri, dan Desa Bayasari Kecamatan Jatinagara. Sebaran luas ini menunjukkan kerentanan wilayah Ciamis terhadap bencana longsor.
Respons Cepat BPBD Ciamis dan Status Siaga Bencana Hidrometeorologi
Menanggapi laporan bencana, BPBD Ciamis segera menurunkan timnya untuk melakukan asesmen menyeluruh di 12 lokasi terdampak. Proses asesmen ini krusial untuk mengevaluasi tingkat kerusakan dan menentukan tindakan mitigasi yang diperlukan. Ani Supiani menegaskan bahwa prioritas utama adalah keselamatan warga.
Ani Supiani menyatakan bahwa beruntung tidak ada korban jiwa dalam serangkaian kejadian longsor ini. "Tidak ada korban jiwa, kalau materi masih dalam penghitungan kaji cepat," katanya. Pihaknya terus mengumpulkan data kerugian materiil untuk membantu proses pemulihan.
Mengingat saat ini sudah memasuki musim penghujan, potensi bencana alam seperti tanah longsor perlu diwaspadai secara serius. Bupati Ciamis telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi yang berlaku hingga 30 April 2026. Ini merupakan langkah antisipatif untuk menginstruksikan semua jajaran pemerintah daerah dan masyarakat agar selalu siaga.
Status siaga darurat ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan respons cepat terhadap potensi bencana. Koordinasi antarinstansi serta partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan dalam menghadapi musim penghujan. BPBD Ciamis terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi lapangan untuk memberikan informasi terkini.
Sumber: AntaraNews