BMKG: Lima Kali Gempa Bumi Guncang Sultra Akibat Sesar Aktif
Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) diguncang lima kali Gempa Bumi Sultra pada Jumat, dua di antaranya dirasakan masyarakat, akibat aktivitas sesar aktif, menurut BMKG Kendari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kendari melaporkan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) diguncang lima kali gempa bumi pada Jumat, 13 Maret 2026, yang disebabkan oleh aktivitas sesar aktif. Dari total kejadian tersebut, dua gempa dilaporkan dapat dirasakan oleh masyarakat di beberapa daerah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BMKG Wilayah IV, Nasrol Adil, menjelaskan bahwa gempa yang dirasakan terjadi di Kabupaten Kolaka Timur dan Kabupaten Buton. Masing-masing memiliki magnitudo 3,2 dan menimbulkan guncangan yang nyata.
Peristiwa Gempa Bumi Sultra ini menjadi perhatian karena menunjukkan adanya aktivitas seismik yang signifikan di wilayah tersebut. Analisis BMKG memberikan rincian lokasi dan kedalaman gempa yang terjadi.
Rincian Gempa Kolaka Timur dan Dampaknya
Gempa pertama yang dirasakan terjadi di Kabupaten Kolaka Timur dengan magnitudo 3,2 pada pukul 07.48 Wita. Episenter gempa ini terletak pada koordinat 4,07 Lintang Selatan (LS) dan 121,85 Bujur Timur (BT).
Lokasi tepatnya berada di darat, sekitar 8 kilometer selatan Kolaka Timur, dengan kedalaman 4 kilometer. Kedalaman yang dangkal ini seringkali berkorelasi dengan guncangan yang lebih terasa di permukaan.
Berdasarkan estimasi peta guncangan (shakemap) dan laporan masyarakat, Gempa Bumi Sultra ini menimbulkan guncangan dengan skala intensitas III MMI di Kolaka Timur. Sementara itu, Kabupaten Kolaka merasakan intensitas II-III MMI.
Nasrol Adil menjelaskan bahwa guncangan III MMI berarti getaran dirasakan nyata dalam rumah, seakan-akan ada truk yang berlalu. Pada siang hari, getaran ini dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, serta beberapa orang di luar rumah.
Guncangan Gempa di Buton Akibat Sesar Aktif
Gempa kedua yang dirasakan masyarakat terjadi di Kabupaten Buton, juga dengan magnitudo 3,2, pada pukul 11.55 Wita. Episenter gempa ini berada pada koordinat 5,66 Lintang Selatan (LS) dan 122,82 Bujur Timur (BT).
Gempa tersebut berlokasi di darat, sekitar 17 kilometer selatan Kabupaten Buton, dengan kedalaman 13 kilometer. Kedalaman ini sedikit lebih dalam dibandingkan gempa Kolaka Timur, namun tetap menghasilkan guncangan yang terasa.
Estimasi peta guncangan dan laporan masyarakat menunjukkan bahwa Gempa Bumi Sultra di Buton ini menyebabkan guncangan di daerah Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, dengan skala intensitas II-III MMI.
Guncangan II-III MMI digambarkan sebagai getaran yang dirasakan oleh beberapa orang, membuat benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Getaran nyata terasa di dalam rumah, seakan-akan ada truk yang berlalu, menurut Nasrol Adil.
Aktivitas Sesar Aktif Pemicu Gempa Bumi Sultra
Selain dua gempa yang dirasakan, BMKG juga mencatat tiga kejadian gempa bumi lain di Sultra pada hari yang sama. Gempa-gempa ini memiliki magnitudo yang lebih kecil dan tidak dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
Ketiga gempa tersebut meliputi gempa magnitudo 1,6 di Konawe Selatan, gempa magnitudo 1,7 di Kolaka Timur, dan gempa magnitudo 1,6 di Kabupaten Kolaka. Meskipun kecil, kejadian ini menunjukkan aktivitas seismik yang berkelanjutan.
Seluruh rangkaian Gempa Bumi Sultra ini dikonfirmasi oleh BMKG sebagai akibat dari aktivitas sesar aktif di wilayah tersebut. Keberadaan sesar aktif ini menjadikan Sultra sebagai daerah yang rentan terhadap kejadian gempa bumi.
Pemantauan terus-menerus oleh BMKG menjadi krusial untuk memberikan informasi dini kepada masyarakat. Ini penting guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa bumi di masa mendatang.
Sumber: AntaraNews