Gempa Kolaka M 2.6 Akibat Sesar Aktif, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami

Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, diguncang Gempa Kolaka berkekuatan magnitudo 2,6 pada Minggu dini hari akibat aktivitas sesar aktif. BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami dan tidak menimbulkan kerusakan, mengimbau masyarakat untuk tetap.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gempa Kolaka M 2.6 Akibat Sesar Aktif, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, diguncang Gempa Kolaka berkekuatan magnitudo 2,6 pada Minggu dini hari akibat aktivitas sesar aktif. BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami dan tidak menimbulkan kerusakan, mengimbau masyarakat untuk tetap. (AntaraNews)

Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 2,6 pada Minggu, 29 Maret 2026, tepat pukul 00.56 WITA. Peristiwa alam ini, meskipun terasa, dipastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami maupun kerusakan signifikan pada bangunan atau infrastruktur di sekitarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melakukan analisis mendalam dan mengidentifikasi gempa Kolaka ini disebabkan oleh aktivitas sesar aktif di wilayah tersebut. Plt Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, menyampaikan rincian parameter terbaru dari gempa tersebut kepada publik.

Episenter gempa terletak pada koordinat 4,01 derajat Lintang Selatan (LS) dan 121,56 derajat Bujur Timur (BT), atau berada di darat sekitar delapan kilometer barat laut Kolaka, dengan kedalaman hiposenter yang sangat dangkal, yakni tiga kilometer. Masyarakat di beberapa kecamatan merasakan getaran, namun belum ada laporan kerusakan hingga saat ini.

Berdasarkan hasil analisis terbaru dari BMKG, gempa bumi yang mengguncang wilayah Kolaka memiliki kekuatan magnitudo 2,6. Gempa ini tercatat memiliki episenter pada koordinat geografis 4,01 derajat Lintang Selatan (LS) dan 121,56 derajat Bujur Timur (BT).

Lokasi episenter yang berada di darat, tepatnya sekitar delapan kilometer barat laut Kolaka, serta kedalaman hiposenter yang hanya tiga kilometer, menjadi indikator penting. Nasrol Adil secara jelas menyatakan bahwa gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal.

Penyebab utama dari guncangan ini adalah aktivitas sesar aktif yang berada di bawah permukaan tanah Kolaka. Aktivitas sesar aktif ini memicu pelepasan energi yang kemudian dirasakan sebagai gempa bumi.

BMKG terus melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas seismik di kawasan tersebut. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi gempa susulan atau perubahan aktivitas sesar yang mungkin terjadi di kemudian hari.

Meskipun gempa Kolaka ini dinyatakan tidak berpotensi menimbulkan tsunami, guncangan yang terjadi cukup dirasakan oleh masyarakat. Khususnya di Kecamatan Latambaga dan Kolaka, warga melaporkan merasakan getaran.

Berdasarkan estimasi peta guncangan (Shakemap) dan laporan dari masyarakat, intensitas gempa dirasakan pada skala II hingga III MMI (Modified Mercalli Intensity). Pada skala ini, getaran terasa nyata di dalam rumah, seringkali diibaratkan seperti ada kendaraan berat yang melintas di dekatnya.

Hingga Minggu pagi, tepatnya pukul 01.30 WITA, hasil pemantauan BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan di wilayah Kolaka. Kondisi ini memberikan sedikit kelegaan bagi warga setempat.

Nasrol Adil mengimbau seluruh masyarakat Kolaka untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Masyarakat diharapkan selalu memverifikasi informasi terkait gempa dari sumber yang kredibel.

BMKG menekankan pentingnya memastikan informasi resmi hanya bersumber dari kanal komunikasi resmi BMKG yang telah terverifikasi. Langkah ini sangat krusial untuk menghindari kepanikan yang tidak perlu dan penyebaran berita palsu di tengah masyarakat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi