BMKG Catat 25 Kali Gempa Bumi Sultra dalam Sepekan, Masyarakat Diimbau Waspada

Aktivitas gempa bumi Sultra meningkat drastis dengan 25 kejadian dalam sepekan terakhir, didominasi magnitudo kecil dan dangkal, namun BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk waspada dan tidak panik.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BMKG Catat 25 Kali Gempa Bumi Sultra dalam Sepekan, Masyarakat Diimbau Waspada
Aktivitas gempa bumi Sultra meningkat drastis dengan 25 kejadian dalam sepekan terakhir, didominasi magnitudo kecil dan dangkal, namun BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk waspada dan tidak panik. (AntaraNews)

Wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) dan sekitarnya diguncang 25 kali gempa bumi selama periode satu pekan terakhir, terhitung mulai 22 hingga 28 Maret 2026. Kejadian ini dicatat secara intensif oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui sistem monitoringnya. Pelaksana Tugas (Plt) Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, menyampaikan informasi ini di Kendari pada hari Sabtu.

Aktivitas tektonik yang terjadi di Sultra ini sebagian besar didominasi oleh gempa bumi dengan magnitudo kecil dan kedalaman dangkal. Meskipun frekuensi kejadiannya cukup tinggi, Nasrol Adil memastikan bahwa gempa-gempa tersebut secara umum tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Pusat gempa sebagian besar terlokalisasi di daratan dan perairan sekitar Kabupaten Konawe Kepulauan, Kabupaten Konawe Selatan, serta Kota Kendari.

Frekuensi kegempaan yang meningkat ini dipicu oleh aktivitas sesar-sesar lokal yang cukup aktif di wilayah jazirah tenggara Pulau Sulawesi. Dari puluhan kejadian tersebut, hanya sebagian kecil getaran gempa yang dapat dirasakan oleh masyarakat dengan skala intensitas II hingga III Modified Mercalli Intensity (MMI).

BMKG mengidentifikasi bahwa 25 kejadian gempa bumi yang mengguncang Sultra dalam sepekan terakhir memiliki karakteristik dominan magnitudo kecil dan kedalaman dangkal. Karakteristik ini menunjukkan bahwa sebagian besar gempa berasal dari pergerakan sesar lokal di dekat permukaan bumi. Nasrol Adil menegaskan bahwa aktivitas ini tidak menimbulkan potensi tsunami, memberikan ketenangan bagi warga pesisir.

Peningkatan frekuensi gempa bumi Sultra ini merupakan indikasi dari aktivitas sesar-sesar lokal yang memang cukup aktif di wilayah jazirah tenggara Pulau Sulawesi. Sesar-sesar ini secara periodik melepaskan energi yang terakumulasi, menyebabkan guncangan-guncangan kecil. Sebagian besar pusat gempa berada di daratan dan perairan sekitar Kabupaten Konawe Kepulauan, Kabupaten Konawe Selatan, dan Kota Kendari, menunjukkan konsentrasi aktivitas di area tersebut.

Meskipun jumlah kejadian mencapai puluhan kali, hanya satu dari 25 gempa tersebut yang getarannya terasa oleh masyarakat dengan skala intensitas II hingga III MMI. Skala ini mengindikasikan getaran yang dirasakan oleh beberapa orang di dalam ruangan atau benda-benda ringan yang bergoyang. Tidak ada laporan kerusakan signifikan yang diakibatkan oleh rangkaian gempa ini, menurut pernyataan BMKG.

Rangkaian gempa bumi Sultra dimulai pada Minggu (22/3) dengan tiga kejadian di Konawe Selatan (M 1,6), Kolaka Timur (M 1,4), dan Konawe (M 2,8). Aktivitas berlanjut pada Senin (23/3) di Konawe (M 1,6) serta dua kali guncangan di Kolaka Timur (M 2,2 dan M 1,5), menunjukkan pola sebaran yang konsisten. Kejadian ini menggambarkan dinamika tektonik di wilayah tersebut.

Pada Selasa (24/3), Kolaka Timur mendominasi dengan empat kejadian gempa (M 1,4; M 1,8; M 2,0; dan M 1,5), ditambah satu guncangan di Kota Kendari bermagnitudo 2,0. Hari Rabu (25/3) kembali merasakan getaran di Kota Kendari (M 2,2), Kolaka Timur (M 1,3), dan Kabupaten Konawe (M 1,8), menunjukkan aktivitas yang terus berlanjut di beberapa lokasi. Intensitas gempa meningkat pada Kamis (26/3) dengan lima kejadian di Buton Utara (M 1,7), Kolaka Utara (M 2,8), Muna (M 2,0), Kendari (M 2,2), serta guncangan terbesar dengan magnitudo 4,9 di Konawe Kepulauan.

Jumat (27/3) mencatat lima gempa yang tersebar di Kolaka Timur (tiga kali: M 1,7; M 1,7; dan M 2,5), Konawe Selatan (M 2,0), serta Buton Selatan (M 2,2). Hingga Sabtu (28/3) saat laporan dihimpun, aktivitas kegempaan terakhir tercatat di Kabupaten Kolaka dengan magnitudo 1,8. Total 25 kejadian ini, dengan hanya satu yang dirasakan, menunjukkan bahwa sebagian besar gempa bersifat mikro dan tidak berdampak luas.

Menyikapi frekuensi gempa bumi Sultra yang tinggi, Nasrol Adil mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Penting bagi warga untuk tidak panik dan memastikan struktur bangunan rumah tahan gempa atau memiliki jalur evakuasi yang jelas. Kesiapsiagaan ini krusial jika sewaktu-waktu terjadi guncangan yang lebih kuat, meskipun gempa yang terjadi dominan kecil.

Masyarakat juga diminta untuk tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya terkait prediksi gempa besar. Informasi resmi mengenai parameter gempa bumi hanya bersumber dari kanal komunikasi terverifikasi milik BMKG, yang dikenal sebagai lembaga otoritatif. BMKG secara aktif menyebarkan informasi akurat untuk menghindari kepanikan dan misinformasi di tengah masyarakat.

BMKG berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan selama 24 jam penuh guna memberikan informasi cepat dan akurat. Upaya ini merupakan bagian integral dari mitigasi bencana di wilayah Sulawesi Tenggara. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, BMKG berupaya memastikan keselamatan dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana alam.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi