Aktivitas Sesar Lawanopo Picu Dua Kali Gempa Konawe pada Minggu Pagi
BMKG mengonfirmasi dua gempa bumi mengguncang wilayah Konawe, Sulawesi Tenggara, pada Minggu, 8 Maret 2026. Aktivitas Sesar Lawanopo diidentifikasi sebagai penyebab utama Gempa Konawe ini, dengan guncangan dirasakan hingga Kendari.
Wilayah Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), diguncang dua kali gempa bumi pada Minggu pagi, 8 Maret 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa aktivitas Sesar Lawanopo menjadi pemicu utama kejadian ini. Gempa pertama berkekuatan magnitudo 4,3 terjadi pukul 05.59 Wita, diikuti gempa kedua magnitudo 3,9 pada pukul 08.50 Wita.
Kepala BBMKG Wilayah IV, Nasrol Adil, menjelaskan bahwa kedua gempa ini merupakan jenis gempa bumi dangkal. Pusat gempa berada di darat, tepatnya sekitar 20 km Timur Laut Konawe. Kedalaman hiposenter yang dangkal mengindikasikan sumber gempa yang dekat dengan permukaan, sehingga guncangan terasa lebih kuat.
Guncangan akibat gempa dirasakan di beberapa wilayah, termasuk Konawe dengan intensitas IV MMI. Wilayah Konawe Utara dan Kolaka Timur juga merasakan getaran dengan skala III MMI. Bahkan, getaran gempa turut terasa hingga Kota Kendari, meskipun dengan intensitas yang lebih rendah.
Penyebab dan Parameter Gempa Pertama di Konawe
BMKG merilis analisis parameter terbaru untuk gempa pertama yang terjadi pukul 05.59 Wita. Gempa ini memiliki magnitudo 4,3. Episenter terletak pada koordinat 3,73 LS dan 122,18 BT.
Lokasinya berada di darat, sekitar 20 km Timur Laut Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara. Kedalaman gempa tercatat sangat dangkal, yakni 5 km.
Nasrol Adil menegaskan bahwa karakteristik gempa ini, dengan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, menunjukkan jenis gempa bumi dangkal. Hal ini secara langsung berkaitan dengan aktivitas Sesar Lawanopo. Sesar aktif tersebut menjadi sumber energi yang memicu terjadinya guncangan di wilayah tersebut.
Gempa Susulan dan Parameter Gempa Kedua
Gempa kedua yang terjadi pukul 08.50 Wita memiliki magnitudo 3,9. Gempa ini dikategorikan sebagai gempa bumi susulan dari kejadian pertama.
Episenter gempa kedua sedikit bergeser, berada pada koordinat 3,72 LS dan 122,16 BT. Lokasinya juga di darat, sekitar 20 km Timur Laut Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Kedalaman hiposenter gempa kedua tercatat 4 km, lebih dangkal dari gempa pertama. Nasrol Adil menjelaskan bahwa gempa susulan adalah fenomena umum setelah gempa utama yang menunjukkan adanya penyesuaian batuan di sekitar sesar setelah pelepasan energi awal.
Dampak Guncangan dan Imbauan BMKG
Berdasarkan estimasi peta guncangan (shakemap) dan laporan masyarakat, gempa bumi ini menimbulkan guncangan signifikan. Di Konawe, intensitas guncangan mencapai IV MMI, yang berarti bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah.
Wilayah Konawe Utara dan Kolaka Timur merasakan intensitas III MMI, dengan getaran seperti dirasakan nyata dalam rumah serta terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu. Kota Kendari juga merasakan dampak gempa dengan skala intensitas II-III MMI, yang getaran dirasakan nyata dalam rumah dan terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.
Meskipun guncangan terasa di beberapa wilayah, BMKG belum menerima laporan kerusakan yang ditimbulkan akibat kedua gempa tersebut. Nasrol Adil mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik.
Penting untuk selalu memverifikasi informasi yang diterima. Masyarakat diminta memastikan bahwa informasi gempa bumi hanya bersumber dari kanal-kanal resmi BMKG atau media yang terverifikasi dan terpercaya.
Sumber: AntaraNews