Badan Geologi: Aktivitas Vulkanik Gunung Semeru Masih Tinggi, Warga Diminta Waspada
Badan Geologi melaporkan aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Jawa Timur tetap tinggi hingga pertengahan Februari 2026. Masyarakat diminta waspada terhadap awan panas guguran dan guguran lava, seiring status Level III (Siaga) yang diberlakukan.
Badan Geologi melalui Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Satria, mengumumkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih menunjukkan tingkat yang tinggi. Pemantauan ini dilakukan secara intensif di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur. Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh elemen masyarakat di sekitar area terdampak.
Laporan terkini yang diterima di Lumajang pada Minggu (15/2) menyebutkan adanya kejadian awan panas guguran (APG) yang berulang. Fenomena ini teramati secara konsisten selama periode pengamatan dari tanggal 1 hingga 14 Februari 2026. Data ini menjadi dasar penting bagi penetapan status aktivitas gunung api.
Pada Sabtu (14/2), teramati dua kali kejadian APG dengan jarak luncur yang signifikan, mencapai 6.000 meter dari puncak kawah ke arah tenggara. Peningkatan aktivitas ini menjadi perhatian utama bagi pihak berwenang.
Pemantauan Terkini Aktivitas Vulkanik Gunung Semeru
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru terus dipantau secara visual dan instrumental oleh Badan Geologi. Selama periode 1-13 Februari 2026, awan panas guguran (APG) beberapa kali teramati dengan jarak luncur bervariasi antara 2.500 hingga 4.000 meter. Kejadian ini selalu disertai dengan aktivitas guguran material yang signifikan dari puncak gunung.
Peningkatan intensitas awan panas guguran ini menjadi indikator utama tingginya aktivitas Gunung Semeru. Data pemantauan menunjukkan pola pergerakan material vulkanik yang konsisten ke arah tenggara. Hal ini memerlukan perhatian khusus terkait jalur evakuasi dan zona bahaya yang telah ditetapkan.
Pengamatan visual juga diperkuat dengan data instrumental yang cermat. Tim pemantau terus bekerja keras untuk memastikan setiap perubahan kecil dapat terdeteksi. Informasi ini krusial untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat dan pihak terkait di sekitar Gunung Semeru.
Analisis Kegempaan dan Rekomendasi Level Siaga
Aktivitas kegempaan Gunung Semeru didominasi oleh beberapa jenis gempa, termasuk gempa letusan, gempa guguran, gempa embusan, dan tremor harmonik. Pola kegempaan ini mengindikasikan adanya suplai magma dari bawah permukaan gunung. Selain itu, pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan embusan juga terus terjadi.
Data pemantauan tiltmeter pada Stasiun Tiltmeter Argosuko menunjukkan adanya akselerasi atau perubahan cepat pada komponen tadial. Fenomena ini diinterpretasikan sebagai respons mekanik lokal pada sistem dangkal Gunung Semeru. Perubahan ini menjadi salah satu penanda penting dalam evaluasi kondisi gunung api.
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi menyeluruh, tingkat aktivitas Gunung Semeru saat ini tetap berada pada Level III (Siaga). Rekomendasi utama yang dikeluarkan oleh Badan Geologi adalah agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah Jonggring Seloko. Pembatasan ini diberlakukan demi keselamatan warga sekitar.
Selain itu, masyarakat juga dilarang memasuki sektor tenggara sejauh 13 kilometer dari puncak. Zona larangan ini dapat meluas hingga 17 kilometer di sepanjang aliran Besuk Kobokan. Kewaspadaan juga harus ditingkatkan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Area yang perlu diwaspadai meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta sungai-sungai kecil anak dari Besuk Kobokan.
Sumber: AntaraNews