Atlet Para-Angkat Berat AYPG 2025 Delima Yunia Susanti Tak Terbebani Target Emas di Dubai
Delima Yunia Susanti, atlet para-angkat berat AYPG 2025 debutan, mengaku tidak terbebani target emas NPC di Dubai, justru menjadikannya motivasi besar untuk membuktikan hasil latihan kerasnya.
Delima Yunia Susanti, atlet muda berbakat di cabang para-angkat berat, menyatakan kesiapannya menghadapi Asian Youth Para Games (AYPG) 2025. Meskipun berstatus debutan, ia tidak merasa terbebani dengan target medali emas yang ditetapkan oleh National Paralympic Committee (NPC) Indonesia. Keberangkatannya menuju Dubai, Uni Emirat Arab, menjadi langkah awal untuk membuktikan kemampuannya di kancah internasional.
NPC Indonesia menargetkan empat medali emas pada ajang empat tahunan ini, dengan harapan besar datang dari tiga cabang olahraga, termasuk para-angkat berat. Delima, yang baru berusia 15 tahun, melihat ekspektasi ini sebagai motivasi kuat. Ia bertekad untuk memberikan yang terbaik dan mengharumkan nama bangsa.
Sebelum bertolak ke Dubai, Delima menyampaikan optimismenya di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah. Ia menegaskan bahwa persiapan yang matang telah dilakukannya. Perjalanan ini diharapkan membawa pulang medali emas, sesuai dengan target dan harapannya.
Persiapan Matang dan Modal Berharga Menuju AYPG 2025
Sebagai atlet para-angkat berat AYPG 2025 yang baru pertama kali berkompetisi di level internasional, Delima Yunia Susanti tidak datang tanpa modal. Ia telah mengantongi dua medali perak dari Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) 2022 dan satu medali perak dari Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2024. Prestasi ini menjadi bekal berharga untuk ajang edisi kelima ini.
Delima mengungkapkan bahwa persiapannya sangat intensif dan membutuhkan waktu. "Persiapannya benar-benar hebat. Butuh waktu juga berlatih mengisi tenaga untuk membuktikan nanti di Dubai nanti Indonesia dapat emas lebih banyak," tutur Delima penuh semangat. Fokus utamanya adalah mengaplikasikan semua latihan yang telah diberikan.
Pengalaman meraih medali perak di Peparda Bekasi dan Peparnas di kelas 79 kilogram (kg) memberikan kepercayaan diri tambahan bagi Delima. Ia berharap dapat meningkatkan pencapaiannya di Dubai. Targetnya jelas, "Semoga di Dubai bisa memenangkan emas," ujarnya.
Motivasi dan Pesan Pelatih untuk Debut Internasional
Delima Yunia Susanti melihat target medali emas dari NPC sebagai motivasi terbesar. "Motivasi, menjadi motivasi terbesar," kata atlet asal Bandung, Jawa Barat ini. Dorongan ini penting mengingat ia akan menghadapi kompetisi internasional untuk pertama kalinya sebagai atlet para-angkat berat AYPG 2025.
Pelatihnya juga memberikan pesan khusus untuk Delima. "Jangan nyerah. Intinya tunjukin hasil yang diberikan pelatih selama latihan, mau gimana pun hasilnya tetap buktikan," ungkap Delima mengulang pesan pelatihnya. Pesan ini menjadi pegangan kuat bagi Delima untuk tetap fokus dan berjuang di lapangan.
Perjalanan Delima sebagai atlet disabilitas tidak selalu mulus. Ia sempat merasakan minder saat usia 11 tahun, ketika ia duduk di kelas 5 SD, setelah menjadi tuna daksa pada usia tiga bulan karena sakit. Namun, perasaan tersebut perlahan sirna setelah ia meraih medali perak di Peparda 2022. "Dulu sempet minder waktu 5 SD, usia 11 tahun. Pas masuk Peparda 2022 itu udah gak minder, karena hasil sendiri," jelasnya.
Impian dan Harapan Masa Depan Melalui Prestasi Olahraga
Prestasi Delima di dunia olahraga disabilitas tidak hanya membawa kebanggaan, tetapi juga dampak positif secara finansial. Ia mengungkapkan bahwa dari penghasilannya sebagai atlet, ia sudah bisa membelikan motor untuk keluarganya. Ini menunjukkan bahwa dedikasi dan kerja kerasnya membuahkan hasil nyata.
Ke depan, atlet para-angkat berat AYPG 2025 ini memiliki impian yang lebih besar. Delima berharap agar prestasi-prestasinya di dunia olahraga dapat terus meningkat. Dengan demikian, ia bisa mewujudkan cita-citanya untuk membeli mobil dan rumah, yang akan semakin meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Kisah Delima Yunia Susanti menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya para atlet muda disabilitas. Dengan semangat juang yang tinggi dan dukungan penuh, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi dan berprestasi di kancah internasional.
Sumber: AntaraNews