Aryo Djojohadikusumo Fokus Pengurangan Emisi Karbon Percepat Transisi Menuju Energi Bersih
Aryo mengungkapkan bahwa mereka tidak hanya fokus pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga berusaha mencapai tonggak sejarah dalam rehabilitasi lingkungan.
CEO Arsari Group, Aryo Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa perusahaan telah mencapai langkah signifikan dalam transisi energi, dengan fokus pada penggunaan energi terbarukan dalam proses produksinya. Dia menjelaskan bahwa PT Arsari Tambang berkomitmen untuk menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui tindakan konkret untuk mewujudkan operasi pertambangan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
"Jika kita bicara net zero, tentu kita harus bicara soal penggunaan bahan bakar fosil. Dengan bangga saya sampaikan bahwa smelter Arsari Tambang kini disuplai 100% oleh listrik dari pembangkit energi terbarukan di Pulau Sumatra, seperti panas bumi dari Sarula dan pembangkit hidro di Aceh serta Sumatera Utara," ujar Aryo dalam Indonesia Critical Minerals Conference & Expo di Jakarta, seperti dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (4/6).
Aryo juga menambahkan bahwa meskipun penggunaan energi terbarukan telah sepenuhnya diterapkan di fasilitas smelter, tantangan masih ada, terutama dalam hal konversi alat berat yang masih bergantung pada bahan bakar diesel.
Dia mengekspresikan keyakinannya bahwa target net zero secara keseluruhan dapat dicapai dalam waktu 5 hingga 10 tahun ke depan.
"Saat ini, perkiraan progres perusahaan menuju target tersebut telah mencapai 60--70%. Kalau dibilang 100%, apakah kita puas? Tidak. Kita tidak boleh puas," tegasnya. Aryo juga menekankan bahwa fokus perusahaan tidak hanya terbatas pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga pada pencapaian bersejarah dalam rehabilitasi lingkungan.
Proyek rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) di Krakas, Bangka Tengah, telah mencatat tingkat keberhasilan tertinggi dalam sejarah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dengan tingkat kelangsungan hidup pohon mencapai 91%. "Kami tidak hanya menanam pohon biasa. Kami memilih pohon-pohon produktif seperti jambu mete, cemara udang, dan kayu putih agar bisa memberi manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar," ungkap Aryo.
Perbaikan Ekosistem Laut
Aryo berkomitmen untuk menjadikan Arsari Tambang sebagai pelopor dalam upaya pemulihan ekosistem laut. Perusahaan ini diakui sebagai produsen timah pertama di Indonesia yang secara aktif terlibat dalam penanaman terumbu karang sebagai bagian dari reklamasi tambang laut, khususnya di wilayah Belinyu, Bangka Induk. Di sektor pasar dan industri, Arsari Tambang juga menunjukkan kemajuan yang menggembirakan.
Dengan kapasitas produksi timah solder mencapai 2.000 ton per tahun, perusahaan ini menargetkan omzet minimal sebesar Rp1 triliun. Selain memenuhi permintaan ekspor ke Tiongkok, pasar domestik juga mengalami pertumbuhan yang signifikan, terutama dari perusahaan-perusahaan elektronik di Batam, seperti Schneider Electric dan Bolex.
"Yang membuat kami bangga, ternyata potensi pasar dalam negeri juga sangat besar. Bahkan, pabrik Apple tengah menyelesaikan fasilitas mereka di sebelah pabrik kami di Batam. Ini semakin memperkuat ekosistem industri nasional," ungkap Aryo dengan penuh optimisme. Ia yakin bahwa langkah-langkah progresif yang diambilnya menandai awal baru dalam industri pertambangan nasional, yang tidak hanya fokus pada keuntungan, tetapi juga mengedepankan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial sebagai prioritas utama.
"Saya ingin menegaskan bahwa mitra-mitra kami dari Tiongkok dan negara lain hanya merupakan pemegang saham minoritas. Kepemilikan mayoritas tetap dipegang oleh putra-putri terbaik Indonesia," tambahnya menegaskan komitmennya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4817611/original/090036900_1714471627-Infografis_AI.jpg)