Agnes Naomi Dalami Kecemasan 'Budak Korporat' untuk Peran Mandy di 'What's Up with Secretary Kim?'
Aktris Agnes Naomi mendalami kecemasan yang marak dialami 'budak korporat' demi menghidupkan karakter Mandy dalam film adaptasi drama Korea, 'What's Up with Secretary Kim?', yang akan tayang eksklusif di Vidio.
Aktris Agnes Naomi secara serius mendalami isu kecemasan yang kerap menghantui para pekerja kantoran, yang sering dijuluki 'budak korporat'. Pendalaman ini dilakukan untuk memerankan karakter Mandy dalam film adaptasi drama Korea, 'What's Up with Secretary Kim?'. Mandy digambarkan sebagai representasi nyata dari tekanan kerja di lingkungan korporat yang sangat kaku dan menuntut.
Karakter Mandy adalah rekan kerja sekaligus tempat curhat Sekretaris Kimberly 'Kim' Laksono, diperankan oleh Mawar de Jongh. Melalui Mandy, Agnes berusaha menggambarkan bagaimana tekanan pekerjaan dapat memicu kecemasan yang mendalam. Film ini menjanjikan penggambaran otentik tentang tantangan mental yang dihadapi banyak profesional di dunia kerja.
Film 'What's Up with Secretary Kim?' versi Indonesia ini disutradarai oleh Rako Prijanto dan diproduseri oleh Frederica. Skenarionya ditulis oleh Alim Sudio, dan dijadwalkan tayang eksklusif di platform Vidio mulai tanggal 8 November 2025. Peran Agnes Naomi sebagai Mandy diharapkan mampu memberikan dimensi baru pada adaptasi drama populer ini.
Mendalami Karakter Mandy: Refleksi Kecemasan Pekerja Korporat
Agnes Naomi mengungkapkan bahwa karakter Mandy adalah refleksi dari individu yang mudah gugup dan cemas. "Mandy adalah refleksi dari orang-orang yang gampang gugup, yang easily anxious," kata Agnes saat sesi tanya-jawab acara gala perdana film di Jakarta, Kamis.
Ia mengaku mendalami karakter ini dengan mengamati teman-temannya yang bekerja di bidang Corporate Communication (Corcom). Lingkungan kerja Corcom yang menuntut kesempurnaan dalam penjadwalan seringkali membuat para pekerjanya bergumul dengan kecemasan.
Agnes melihat Mandy juga menghadapi tekanan mental serupa di balik profesionalitasnya saat berinteraksi dengan sang bos, Rendra Prakasa, yang diperankan oleh Adipati Dolken. Tekanan ini bahkan memaksa Mandy untuk membuka rahasia sahabat dekatnya, Kim, menunjukkan betapa beratnya beban yang ia pikul.
Riset mendalam dilakukan untuk memastikan kecemasan yang ditampilkan oleh karakter Mandy terasa otentik dan relevan dengan pengalaman para 'budak korporat' di kehidupan nyata. Hal ini dilakukan agar penonton dapat merasakan koneksi emosional yang kuat dengan karakter tersebut.
Proses Riset dan Improvisasi dalam Produksi Film
Proses riset yang dilakukan Agnes Naomi melibatkan observasi langsung terhadap individu yang mengalami kecemasan akibat tekanan pekerjaan. Pendekatan ini memastikan bahwa penggambaran karakter Mandy tidak hanya berdasarkan asumsi, tetapi juga berakar pada pengalaman nyata. Keaslian emosi menjadi kunci dalam menghidupkan peran ini.
Naomi juga membagikan pengalamannya bekerja sama dengan sutradara dan tim produksi yang sangat menyenangkan. "Sebagai pemain, kami tidak hanya diarahkan, tetapi juga diberi ruang besar untuk berimprovisasi dan meracik formula akting kami sendiri," ujarnya.
Suasana kerja yang bebas dan kondusif ini memungkinkan para pemain untuk bereksplorasi lebih jauh. Hal ini sering kali membuat hasil akhir sedikit melenceng dari naskah awal, namun justru menciptakan momen-momen yang lebih natural dan menyenangkan di layar. Kebebasan berimprovisasi ini turut memperkaya kualitas akting dan kedalaman karakter.
Jadwal Tayang dan Tim di Balik Layar
Film 'What's Up with Secretary Kim?' versi Indonesia ini merupakan proyek adaptasi yang sangat dinantikan. Film ini dijadwalkan tayang eksklusif di platform Vidio, memberikan akses mudah bagi penonton di seluruh Indonesia. Tanggal rilis yang ditetapkan adalah 8 November 2025.
Di balik layar, film ini digarap oleh tim yang berpengalaman. Rako Prijanto dipercaya sebagai sutradara, membawa visinya untuk adaptasi drama populer ini. Frederica bertindak sebagai produser, memastikan kelancaran produksi dari awal hingga akhir.
Skenario film ini ditulis oleh Alim Sudio, seorang penulis skenario yang dikenal dengan karyanya yang mampu menyentuh emosi penonton. Kolaborasi tim ini diharapkan mampu menghasilkan sebuah film adaptasi yang sukses dan disukai banyak orang.
Sumber: AntaraNews