ABK Tugboat Terbalik Batam Ditemukan Selamat Setelah Tiga Hari Pencarian Dramatis
Operasi SAR di Batam membuahkan hasil, satu ABK tugboat terbalik ditemukan selamat setelah tiga hari pencarian, mengungkap detil dramatis di ruang mesin kapal yang menyimpan kantong udara.
Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) gabungan berhasil menemukan satu anak buah kapal (ABK) dari insiden tugboat terbalik di perairan PT ASL Tanjung Uncang, Batam, Kepulauan Riau. Korban ditemukan dalam kondisi selamat pada Minggu pagi, menandai berakhirnya operasi pencarian yang intensif. Penemuan ini membawa secercah harapan setelah tiga hari pencarian yang penuh tantangan di lokasi kejadian.
Kepala Kantor SAR Kelas A Tanjungpinang, Fazzli, mengonfirmasi penemuan korban, Yusuf Tankin, sekitar pukul 05.00 WIB. Fazzli menjelaskan bahwa operasi SAR telah direncanakan secara matang, dengan dugaan awal bahwa korban mungkin masih berada di dalam kapal. Upaya evakuasi melibatkan penarikan dan pembalikan kapal yang membutuhkan peralatan memadai.
Insiden ini bermula pada Jumat (6/3) sekitar pukul 14.30 WIB ketika tugboat tersebut sedang menarik kapal kargo Kyparissia yang menjalani proses docking di galangan PT ASL Batam. Laporan kecelakaan diterima Kantor SAR Tanjungpinang pada pukul 17.57 WIB, dan tim dari Batam segera menuju lokasi untuk berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait.
Detik-detik Penemuan Dramatis ABK Tugboat Terbalik Batam
Setelah kapal berhasil dibalikkan, tim gabungan yang terdiri dari manajemen PT ASL, Basarnas, TNI, dan Polri segera melakukan pengecekan pada lambung kapal. Proses ini penting sebelum melanjutkan upaya penyelaman untuk mencari korban yang diduga masih terperangkap di dalamnya. Koordinasi yang solid antarinstansi menjadi kunci keberhasilan operasi ini.
Yusuf Tankin, ABK tugboat terbalik Batam, ditemukan di ruang mesin kapal. Keberadaannya di sana dimungkinkan berkat adanya air pocket atau kantong udara yang memungkinkan korban untuk bertahan hidup di tengah kondisi yang ekstrem. Penemuan ini menjadi bukti ketahanan manusia dalam menghadapi situasi darurat di laut.
Setelah berhasil dievakuasi, korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Mutiara Aini Batam untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Kondisi Yusuf Tankin yang selamat memberikan kelegaan bagi tim SAR dan keluarga setelah menunggu dengan cemas selama berhari-hari. Penanganan cepat sangat krusial untuk memastikan pemulihan korban.
Kronologi Kecelakaan dan Jumlah Korban Tugboat
Kecelakaan tugboat ini terjadi saat kapal sedang melakukan tugas penarikan kapal kargo di galangan PT ASL Tanjung Uncang. Lokasi kejadian merupakan area aktivitas industri perkapalan yang padat di Batam. Insiden ini dengan cepat menarik perhatian publik dan memicu respons cepat dari otoritas setempat.
Dari total lima kru yang berada di kapal, dua orang dinyatakan selamat dan tiga lainnya meninggal dunia. Korban selamat lainnya adalah M. Habib Ansyari, ABK kapal. Sementara itu, tiga korban yang meninggal dunia adalah Abdul Rahman selaku kapten kapal, Guntur Pardede sebagai chief, serta Jhonson Bertuahman Damanik yang menjabat sebagai kepala kamar mesin.
Dengan ditemukannya Yusuf Tankin dalam keadaan selamat, operasi SAR terhadap kecelakaan kapal tersebut resmi berakhir. Seluruh kru yang terlibat dalam insiden ini telah berhasil diidentifikasi statusnya. Proses identifikasi dan evakuasi korban membutuhkan ketelitian dan kerja keras dari seluruh tim di lapangan.
Rentetan Kecelakaan Kerja di PT ASL Batam
Insiden tugboat terbalik ini menambah daftar panjang kecelakaan kerja yang telah terjadi di PT ASL Batam. Sebelumnya, pada tahun 2025, tercatat empat kecelakaan kerja di galangan kapal tersebut, dengan tiga di antaranya menyebabkan korban jiwa. Ini menunjukkan adanya pola insiden yang perlu menjadi perhatian serius bagi manajemen dan pihak berwenang.
Beberapa insiden tragis yang terjadi sebelumnya meliputi:
- Pada 24 Juni 2025, kebakaran di kapal MT Federal II menyebabkan empat pekerja meninggal dunia dan lima lainnya luka-luka.
- Pada 15 Oktober 2025, insiden di kapal yang sama menewaskan 14 orang serta melukai 17 pekerja lainnya.
- Pada 29 Desember 2025, dua pekerja meninggal akibat tersengat listrik saat melakukan pengecatan kapal.
- Kebakaran juga kembali terjadi pada 25 Januari 2026 di kawasan galangan tersebut, meskipun dalam kejadian itu tidak dilaporkan adanya korban jiwa.
Pihak berwenang diharapkan dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keselamatan di PT ASL Batam untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang. Keselamatan pekerja harus menjadi prioritas utama dalam setiap operasi industri. Insiden ini juga menjadi pengingat bagi seluruh pihak akan risiko yang melekat dalam pekerjaan di sektor maritim.
Sumber: AntaraNews