Mobil Jepang vs China di GIIAS 2025, Siapa Lebih Menarik?
Ajang ini menjadi magnet besar bagi pecinta otomotif dari berbagai kalangan.
GIIAS 2025 kembali digelar meriah di ICE BSD, dan seperti biasa, ajang ini menjadi magnet besar bagi pecinta otomotif dari berbagai kalangan.
Tak hanya para pencinta kecepatan atau teknologi tinggi, banyak juga pengunjung yang datang dengan rasa penasaran sederhana seperti Michelle, warga Bintaro yang hari itu sengaja meluangkan waktu untuk datang langsung ke pameran.
Tujuannya? Ingin tahu lebih jauh soal mobil listrik dari China dan membandingkannya dengan mobil bensin Jepang yang selama ini sudah lebih dulu familiar di jalanan Indonesia.
“Aku memang udah lama penasaran sama mobil listrik, apalagi yang dari China. Tapi tetap penasaran juga, kira-kira bagaimana dibandingkan sama mobil Jepang yang udah terbukti kualitasnya,” ujar Michelle saat ditemui di sela-sela kunjungannya.
Mobil Listrik China: Makin Berani Tampil dan Penuh Fitur
Begitu memasuki hall tempat deretan merek China dipamerkan, Michelle mengaku cukup terkesan. Banyak mobil listrik dari China yang hadir dengan desain futuristik, kabin yang luas, dan fitur digital yang terbilang canggih.
Mulai dari layar sentuh raksasa, jok dengan pemanas dan pijat, hingga sistem voice command berbahasa Indonesia—semua tersedia di sana.
“Dari tampilan luar dan dalemnya sih keren banget ya, bener-bener kelihatan modern. Apalagi buat yang suka teknologi, pasti langsung suka,” ujar Michelle.
Beberapa merek seperti BYD, Neta, Jetour, dan Seres memang tampil cukup agresif di GIIAS tahun ini. Mereka tak hanya memamerkan produk, tapi juga menyodorkan keunggulan harga dan insentif menarik dari pemerintah untuk pembeli kendaraan listrik.
Salah satu yang bikin Michelle kaget adalah banderol harga mobil listrik yang kini jauh lebih terjangkau dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Tadinya kupikir mobil listrik itu harganya pasti ratusan juta lebih mahal. Tapi ternyata sekarang sudah banyak yang di bawah Rp 500 juta. Bahkan ada yang bisa cicilan ringan,” tambahnya.
Mobil Jepang: Masih Jadi Andalan, Apalagi untuk Pengguna Konvensional
Meski kagum dengan mobil listrik China, Michelle mengaku tetap merasa “klik” dengan mobil Jepang, terutama yang masih menggunakan mesin bensin.
“Aku tuh masih merasa lebih nyaman sama mobil Jepang. Entah kenapa, mungkin karena udah biasa. Rasanya lebih familiar aja. Terus servisnya juga gampang, bengkel banyak, dan rasanya udah lebih ‘teruji’ aja gitu,” katanya.
Mobil-mobil Jepang seperti dari Honda, Toyota, dan Mitsubishi memang masih jadi daya tarik utama di GIIAS, terutama untuk segmen keluarga dan pengguna harian.
Kendaraan mereka memang belum sepenuhnya listrik, tapi sudah banyak yang mengadopsi teknologi hybrid sebagai transisi menuju masa depan elektrifikasi.
“Jadi sementara ini, aku masih akan tetap pakai mobil bensin dulu. Tapi bukan berarti menutup kemungkinan ke depannya bakal ganti ke listrik juga. Kayaknya sih, 3–5 tahun lagi, bisa banget aku pertimbangkan mobil listrik,” ungkap Michelle sambil tersenyum.
Dari pengalaman Michelle, terlihat jelas bahwa pilihan antara mobil Jepang dan mobil listrik China tidak hanya soal fitur atau harga, tapi juga soal kebiasaan, rasa percaya, dan kenyamanan secara emosional.
Mobil Jepang menawarkan ketenangan karena sudah dikenal lama, sementara mobil listrik China datang membawa sensasi baru yang penuh kejutan dan perkembangan cepat.
“Keduanya punya keunggulan masing-masing. Kalau mobil Jepang itu kayak teman lama yang bisa diandalkan, mobil listrik China tuh kayak kenalan baru yang lagi belajar jadi soulmate. Kita lihat aja siapa yang menang di hati gue nanti,” tutup Michelle sambil tertawa kecil.