Lemhannas Merumuskan Kemandirian Bangsa di Era Perang Tarif
Dunia kian bergejolak akibat perang tarif dan ketegangan geopolitik global.
Di tengah dunia yang kian bergejolak akibat perang tarif dan ketegangan geopolitik global, Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) kembali menegaskan perannya sebagai garda depan dalam merumuskan arah kebijakan strategis nasional. Melalui forum Gebyar Wawasan Kebangsaan, Lemhannas menghadirkan ruang diskusi lintas sektor untuk menjawab tantangan besar terhadap kemandirian bangsa.
Forum ini digelar secara hibrida pada Senin (30/6) di Ruang Dwi Warna Purwa, Gedung Panca Gatra, Jakarta Pusat. Dibuka langsung oleh Gubernur Lemhannas RI, Dr. H. Tb. Ace Hasan Syadzily, M.Si., kegiatan ini menghadirkan tiga tokoh nasional dari berbagai bidang antara lain KH. Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU, Chairul Tanjung, CEO CT Corp dan Raden Pardede, ekonom senior.
Ketergantungan dan Ancaman Nyata
Tema “Membangun Kemandirian Bangsa di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global” menjadi sorotan utama forum. Lemhannas menyoroti sejumlah fakta yang menggambarkan rapuhnya sektor-sektor vital nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor beras Indonesia mencapai 3,85 juta ton sepanjang Januari—November 2024, melonjak 52% dibanding tahun sebelumnya. Thailand menyumbang hampir 31% dari total impor, memperlihatkan ketergantungan tinggi pada pangan luar negeri.
Sementara itu, dominasi perusahaan teknologi asing seperti Google, Microsoft, Amazon, dan Meta juga mengancam kedaulatan digital Indonesia. Ketergantungan terhadap layanan dan infrastruktur digital luar negeri membawa risiko serius bagi keamanan data dan kontrol informasi strategis.
Disrupsi Global, Dampak Lokal
Forum ini juga merefleksikan kondisi global yang tengah memanas. Per April 2025, Amerika Serikat menaikkan tarif impor hingga 145% terhadap produk Tiongkok, yang langsung dibalas dengan tarif 125% oleh Tiongkok. Perang dagang ini telah memicu disrupsi rantai pasok global yang berdampak langsung pada perekonomian negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Forum ini bukan sekadar seremoni, tetapi ikhtiar intelektual untuk merumuskan ulang arah kemandirian bangsa,” ujar Gubernur Lemhannas, Tb. Ace Hasan Syadzily. “Nilai-nilai Pancasila harus menjadi kompas kita dalam menghadapi polarisasi global. Kita perlu solusi konkret, bukan hanya wacana.”
Strategi Kemandirian dari Tiga Perspektif
Forum ini menghadirkan pembahasan multidisipliner:
- KH. Yahya Cholil Staquf menekankan pentingnya reaktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam merespons tantangan ideologis global yang kompleks.
- Chairul Tanjung mendorong penguatan sektor kewirausahaan sebagai kunci kemandirian ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
- Raden Pardede menekankan pentingnya arah kebijakan ekonomi jangka panjang yang mampu membentengi Indonesia dari guncangan eksternal.
Menyasar Generasi Muda, Membangun Kesadaran Kolektif
Lemhannas menegaskan bahwa kemandirian bangsa tak bisa dibangun hanya dari ruang pemerintahan. Kolaborasi lintas sektor—termasuk keterlibatan generasi muda—menjadi kunci utama dalam mewujudkan Indonesia yang berdikari, berdaulat, dan berkarakter kuat.
Forum ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Masyarakat luas dapat mengikuti secara daring dengan mendaftar melalui kanal media sosial resmi Lemhannas RI.
Melalui Gebyar Wawasan Kebangsaan, Lemhannas RI kembali menegaskan komitmennya sebagai jembatan antara visi strategis negara dan aspirasi rakyat. Di era penuh ketidakpastian, Indonesia memerlukan arah yang kokoh—dan itu dimulai dari keberanian merumuskan ulang makna kemandirian.