Mantan Kepala Otorita IKN Bambang Susantono: Kalau IKN Mangkrak, Kita Rugi!
Berdiri di jantung Kaltim sejak 2022 dan habiskan anggaran Rp100 triliun, kini pembangunan IKN merangkak.
Nasib Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai pengganti Jakarta belum jelas. Berdiri di jantung Kalimantan Timur sejak 2022 dan sudah habiskan anggaran Rp100 triliun, kini pembangunannya merangkak. Tertatih di bawah bayang-bayang anggaran yang terbatas dan arah politik yang tak pasti.
Walaupun nasibnya masih terkatung-katung, eks Kepala Otorita IKN Bambang Susantono berharap IKN tak mangkrak. Terus bergerak maju menjadi kota idaman. Kota di mana lampu jalan bisa berbicara, transportasi tanpa sopir mengantar warga, dan teknologi menjadi sahabat kehidupan. Simbol peradaban baru Indonesia.
"Kalau mangkrak kan kita semua yang rugi kan?" kata Bambang saat podcast dengan merdeka.com.
Berikut wawancara lengkap eks Kepala Otorita IKN Bambang Susantono dalam program podcast merdeka yang bakal segera tayang di channel YouTube merdeka.com:
Kami ingin tahu soal tata kota. Kalau kita kasih skor tata kota di Indonesia, skor 1-10, itu skornya berapa, Prof?
Tergantung kotanya ya.
Secara umum, secara general, Prof?
Ya tipis-tipis, di tengah lebih dikit lah gitu ya.
Kalau tipis-tipis, berarti 5,5 ya?
1-10 Ya, cukup 6 lah. Karena gini, ada beberapa kota juga yang bagus sih ya, artinya memiliki satu, kita itu kalau bicara kota itu bicara sehari-hari ya. Sehari-hari kita semualah gitu ya. Dan kita selalu tanya, ini kota yang asik apa sih? Saya selalu tanya ke mahasiswa saya, menurut kalian itu kota yang ideal, yang langsung terucap mana yang paling bagus? Itu mikirnya lama loh mereka. Nggak bisa langsung bilang kota A, atau kota B, atau kota C gitu kan.
Kalau misalkan nilainya 5 sampai 6, jika kita sebagai guru atau dosen berarti ada remedialnya. Artinya, saya membayangkan sebenarnya banyak yang harus ditata ulang dong?
Banyak PR-nya. PR itu kan, yang pertama kota itu harus memberikan kecukupan buat kita semua. Kecukupan dari akses, transportasi, kita enak ke mana-mana. Kecukupan dari air bersih. Kota yang bagus itu airnya tidak hanya bersih tapi bisa diminum. Kemudian kota itu juga minimal sampah. Kalau bisa zero waste gitu ya. Kota itu secara energi oke. Kota itu dari sisi misalnya keterhubungan digital. Itu juga bagus.
Dan jangan lupa, salah satu hal yang kita dapat dan kita pelajari pada waktu Covid itu adalah kota itu banyak yang nggak siap dari sisi fasilitas kesehatan dan pendidikan. Otaknya itu tidak benar-benar dipikirkan sehingga pada waktu itu kita kedaluran. Banyak kota di dunia ya, bukan hanya di kita. Terutama untuk fasilitas kesehatan. Dari klinik yang paling bawah sampai kemudian rumah sakit awal, yang tingkat pertama sampai rumah sakit rujukan. Itu harusnya secara tata kota itu lebih baik lah gitu ya.
Nah ini biasanya di dalam master plan kota atau rencana detail tata ruang kota itu tidak terlalu dibuat terintegrasi dengan yang lain. Jadi yang biasanya kita bicarakan itu adalah akses transport, jalannya di mana segala macam, akses kemudian angkutan umum, air bersih, drainase, persampahan gitu ya. Ini yang bagian kesehatan dan pendidikan ini sering kali hanya tempelan gitu. Sehingga sekarang memang ada redefinisi lagi untuk teman-teman yang berkecimpung di bidang tata kota dan tata ruang untuk kembali melakukan reintegrasi dari semua fasilitas perkotaan.
Sehingga tadi, timbul kan tadi kota 10 menit, kota 11 menit, kota 20 menit itu dengan harapan kalau dia ada apa-apa misalnya di situ help facilitiesnya itu dekat banget gitu. Kesehatannya dekat, kemudian nanti kalau dia mau anak sekolah nggak perlu diantar bapak ibunya naik mobil, bisa dengan jalan kaki misalnya gitu ya. Ataupun ada bus sekolah yang.
Tapi kadang gini Prof, problemnya di tata kota terutama di perkotaan. Contoh dari yang terdekat di tempat kita sekarang misalkan di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, maupun Jawa Timur. Di kota-kota yang padat penduduk, dalam membangun sebuah tata kota itu kan kadang-kadang banyak faktornya. Salah satunya adalah faktor sosial, jadi semrawut. Kalau kita bayangin di luar negeri terlihat indah tata letaknya. Nah itu gimana, Prof?
Ya gini, kota-kota kita banyak yang memang sudah menjadi kota sejak zaman kolonial dulu ya. Jadi ada istilah begini, kota-kota yang didesain dari secara organik zaman dulu. Kemudian kolonialisme datang, mereka menyimpul satu tata ruang baru berdasarkan prinsip-prinsip di Eropa. Ya, Eropa itu kan rata-rata prinsipnya seperti sistem grid ya. Kota-kota-kota gitu itu tidak nyambung sebetulnya, tidak begitu menyatu dengan desain-desain awal yang ada zaman dulu.
Sehingga ada PR-PR nih, banyak. Yang PR-PR ini akhirnya tidak terlalu addres dengan baik. Sehingga yang kita lihat sekarang misalnya pemungkinan-pemungkinan yang letaknya itu sporadis. Tidak benar-benar menyatu dengan prinsip-prinsip kota di mana efisiensi pergerakan, orang dengan nyaman bisa jalan ke mana-mana, ruang terbuka hijaunya cukup gitu ya. Sanitasinya juga ada gitu.
Saya ingin menggaris bawah sanitasi ini. Karena kadang-kadang kita berpikir air bersih, air bersih, air bersih, air minum, tapi lupa sanitasi. Semua air bersih itu kan akhirnya jadi sanitasi karena terbuang ya. Dan kalau kita cenderung ditaruh di drainase yang terbuka. Padahal kalau di negara maju kan drainasinya tertutup. Ini kan air kotor nih. Dan lebih dari 60 persen, 2 per 3 dari kota-kota kita belum mengaddres ini dengan baik, sanitasi ini.
Nanti yang ideal kan sebetulnya kalau di dalam negeri nggak kelihatan tuh. Semuanya kan masuk di satu multi-utility tunnel istilahnya. Fasilitas listrik, fasilitas air bersih, fasilitas fiberoptik, semuanya ditaruh di box yang ditanam di dalam. Jadi nggak ada yang semrawut di atasnya.
Di Jakarta, Jawa Barat yang udah padat penduduk gitu. Ketika ada banjir, macet setiap hari. Kalau udah kayak begini, mengurainya harus dimulai dari mana, Prof?
Harus dimulai dan perlu waktu. Nggak bisa overnight. Karena kita nggak bisa kayak Bandung-Bonowoso, atau nggak ada gini Aladin gitu kan. Nggak bisa gosok-gosok gitu. Yang jelas, semuanya harus mulai ditata ulang dan kemudian kecukupan tadi ya, kecukupan secara kuantitas, kualitas, dari sistem semuanya, itu secara terintegrasi itu harus masuk ke dalam satu pola perencanaan yang benar-benar bagus. Adagium di bidang saya, ada yang namanya, if you fail to plan, you plan to fail.
Kalau kita dari awal nggak punya perencanaan yang bagus, kita sebetulnya merencanakan sesuatu yang gagal. Itu dipegang oleh semua perencanaan kota tuh biasanya. Ilmu wajib. Sehingga harus ada memang satu plan yang bagus dan kemudian dirujuk oleh semua pihak. Nah ini tentu teman-teman ini langsung iya tuh Pak, itu egosektoral tuh biasanya kan. Kalau lihat di jalan, hari ini yang buka jalan orang PU, besok nanti orang PDAM.
Kalau Prof ada kesempatan untuk mengubah dengan segala keruwetannya politik, tata kota. Sebenarnya bisa nggak sih kita punya kota yang ideal? Untuk membenahi ini, bisa nggk? Harus dimulai dari mana dulu?
Harus dimulai dengan satu tempat di mana kita menunjukkan model-model yang bagus sehingga orang tergerak untuk masuk ke situ. Satu area aja dulu.
Ada percontohannya?
Sementara saya belum lihat. Tapi ada keinginan ke arah itu ya. Misalnya ada satu zonasi, ada satu area di mana orang lebih di-encourage untuk berjalan kaki. Tidak menggunakan kendaraan pribadi, menggunakan angkutan umum gitu ya. Kan kasta tertinggi sebetulnya di kota itu adalah berjalan kaki. Kemudian yang kedua yang nggak pakai kendaraan bermotor gitu ya. Angkutan umum, kemudian baru yang paling-paling terakhir itu adalah angkutan mobil pribadi.
Melihat IKN, di pandangan mata Prof itu sebenarnya kota ideal kan? Yang bisa ditiru semua kota?
Betul. Jadi pada waktu saya menerima mandat dari Presiden Jokowi kan dia menyampaikan bahwa jangan bikin sesuatu yang ala kadarnya dan biasa-biasa aja. Buatlah ini menjadi referensi kota lain di Indonesia. Jadi akan ada lompatan-lompatan teknologi yang istilahnya leapfrog ya. Supaya ini benar-benar jadi referensi lah. Kalau bisa memang tidak hanya buat Indonesia tapi buat global. Itu makanya kota itu jadi smart. Smart cities. Dia juga harus tetap green gitu ya.Karena 65 persen dari areanya kan nanti akan jadi hutan. Tetap jadi hutan dan dihutankan kembali.
Kemudian harus inklusif. Artinya semua strata masyarakat harus bisa masuk ke sana. Kemudian harus resilient. Resilient itu berketangguhan, bertahan kalau ada masalah climate change, ada masalah bencana alam, ada masalah tadi pandemi. Itu kota ini sebetulnya harus sudah punya kemampuan untuk tangguh. Sehingga kalau empat ini tadi oke, dia akan sustainable ke depan, berkelanjutan.
Jadi memang desain itu kita mimpinya ke sana. Mulailah sesuatu dan mimpi kan gitu ya. Dan itu lama loh harusnya, 2045 itu baru selesai semua. Karena ada lima tahapan, 2002, 2004, 2001, kemudian 2005, 2009. Dan seterusnya lima tahunan sampai 2045. Nah ini memang secara teknokratis seharusnya ini diikutin aja. Sehingga ini nanti akan menjadi kota seperti yang kita idam-idamkan lah.
Menjadi barometer untuk kota-kota lain ya?
Jadi referensi untuk kota lain. Dan itu sebabnya juga kalau boleh cerita, banyak sekali lembaga-lembaga internasional yang pengen ikutan melihat ini sebagai satu istilah mereka knowledge journey. Ini perjalanan pengetahuan. Karena belum pernah ada ibu kota yang ditaruh di hutan misalnya gitu ya. Kemudian ini 65 persen.
Dari nol banget?
Enggak dari nol banget karena sudah ada orang loh. Tapi lompatan teknologi, orang sebetulnya mau smart. Tapi kok mau green juga? Kok ini jadi forest city? Kota di tengah hutan, hutan di tengah kota kan? Ini gimana? Jadi banyak sekali secara keilmuan yang melihat ini sebagai satu perjalanan keilmuan. Yang mungkin bisa menjadi contoh apapun kejadiannya nanti ya. Barometer dari konsep-konsep kota itu sendiri. Karena sustainable forest itu jarang yang punya. Sustainable green city banyak. Smart city banyak.
Tapi ini forest?
Ini forest loh. Itu yang sebetulnya banyak menarik orang kan. Dan kita kan zaman dulu sering dituduh banyak sekali melakukan penggundulan hutan. Deforestasi kan? Di sini kita mengenalkan konsep reforestasi. Jadi menanam kembali, menghutankan kembali dengan biodiversity dan segala macam. Jadi istilahnya pada waktu itu semangat banget kita. Karena mau nggak mau kita harus punya sesuatu yang baru. Jadi ada master plan untuk keanekaragaman hayati. Kita ukur nih sekarang nih.
Biodiversity-nya seperti apa? Burungnya seperti apa? Kemudian binatang buasnya apa aja yang ada di sana? Ini benar-benar nanti meningkat nggak sih jumlah dan varietasnya? Variasinya ke depannya. Itu dilihat tuh. Supaya kita jadi nature positivity istilahnya. Jadi semuanya positif gitu ya. Kemudian untuk climate change. Apa sih langkah-langkahnya untuk mitigasi adaptasi? Dibuatlah satu master plan untuk climate change. Kota ini bisa net zero istilahnya. Jumlah karbonnya yang diemisikan itu jauh lebih kecil kalau bisa dibandingkan dengan apa yang diserap. Itu-itu tuh yang kita taruh sebagai dasar dari kota ini. Sampai SDG ya. SDG juga kita ada voluntary local review.
Pembangunan IKN sekarang kan berjalan walaupun tidak seramai di awal-awal. Tadi Prof sampaikan kadang membangun sebuah kota apalagi mulai dari level bawah nggak seperti Roro Jonggrang. Apakah dalam konteks ini IKN juga sama?
Iya, Sangkuriang. Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso kan gara-gara satu itu jadi 99 ya. Saya kira kalau kita secara teknokratik mengikuti aja tahapan-tahapan itu. Yang ada dengan dilengkapi dengan tadi ya. Begitu banyak panduan. Itu harusnya jadinya bagus. Seharusnya. Bahwa nanti dalam perjalanan ada kurang sini kurang sana yaitu dinamika pembangunan lah. Dan dinamika siapapun nanti yang akan memimpin kota itu ya. Tapi saya kira dasar-dasarnya sudah ada.
Tentu kita ingin agar dasar-dasarnya itu diikuti dong. Karena sekarang yang melotot ini bukan hanya di Indonesia lho. Ini internasional semua ngelihat ini jadi apa sih gitu. Ini jadi apa nih kota ini. Bener nggak sih kota ini nanti prinsip-prinsip hijaunya itu dipegang teguh gitu. Misalnya gini, yang saya belum sempat waktu itu. Saya ingin memastikan semua bahan barang-barang misalnya batu, pasir, segala macam itu di tambang di tempat yang benar-benar menerapkan sustainability.
Jadi jangan sampai misalnya ada gunung hilang. Nggak karu-karuan gitu ya. Tapi di sini bagus di IKN-nya. Nambang batu, tempat nambangnya jadi rusak. Rusak di tempat lain. Di sini bagus. Itu contoh aja tetap kecil ya. Memang belum sempat sih waktu itu. Tapi ke depan menurut saya kalau mau jadi referensi ya harus seperti itu.
Jadi hulu ke hilirnya ini green city, forest city?
Betul. Dan kemudian cara membangun juga begitu. Cara membangun nggak bisa lagi buka semuanya. Kemudian nanti terus baru ditanamin lagi. Nggak gitu. Kalau butuhnya 10x10 meter ya itu aja dikerjain. Kelilingnya harusnya tetap hijau dong.
Oh itu berarti prinsip pembangunan di IKN seperti itu, Prof?
Iya.
Misalnya pembangunan hotel Nusantara. Saya nggak tahu sih berapa detail membutuhkan lahan seribu hektare gitu ya? Berarti?
Ya harus bangun itu aja. Yang lain jangan diutak-atik. Bahkan yang lain nanti akan dibuat reforestasi tadi. Dirajut lagi. Karena sekarang kan di sana kebanyakan tanamannya adalah tanaman monokultur ya. Yang akan ditambang. Ini nanti akan dibuat heterogen. Jadi nggak monokultur lagi. Dibuat hutan lah dalam tanda petik gampangnya gitu. Tapi ini menarik karena apa? Belum pernah ada kota di mana nanti penduduknya itu akan berinteraksi dengan alam.
Kira-kira orang kota mau nggak sama hewan liar, Prof?
Kalau setiap hari ketemu misalnya gitu ya. Ada yang lewat misalnya ada beruang madu gitu ya. Kita mau salaman gitu ya.
Kalau di kota, di Jabodetabek gitu ya. Kalau sudah musim hujan aja ada banyak kobra, Prof. Nah ini hutan. Kira-kira orang mau nggak tinggal di hutan?
Jadi memang kalau saya tanya ke generasi muda ya. Ya mau ke sana malah mereka bilang asik ya, eksotik. Dan mereka cuma tanya satu, kita bisa nggak secara digital terhubung? Iya bisa. Jadi dia secara digital dia bisa berinteraksi dengan London, dia bisa berinteraksi dengan Paris, bisa dengan New York secara digital. Nah masalah hijau itu buat mereka malah plus. Karena kalau di sana pagi-pagi memang kabutnya itu masih bagus.
Airnya juga masih bagus. Apalagi kalau airnya nanti bisa diminum gitu ya. Itu tentu hal-hal yang plus. Cuman bagaimana nanti mencari format di mana orang, alam tadi binatang buas, sama flora faunanya itu semuanya bisa berdampingan itu yang.
Tapi kan nggak mungkin kita akrab Prof dengan hewan-hewan ini, Prof?
Apakah nanti ada barier misalnya. Jadi kotanya itu memang tidak langsung mereka bisa masuk yang binatang buas itu, tapi ada bariernya gitu ya. Di dalam kita menatanya, nanti kita buat konsep-konsep secara alam di mana mereka nanti nggak akan masuk gitu ya. Tapi kan nggak terhindarkan. Misalnya Canberra ya. Canberra itu di beberapa negara, kan ibu kota ya. Ibu kota Australia.
Di beberapa tempat tuh ada pengumuman tuh, hati-hati di sini dengan ada sejenis burung yang kalau kita lewat situ kadang-kadang dia matok kepala kita gitu. Kenapa? Itu teritorinya dia. Ini karena memang kan wildlife ya mereka. Nah itu juga mungkin terjadi di kita gitu. Apakah nanti ada kakak tua atau apa itu juga datang.
Masih alaminya dapet ya?
Dapet.
Bikin aturan ini juga Prof, kayak di New Zealand itu mancing ikan kalau ukuran yang nggak sesuai itu nggak boleh terus dirilis
Betul.
Itu kayaknya menarik juga sih, Prof. Usulan aja. Minimal kita punya usulan buat IKN
Yang menarik juga Mas. Selama ini kan kita terlalu kalau secara teori ini nyebutnya antropocentris ya. Semuanya dilihat dari kepentingan manusia. Pembangunan kan manusia, human center gitu ya. Kalau di sana kita harus alam juga harus kita dan wildlife itu juga harus kan bagian dari itu. Jadi nggak cuma manusia aja tapi alam, semesta nih. Yang kita harus sesuatu yang harus seimbang gitu.
Ini konsep baru loh. Di sana misalnya di beberapa jalan itu memang disediakan terowongan di mana binatang buas itu bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Apalagi kalau dia terpisah karena ada jalannya. Jadi ekosistemnya dia memang harus dibiarkan nyambung. Dia duluan loh daripada kita kan. Kita kan yang belakangan bangun gitu kan. Dia ini rumahnya dia gitu. Nah ini harus seimbang ke depannya.
Jangan sampai ada berita itu gajah masuk ke rumah, ke lingkungan masyarakat gitu. Padahal kan kita yang menjajah lingkungan dia ya, Prof?
Di sana nggak ada gajah untungnya. Tapi ada beruang di sana.
Prof, seberapa urgent pembangunan IKN dilanjutkan di tengah pro dan kontranya?
Yang pertama, ada dua hal nih. Yang pertama kita harus lihat bahwa keputusan pindah Ibu Kota itu di manapun ya di dunia ini keputusan politik. Mau pindah, mau balik lagi gitu ya. Ada beberapa nih tempat-tempat yang akhirnya pindah balik lagi. Ada yang namanya ganti-ganti. Kayak misalnya di Kazakhstan tuh pernah namanya Nur Sultan. Sekarang balik lagi ke Astana gitu ya. Tergantung politiknya. Itu satu. Jadi di dalam perjalanan hingga 2045, mungkin saja itu akan terjadi hal-hal seperti itu. Kita nggak tahu. 20 tahun lagi nih masih. Itu satu.
Yang kedua, kenyataan bahwa sudah sekitar Rp100 triliun kita tanamkan ya. Di sana. Saya sebagai pembayar pajak kan pengennya itu jadi sesuatu dong. Apapun ya. Itu difungsikan sesuatu untuk kemasalahatan masyarakat yang ada. Jadi keputusan politik itu ada keputusan politik. Apakah nanti akan menjadi Ibu Kota dengan fungsi tertentu.
Sekarang ada istilah Ibu Kota politik. Definisinya kita juga udah tahu ya. Atau ini nanti akan berduet dengan Jakarta. Jakarta tetap sebagai Ibu Kota ekonomi finansial global. Di sana mungkin akan jadi fungsi pemerintahan saja. Dan seterusnya. Opsi ini masih terbuka menurut saya. Masih terbuka dan itu akan menjadi keputusan politik. Tapi ingat-ingat buat kita semua ini udah Rp100 triliun dong. Kita pengen sesuatu nih di sana gitu ya. Paling nggak yang udah dibangun itu harus dimanfaatkan.
Jangan sampai mangkrak lah bahasa direct-nya gitu ya, Prof?
Iya lah. Soalnya kalau mangkrak kan kita semua yang rugi kan. Dan ini harus dipakai. Jadi ada tower-tower di sana harus dipakai. Fasilitas di sana harus dipakai.
Sejak Prof mundur, itu kan muncul banyak persepsi. Salah satunya, ah jangan-jangan IKN nggak jadilah, tutup. Tapi sebenarnya keberlanjutan IKN ini masih penting?
Artinya at this point, ini point of no return menurut saya. Kenapa? Karena sudah ada yang terbangun tadi. Sudah terbangun. Bahwa ini kota nanti akan difungsikan menjadi kota riset, kota hijau, kota rujukan, ibu kota politik, ibu kota yang penuh atau sebagainya. Ini masih 20 tahun lagi perjalanannya gitu ya. Dan itu bisa saja terjadi. Karena balik-balik lagi, keputusan semua itu keputusan politik. Tapi yang kita inginkan sebagai warga negara, pembayar pajak, eh dipakai dong itu. Jangan sampai itu nggak dipakai.
Apapun nanti ya. Misalnya ada beberapa departemen saja yang akan ke sana. Misalnya ini akan menjadi satu kota rujukan di mana kota ini benar-benar ada kota di Indonesia yang jadi rujukan, menjadi kota yang cerdas. Di mana tiang penerangan jalan umumnya bisa berbicara dengan kita. Desainnya begitu loh. Yang saya desain di sana ada seperti itu. Istilahnya smart post. Smart post itu salah satu teknologi yang paling baru. Di mana kita nanti bisa kalau mau nanya gitu ya, nanya ke tiang listrik di situ nanti, tiang apa, tiang penerangan jalan di situ ada. Kayak screennya gitu. Itu kita bisa, layarnya kita bisa interaksi. Atau desainnya diterapkan sky taxi, mobil terbang.
Jangan lupa, kita sudah punya awalnya resep bersama dengan Hyundai Motor Corporation pada waktu saya di sana. Dan itu sudah terbang di Samarinda Airport. Kita sudah coba atau misalnya nanti angkutan umumnya tadi yang driverless. Atau misalnya yang kita sendiri sebagai orang di sana jalan ke mana-mana enak, 10 menit, 15 menit gitu. Bisa ngapa-ngapain. Jadi ada satu kota yang jadi rujukan. Dan itu untuk kemasalahan kita semua. Bukan hanya untuk kemasalahatan beberapa orang tertentu.
Terakhir Prof. Ini kalau kita ingin terus tetap berjalan. Karena sudah Rp100 triliun tertanam di sana. Apa tantangan terberatnya? Soal anggaran kah? Soal politiknya kah? Atau soal apa yang saya nggak tahu?
Itu semuanya. Tapi ada satu kata kunci yang menurut saya harus kita ingat. Konsistensi. Konsistensi terhadap apapun yang sudah kita rencanakan. Jangan sampai kita tadi, itu tadi ada good planning less follow through istilahnya. Ini adagium tata kota juga. Planning-nya bagus, tapi kenyataannya padahal ketika terapkan kita implementasikan nggak seperti itu. Jadi konsistenlah terhadap apa yang sudah diputuskan. Diputuskan dan digariskan ya. Putusan mungkin bisa berubah. Tapi prinsip-prinsip bahwa kota itu harus green. Harus inklusif. Jadi nggak cuma buat orang kaya.
Bedanya bikin ibu kota sama real estate kan itu. Kalau real estate kan income levelnya tertentu kan. Kalau ini kan nggak. Kita harus semuanya dari atas sampai bawah. Kan di sana juga ada masyarakat bawah yang harus kita juga perhatikan gitu. Jadi prinsip itu menurut saya prinsip universal dan berpeganglah, konsistenlah pada prinsip itu. Smart, green, inklusif, resilient. Supaya kota ini nanti akan berkelanjutan. Sustainable. Jadi apa? Nah itu nanti. Tanyakan kepada sesuatu yang di depan kan. Akan jadi apa kota ini? Itu keputusan politik.