Disegani Negara Lain karena Adil dan Tegas, Ini Sisi Lain Ratu Paling Terkenal di Jawa
Ratu ini disegani bukan karena wajahnya yang cantik, melainkan karena kemampuan kepemimpinannya.
Tak ada yang berani menyerang kerajaan pimpinan sang ratu
Disegani Negara Lain karena Adil dan Tegas, Ini Sisi Lain Ratu Paling Terkenal di Jawa
Pada abad VII masehi, di Pulau Jawa ada sebuah kerajaan bernama Holing. Kerajaan ini juga dikenal dengan nama Kerajaan Kalingga atau Kerajaan Keling.
Kerajaan Holing merupakan bercorak Hindu Buddha pertama di pantai utara Jawa Tengah. Berbeda dari kerajaan lain, Kerajaan Holing tidak banyak meninggalkan prasasti. Salah satu prasasti peninggalan kerajaan ini ditemukan di kawasan Gunung Merbabu.
(Foto: kawruhbudayajawa.blogspot.com)
Sang Ratu
Salah satu tokoh Kerajaan Holing yang mencuri perhatian dunia adalah Ratu Shima. Selama masa kepemimpinannya, tidak ada kerajaan atau negara lain yang berani menyerang.
Ratu tersebut menggunakan nama Shima, kemungkinan karena dalam bahasa Sanskerta: kata Shima atau Simha berarti singa.Menurut mitologi kuno, singa diartikan sebagai lambang kekuatan dan kekuasaan. Menggunakan kata tersebut secara psikologis mengasumsikan bahwa pemiliknya
mempunyai karakter kuat dan kekuasaan tinggi.
Penggunaan simbol singa sebagai lambang kekuatan dan kekuasaan tidak hanya digunakan pada masa lalu. Bahkan, saat ini singa menjadi identitas nasional sebuah negara, sebagaimana dilansir dari artikel Tokoh Wanita Di Jawa Sekitar Abad VII - XIV Masehi karya R. Istari (Berkala
Arkeologi, 2004)
Pemerintahan
Ratu Sima menjalankan pemerintahan dengan adil dan tegas. Ia tak tebang pilih saat memutuskan setiap perkara. Siapa yang bersalah akan dihukum setimpal, termasuk jika pelakunya putranya sendiri.
Maju di Berbagai Bidang
Selain karena keadilan dan ketegasan Ratu Sima, kerajaan-kerajaan lain tak berani menyerang Kerajaan Holing karena militer/prajurit kerajaan sangat kuat.
Ratu Sima bisa dikatakan memperhatikan semua aspek demi kesejateraan rakyat. Dia sangat konsen pada sektor perdagangan, sosial
ekonominya, hingga bidang kesusastraan.
Pada masa pemerintahannya, ada seorang pendeta agama Budha termasyur bernama
Jnanabhadra. Ia membantu seorang pendeta Cina menerjemahkan
kitab suci agama Budha dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Cina. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa itu hubungan Jawa dengan Cina sudah terjalin baik. (Foto: Freepik rawpixel.com)