Perjalanan Kreatifafa yang Inspiratif, Berawal dari Hobi Kini Jadi Pionir Buku Pop-Up di Indonesia
Kesan pertama terhadap buku sangat menentukan bagaimana seseorang membangun kebiasaan membaca di kemudian hari.
Suasana pagi di kompleks perumahan Karangmojo, Purwomartani, Kabupaten Sleman pada Sabtu (15/2/2025) masih terlihat sepi. Belum banyak warga yang melakukan aktivitas di sana. Namun suasana berbeda ketika sampai di salah satu rumah yang sekaligus menjadi kantor Kreatifafa. Terletak persis di Paradise Loft No 8, di dalam rumah itu sedang ramai penghuni pesantren bersama pengasuhnya yang sekaligus founder dari Kreatifafa, yaitu Fatchul Hidayah Clairine Yuzlar (31) dan Achmad Fathurrohman Rustandi (35).
Disambut hangat oleh Fatchul, perempuan asal Jogja ini dengan semangat menceritakan pengalamannya memulai membangun bisnis Kreatifafa. Sebelum menjadi bisnis penerbitan buku, Kreatifafa merupakan kelompok yang di dalamnya memiliki kegiatan berkumpul bersama anak-anak di halaman rumah. Seiring berjalannya waktu, Kreatifafa berkembang menjadi gerakan yang menginspirasi banyak orang.
Ya, awalnya Kreatifafa merupakan kegiatan membimbing anak-anak sekitar seperti menggambar. Kini, Kreatifafa melebarkan sayap dengan berpartisipasi dalam ajang pameran buku bergengsi hingga pemasarannya sudah sampai pasar global. Berikut kisah perjalanan Kreatifafa dari awal mula berdiri hingga kini menjadi salah satu penerbit buku anak yang diperhitungkan.
Awal Mula Terbentuknya Kreatifafa
Pada tahun 2018, di kompleks vila daerah Ujungberung, Kota Bandung terdapat sebuah rumah sederhana yang terletak di atas bukit. Rumah itu menjadi saksi awal lahirnya Kreatifafa. Rumah ini memiliki garasi dan taman kecil yang menjadi tempat favorit anak-anak untuk berkumpul dan bermain.
Kehadiran kurang lebih 30 anak memunculkan nuansa hangat sehingga menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi pendirinya, yaitu Fatchul dan Fathur. Ya, pada saat itu anak-anak di sekitar rumah mereka setiap harinya datang untuk bermain dan melakukan banyak aktivitas bersama.
“Ya Allah, aku merasa aku tidak punya apa-apa, tidak punya ilmu apa-apa, tapi ternyata aku bisa bersama anak-anak dan itu membuat ku bahagia,” cerita Fatchul mengenang masa-masa awal tersebut.
Untuk memberikan pengalaman agar lebih menarik, berbagai aktivitas mulai diperkenalkan seperti mewarnai hingga mengadakan lomba menggambar. Lomba menggambar hanya ditujukan untuk anak-anak sekitar yang biasa bermain ke rumah pasangan yang baru menikah saat itu. Namun siapa sangka, antusiasnya menarik peserta hingga luar kota Bandung. Demi keberlangsungan lomba menggambar, mereka akhirnya memberikan nama kegiatan itu dengan sebutan Kreatifafa.
Nama Kreatifafa diambil dari potongan kata “kreatif” dan “Fafa”. Kreatif memiliki makna bahwa anak-anak itu memiliki pola pikir yang sangat kreatif, sedangkan Fafa diambil dari nama mereka, yaitu Fatchul dan Fathur.
“Awalnya kegiatan lomba ini hanya untuk anak-anak sekitar, tapi ternyata pesertanya datang dari luar kota juga, sampai Cimahi,” cerita Fatchul saat ditemui di Kantor Kreatifafa pada Sabtu (15/2/2025).
Punya Misi untuk Memberikan Akses Buku Berkualitas
Kreatifafa mengalami perubahan besar ketika pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Kondisi itu membuat mereka harus meninggalkan tempat berkumpul yang sudah mereka bangun selama di Bandung. Mereka harus pindah ke Yogyakarta sambil membawa perasaan haru dan ketidakpastian. Sebagai bentuk kenang-kenangan, Fatchul mencetak buku dan membagikannya kepada anak-anak tersebut. Waktu itu buku yang diproduksi bertemakan islami. Hal ini merupakan langkah kecil yang diharapkan dapat menjadi cikal bakal visi besar Kreatifafa dalam dunia literasi.
Dalam perjalanannya, Fatchul menyadari bahwa akses terhadap buku berkualitas masih menjadi kendala bagi banyak anak. Tidak semua anak memiliki kesempatan untuk membaca buku yang baik, bahkan buku biasa pun sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat. Kurangnya literasi anak dengan tema keislaman juga mendorong Kreatifafa menumbuhkan nilai-nilai keagamaan sejak dini lewat bacaan yang ditawarkan.
Ia percaya bahwa kesan pertama terhadap buku sangat menentukan bagaimana seseorang membangun kebiasaan membaca di kemudian hari. Ketika seorang anak membaca buku pertama mereka dan itu adalah buku dari Kreatifafa, mungkin saja mereka akan mengingat pengalaman itu selamanya.
“Aku merasa ada banyak orang yang tidak bisa mengakses buku bagus. Jangankan buku bagus, buku biasa saja kadang tidak semua bisa mendapatkannya,” katanya.
Karena kondisi itu, Fatchul merasa perlu melakukan sesuatu agar ke depannya banyak anak yang bisa membaca buku dengan layak dan berkualitas. Berangkat dari keresahan itu, ia memutuskan untuk membagikan buku secara bebas. Ia ingin anak-anak memiliki pengalaman pertama membaca buku yang berkesan.
Namun siapa sangka, bagi-bagi buku yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai hadiah perpisahan untuk anak-anak kompleks, ternyata buku buatannya menarik perhatian banyak orang. Mereka ingin memiliki buku dari Kreatifafa. Hal ini membuat permintaan mulai berdatangan hingga akhirnya produksi dalam jumlah lebih banyak dilakukan.
“Kita awalnya bagi-bagi buku hanya ke anak-anak, teman-teman yang punya sekolah dan madrasah. Tapi akhirnya ada permintaan dari banyak orang. Hal itu yang membuat kami berpikir untuk memproduksi buku lebih banyak lagi,” kenangnya.
Buku Kreatifafa Pertama Kalinya Dijual di Big Bad Wolf (BBW)
Tak hanya berdiam diri, Kreatifafa mulai ikut berpartisipasi dalam pameran buku internasional, Big Bad Wolf (BBW) yang dikelola Mizan – tempat sang suami bekerja sebagai editor saat itu. Pada kesempatan itu, Kreatifafa menjual buku pertamanya yang berjudul Tiada Tuhan Kecuali Allah. Respons pasar sangat positif, sehingga buku Kreatifafa terjual habis. Ini lah yang kemudian menjadi pemicu semangat mereka untuk terus berkarya dan memperluas distribusi.
Kini Kreatifafa telah berkembang menjadi penerbit buku pop-up di Indonesia. Kreatifafa tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga edukasi mengenai buku pop-up yang masih belum banyak dikenal masyarakat luas. Salah satu tantangan terbesar mereka adalah memperkenalkan konsep buku pop-up sebagai produk bernilai tinggi dengan proses produksi yang tidak mudah.
Fatchul juga ingin mengedukasi bahwa buku pop-up itu buatan tangan atau handmade. Ia ingin memperkanalkan bahwa buku dari Kreatifafa bukan sekadar buku bacaan biasa. Dengan adanya pesaing, Kreatifafa justru sangat terbantu karena secara tidak langsung masyaraat mulai lebih mengenal buku pop-up.
Proses Produksi Tidak Mudah, Namun Hasilnya Bisa Capai Omzet Ratusan Juta
Untuk keredaksian, prosesnya dilakukan langsung oleh Fatchul dan Fathur di kantor Kreatifafa. Sedangkan dalam proses produksi, Kreatifafa mengandalkan percetakan besar yang biasa mencetak Al-Qur’an dan buku-buku ternama lainnya. Tak heran kalau buku Kreatifafa sudah mendapatkan sertifikasi Forest Stewardship Council (FSC), yang merupakan bukti komitmen terhadap lingkungan. Selain itu, buku Kreatifafa juga sudah memiliki sertifikasi SNI dan Jogja Mark yang menjamin kualitas produk Kreatifafa.
Pada bagian kalimat yang ada di dalam buku, dibuat polanya dengan berima agar anak-anak mudah mencerna. Guna menghasilkan teks kalimat yang sempurna, Kreatifafa bekerja sama dengan psikolog. Oleh karena itu, diksi atau kalimatnya sudah disetujui oleh psikolog. Selain itu, Kreatifafa juga kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk riset konten.
Melihat prosesnya yang panjang untuk membuat satu buku, tak heran ada banyak dummy yang mereka terima selama produksi. Total prosesnya bisa memakan waktu hingga satu tahun. Hal ini dikarenakan dalam prosesnya selalu ada saja yang salah. Risetnya saja memerlukan waktu 6 bulan, proses editing tidak cukup hanya sekali, dan bagian pop-up yang dikerjakan manual terkadang hasilnya tidak langsung sempurna. Maka tak heran jika proses pembuatan buku pop-up Kreatifafa memakan waktu yang cukup lama.
“Kami pengin menghasilkan 100% yang perfeksionis dan pengin menjamin karya yang terbit adalah karya terbaik,” kata Fatchul.
Untuk sekali memproduksi satu tema, bisa menghasilkan 800 hingga 1.000 buku. Sampai saat ini Kreatifafa sudah memiliki tiga tema buku yang berjudul “Tiada Tuhan Kecuali Allah”, “Animals in the Quran” dan “Fruits in the Quran”. Terbaru, Kreatifafa juga sedang kolaborasi dengan Gramedia Group untuk membuat buku Juz ‘Amma yang pemasarannya akan dijual langsung di toko Gramedia.
Buku-buku pop-up Kreatifafa dijual di pasaran dengan harga antara Rp169 ribu hingga Rp199 ribu. Untuk omzetnya Kreatifafa bisa meraup sekitar Rp30 juta per bulan. Target pasar buku Kreatifafa lebih spesifik, yaitu berfokus pada orang tua muda berusia 26-35 tahun serta keluarga Muslim perkotaan yang sedang mencari buku anak berkualitas.
“Kami sadar bahwa tidak semua orang berani membeli buku pop-up karena khawatir cepat rusak. Oleh karena itu, kami juga menyediakan yang tidak sepenuhnya pop-up agar lebih ramah bagi orang tua dengan anak kecil,” tambahnya.
Rumah BUMN Yogyakarta (RuBY) Bantu Perluas Jangkauan Pasar
Kreatifafa mulai fokus menjual buku-bukunya pada tahun 2021. Untuk meningkatkan jangkauan pasar, Kreatifafa mengikuti program binaan UMKM milik Bank BRI di Rumah BUMN Yogyakarta (RuBY) pada tahun 2023. Awal mula mengetahui tentang RuBY didapat dari grup WhatsApp UMKM Jogja. Pertama kali bergabung di RuBY, saat itu hanya Kreatifafa satu-satunya UMKM yang fokus menjual buku. Dari situ lah Kreatifafa bergabung dengan RuBY dan mengikuti berbagai pelatihan yang sering diadakan baik online maupun offline.
“Kita memang di bawah binaan Bank BRI. Awalnya saya ikut kelasnya, lalu ikut pameran-pameran,” cerita Fatchul.
Bank BRI terus membantu memberdayakan komunitas khususnya UMKM agar bisa naik kelas. Salah satu langkah nyata Bank BRI dalam mendorong UMKM dengan menghadirkan RuBY yang dikelola langsung oleh Bank BRI. RuBY menjadi wadah yang bisa dimanfaatkan pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnis serta meningkatkan kapasitas dan kapabilitas usahanya.
“Kalau untuk pengembangan UMKM, kita juga mengadakan pelatihan-pelatihan yang selalu konsisten,” kata Condro Rini, Koordinator Ruby tahun 2024, Jumat (19/4/2024).
Selain mengikuti kelas pelatihan seputar bisnis, keikutsertaan Kreatifafa dalam berbagai program BRI juga membuka banyak peluang baru yang mendukung pertumbuhan bisnisnya. Keikutsertaan Kreatifafa dalam pameran bukan hanya sebagai ajang promosi, namun juga menjadi wadah untuk bertukar pengalaman dan wawasan dengan pelaku UMKM lain.
Terbaru, Kreatifafa mengikuti acara pameran di BRI UMKM EXPO(RT) yang diadakan pada 30 Januari hingga 2 Februari 2025 di ICE BSD, Tangerang. Bukan kali pertama Kreatifafa mengikuti acara pameran yang diadakan oleh BRI, sebelumnya Kreatifafa juga pernah mengikuti Brilianpreneur 2023. Di kesempatan pameran kemarin, menjadi pengalaman baru sekaligus membuka jalan bagi bisnis mereka untuk lebih berkembang.
Pada pameran tersebut, produk-produk mereka mendapat perhatian besar dari pengunjung, bahkan stok barang yang dibawa habis terjual. Selain peningkatan penjualan, dampak yang dirasakan adalah semakin luasnya jaringan bisnis. Banyak penerbit yang tertarik untuk bekerja sama untuk memproduksi buku di Kreatifafa. Hal ini menciptakan peluang untuk mengembangkan usaha lebih jauh.
Selain pelaku UMKM yang aktif mengikuti acara yang diadakan BRI, dari pihak RuBY juga aktif memantau perkembangan bisnis setiap UMKM hingga melakukan kunjungan.
“Januari kemarin teman-teman dari rumah BUMN Yogyakarta (RuBY) juga berkunjung ke sini dan bersilaturahmi,” kata Fatchul.
Kreatifafa Dapat Perhatian Tingkat Pasar Global: Ikut Berbagai Kompetisi Bisnis
Berkat karya-karyanya yang inovatif, Kreatifafa berhasil menarik perhatian dunia. Pada ajang Sharjah International Book Fair 2024 di Uni Emirat Arab (UEA), Kreatifafa mewakili Indonesia di antara penerbit global ternama. Hadirnya Kreatifafa dalam konferensi tersebut membuahkan hasil menakjubkan. Beberapa karya Kreatifafa berhasil menarik minat penerbit luar negeri hingga akhirnya hak ciptanya dibeli dan diterjemahkan ke dalam bahasa asing.
“Untuk buku Animals in the Quran dan Fruits in the Quran telah dibeli oleh penerbit Uni Emirat Arab dan akan diterjemahkan dalam bahasa Arab,” cerita Fatchul dengan rasa bangga.
Tidak hanya itu, proses kreatif yang melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi kunci utama dalam kesusksesan ini. Selain melakukan brainstorming ide sendiri, mereka juga selalu melibatkan ilustrator untuk memastikan karya yang dihasilkan bisa maksimal dan memiliki jiwa.
Kreatifafa tidak hanya unggul dalam bidang seni dan literasi, tetapi juga aktif mengikuti kompetisi bisnis. Tak heran kalau Kreatifafa sudah menyabet banyak penghargaan bergengsi seperti juara 3 Astra Start-Up Youthpreneur Competition 2023, finalis dalam Program Apresiasi Kreasi Indonesia 2023 yang diinisiasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan juara utama di Santripreneur Award 2024. Prestasi ini menunjukkan bahwa Kreatifafa tidak sekadar menghasilkan karya kreatif, tetapi juga memiliki model bisnis yang solid dan berdaya saing.
Adanya dukungan dari para mentor dan semangat untuk terus belajar menjadi faktor utama dalam pencapaian ini. Meskipun owner cukup idealis, namun mereka tetap memastikan bahwa setiap langkah yang diambil akan memberikan dampak nyata.
Selain itu, mereka juga sedang dalam tahap pengembangan berbagai proyek edukatif seperti buku aktivitas untuk anak-anak PAUD yang laris di pasaran. Kesuksesan ini menunjukkan adanya kebutuhan pasar yang tinggi terhadap produk edukasi yang interaktif dan inovatif.