Perjalanan Goodang Kopi Muria, Berawal dari Wasiat kini Tumbuh Pesat Bersama BRI dan Para Petani
Goodang Kopi Muria menjadi wadah para petani kopi di lereng Gunung Muria untuk menjual hasil panen.
Pada 2020 berdiri sebuah Goodang Kopi di lereng Gunung Muria, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Tempat ini menjadi wadah untuk para petani kopi di area sekitar untuk menjual hasil panen.
Bermula dari sebuah wasiat, Goodang Kopi Muria kini telah bertumbuh pesat. Ditemui Merdeka.com pada Rabu (26/3), pengelola Goodang Kopi Muria, Teguh Budi Wiyono (51) menceritakan perjalannya memulai hingga mengembangkan bisnis kopi khas Gunung Muria tersebut.
Menurut penuturannya, Goodang Kopi lahir berkat bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank Indonesia (BI). Bantuan tersebut berupa pembangunan gudang sederhana, tempat penjemuran hingga peralatan dasar untuk mengolah kopi.
"Goodang Kopi ini berdiri 2020, dapat bantuan dari CSR-nya BI lewat dana aspirasi, waktu itu bantuannya harusnya ke kelompok tani tapi kelompok tani gak punya legalitas badan hukum, akhirnya disarankan yang penting ada legalitas hukumnya apa. Waktu itu yang punya legalitas hukum Pak Sokib almarhum yang dihubungi pertama kali, itu Perkumpulan Masyarakat Pelindung Hutan (PMPH), pengajuan lewat PMPH tapi untuk kelompok tani." ungkap Teguh menceritakan awal mula berdirinya Goodang Kopi.
Keberadaan Goodang Kopi kemudian diharapkan bisa menjadi pusat aktivitas petani kopi di kawasan Muria. Inisiatif tersebut pun berjalan baik hingga pandemi menghantam dan mengubah keadaan.
Sokib, sosok penting di balik Goodang Kopi Muria wafat akibat Covid-19. Sebelum kepergiannya, Sokib sempat berpesan kepada Teguh untuk tetap mengelola Goodang Kopi Muria yang telah dirintis.
"2020 dapat bantuan BI, 2021 bulan Juli Pak Sokib kena Covid meninggal. Sebelum itu, Pak Sokib cuma ngomong "Nek aku rak ono tolong rumati sing apik" ya sudah setelah beliau wafat saya rumati (rawat) yang bagus, saya ambil alih koordinasi semua." ucap Teguh mengenang pesan almarhum Sokib kepadanya.
Perjalanan Awal Mengelola Goodang Kopi Muria
Pada masa awal mengelola Goodang Kopi Muria, Teguh mengaku tidak memiliki pengalaman mengolah kopi. Ia belajar dari nol untuk mengolah sisa kopi milik almarhum Sokib dan hasil panen dari beberapa petani sekitar.
"Saya gak pernah proses kopi sama sekali, kopi yang tersisa itu saya buat latihan, ibaratnya dolanan. Terus ada yang jual dikit-dikit saya tampung buat latihan" jelas pria kelahiran 1974 itu.
Dengan tekad untuk menjaga wasiat yang diberikan almarhum Sokib, Teguh terus bereksperimen dengan stok kopi yang dimiliki. Ia belajar dari proses pascapanen mulai fermentasi, pengeringan hingga roasting biji kopi.
Seiring berjalannya waktu, Ia mulai memahami seluk-beluk kopi Muria yang memiliki cita rasa autentik yang tak bisa ditemukan di tempat lain.
Mengandalkan Bantuan Modal dari BRI
Dalam mengembangkan Goodang Kopi Muria, Teguh mengaku menghadapi tantangan besar terkait permodalan. Dana kas Goodang Kopi saat itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mengolah kopi.
Uang hasil penjualan kopi yang Ia peroleh diputar untuk modal bisnis. Hingga pada 2022, Teguh memberanikan diri untuk mengajukan pinjaman kepada BRI untuk tambahan modal.
"Saya beranikan diri untuk pinjam BRI pertengahan tahun 2022, cuma 15 juta gak wani akeh (gak berani banyak), modal BPKB. Tapi ternyata kuat, 2022 akhir saya tutup, terus pinjam lagi lebih banyak sampai 75 juta." jelas Teguh.
Suntikan modal dari BRI melalui Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) digunakan Teguh untuk membeli kopi basah milik para petani di lereng Muria. Kopi yang Ia beli kemudian diolah menjadi green bean hingga kopi bubuk dalam kemasan.
Permasalahan permodalan tak berhenti sampai di situ. Modal yang Teguh dapat dari BRI ternyata masih belum cukup untuk membeli hasil panen para petani. Ia kemudian kembali mengajukan pinjaman dengan harapan dapat mendapat pinjaman KUR dengan nominal yang lebih besar.
"Pas pengajuan lagi di 2024 itu Kepala Unit BRI Colo sampai datang ke sini, saya ditanya butuh apa, terus saya bilang, "Saya itu punya alat, punya gudang tapi saya gak punya uang. Saya hanya kenal BRI yang mau ngasih modal buat saya. Nek BRI gak kasih modal ya saya gak jalan"," ungkap Teguh.
Menurut perhitungan Teguh, modal yang Ia butuh saat itu memang cukup besar. Berdasarkan data yang Ia miliki, dengan lahan 175 hektar jumlah petani kopi di wilayah Colo mencapai 400 petani, yang artinya jika Ia membeli semua hasil panen petani maka modal sebesar apapun masih belum cukup.
"Saya juga ditanya butuhnya berapa, saya jawab yaa sebanyak-banyaknya, kalau bisa saya ambil maksimal 100 juta, terus langsung acc" terang Teguh.
Pinjaman KUR BRI menjadi solusi masalah permodalan yang Ia hadapi. Secara keseluruhan penyaluran KUR BRI 2025 hingga periode ini telah dirasakan manfaatnya oleh 649.600 pengusaha UMKM termasuk Teguh sebagai pengelola Goodang Kopi Muria.
Bertumbuh Bersama Petani Kopi Lereng Muria
Seiring bertambahnya modal, kapasitas produksi Goodang Kopi Muria meningkat. Teguh kemudian berani merangkul lebih banyak petani kopi di sekitarnya untuk tumbuh bersama.
Dari 2021 hingga 2023 jumlah kopi basah yang ia peroleh dari petani terus meningkat, mulai 4 ton, 11 ton hingga sekitar 14 ton. Namun pada 2024 karena harga kopi mulai melonjak tinggi, Ia hanya memperoleh sekitar 7 ton kopi basah dari para petani. Lebih lanjut, Teguh mengungkapkan jika harga kopi akan dipengaruhi dengan kondisi politik pada tahun itu.
"2024 itu di Indonesia ada Pilkada Pilpres, kalo rusuh wah harganya akan anjlok. Akhirnya gak berani nyetok banyak, kalo nyimpen akeh terus anjlok repot iki" paparnya mengungkapkan spekulasi penjualan kopi saat momen pilkada.
Namun usai tahun politik berakhir, permintaan pasar justru semakin melonjak. Stok kopi yang telah diolah sebanyak 7 kuintal kini hanya tersisa 3 kuintal. Terlebih saat ini produk Goodang Kopi Muria telah dikenal luas hingga Belanda.
"Permintaan kemarin dari Jakarta, dia kerja di Belanda, setelah bawa sampel yang udah mateng ternyata banyak peminatnya terus kemarin info butuh 10 ton petik merah, waduh ya gak bisa, gak ada bahan baku." ungkap Teguh menceritakan tingginya permintaan kopi petik merah.
Dengan tingginya permintaan tentu saja membuat Teguh membutuhkan lebih banyak bahan baku biji kopi dari para petani. Namun dalam berbisnis, Ia sangat memperhatikan keberlangsungan produsen kopi lain di sekitarnya.
"Meski permintaan banyak, saya gak mau menyakiti tengkulak yang lebih dulu ada dari saya untuk borong kopi petani jatah mereka (para tengkulak lainnya)." ungkapnya.
Goodang Kopi Bagian dari Konservasi Muria
Lebih dari sekedar bisnis, Goodang Kopi Muria juga menjadi bagian dari gerakan konservasi lingkungan di wilayah Gunung Muria. Sebagian dari keuntungan usaha yang didapat disalurkan untuk mendukung kegiatan pelestarian hutan melalui Penggiat Konservasi Muria (PEKA Muria).
"Setiap ada keuntungan dari Goodang Kopi entah dari jasa wisata, atau penjualan produknya, itu saya kumpulkan berapa persennya saya sumbangkan untuk kegiatan PEKA Muria" ujarnya.
Apa yang dilakukan Teguh sejalan dengan amanah yang diberikan almarhum Sokib untuk merawat Goodang Kopi Muria dengan baik. Termasuk mengembalikan sebagian keuntungan untuk konservasi lingkungan di Muria tempat pohon kopi tumbuh subur.
"Karena amanat Pak Sokib tolong rumati sing apik, setelah untuk memenuhi kebutuhan dapur saya, sisanya ya untuk konservasi, untuk kegiatan lain di sekitar sini, untuk CSR-nya. Sing penting untung gak akeh, kon ngerumati kok luru untung akeh (yang penting untung gak banyak, disuruh merawat kok cari untung banyak)" pungkas Teguh yang mengaku tak mau mengambil untung banyak dalam menjalankan usaha Goodang Kopi yang merupakan amanat mendiang Sokib.