Bersih-Bersih di Jakbar, Polisi Dalami Keterlibatan Ormas dan Karang Taruna Usai Tangkap Puluhan Preman
Para pelaku aksi premanisme berkedok menjaga parkir liar di kawasan CNI, Kembangan Selatan, Jakarta Barat.
Kepolisian menangkap 22 orang terlibat aksi premanisme terhadap pedagang kaki lima di kawasan CNI, Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (13/5) malam. Puluhan orang ditangkap kepolisian itu salah satunya berasal dari ormas Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya.
"Hasil pendalaman dari teman-teman kami dari jajaran reserse, mereka ada yang berasal dari sebuah ormas dengan inisial G, oknumnya ya, kemudian yang kedua ada berasal dari ormas dengan inisial F, dan ada juga yang berasal dari karang taruna," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi kepada wartawan, Rabu (14/5).
Ade mengatakan, para pelaku aksi premanisme berkedok menjaga parkir liar di kawasan CNI, Kembangan Selatan, Jakarta Barat. Pelaku memberikan karcis ilegal kepada para pengendara yang ingin memarkirkan kendaraannya.
Aksi premanisme ini juga dilakukan terhadap para pedagang kaki lima dengan memberlakukan pungutan liar. Pungutan tersebut setelah kepolisian mendapatkan informasi dari masyakarat adanya pungutan liar terhadap dari ormas tertentu yang telah membuat resah pedagang sekitar.
"Ini ada beberapa barang bukti karcis yang mereka cetak sendiri, kemudian ini ada rekapan hasil pungutan. Dan hasil dialog kami semua tadi dengan rekan-rekan pedagang kaki lima," terang Ade Ary.
Pedagang Kaki Lima Dipatok Rp1 Juta
Berdasarkan laporan dari masyarakat, para pedagang kaki lima mengaku dimintai uang secara paksa dari ormas-ormas tersebut dengan harga yang sudah dipatok. Ade mengukapkan untuk satu lapak pedagang dimintai uang mencapai Rp1 juta.
"Rp1 juta, kemudian uang listrik 10 ribu, uang bulanan 350 dan 400. Ini juga harus kita cari solusinya juga ya, tidak serta merta penindakan saja ya, kita harus cari akar masalahnya, ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama," ujar mantan Kapolres Jaksel itu.
Ade Ary juga menghimbau kepada masyarakat yang menjadi korban pemerasan agar dapat segera melaporkan ke pihak kepolisian sekitar.
Ade Ary menjelaskan, pemilihan lokasi razia di CNI bukan tanpa alasan. Dia menyebut wilayah tersebut menjadi salah satu titik rawan pungli berdasarkan informasi dari masyarakat dan hasil pengamatan langsung kepolisian.
"Karena berdasarkan informasi yang masuk dari masyarakat sudah sangat resah dengan berlaku para oknum yang melakukan pungutan-pungutan liar," kata Ade Ary.
Dalam operasi gabungan melibatkan 734 personel dari Polda Metro Jaya, Polres Jakarta Barat, TNI, dan Satpol PP, ditangkap 22 orang diduga terlibat dalam praktik pungli. Beberapa pelaku terafiliasi dengan ormas tertentu dan karang taruna. Mereka memalak menggunakan modus karcis dengan dalih uang pangkal, uang listrik harian, hingga biaya kebersihan.
Ade Ary menegaskan, operasi pemberantasan premanisme akan berlanjut ke titik-titik lain di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Polisi akan mendatangi tempat yang paling banyak dikeluhkan masyarakat. Misalnya seperti di kawasan CNI, Kembangan, Jakarta Barat.
"Kegiatan ini terus dilakukan, untuk memberikan perlindungan secara optimal kepada masyarakat. Dan merespon setiap keluhan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan kepolisian," ujar dia.
Lebih lanjut, Ade menjelaskan kepolisian juga tak ingin terjebak pada pendekatan hukum semata. Karena itu, ia meminta Babinkamtibmas, bekerjasama dengan Babinsa, Kepala Desa, Lurah untuk terus memberikan imbauan-imbauan agar tidak melakukan kegiatan premanisme, memaksakan kehendak dan melakukan pungutan liar.
"Kami tidak bisa bekerja sendiri, harus bekerja sama juga karena ada struktur-struktur sosial ya, ada Pak RT, ada Pak RW, tokoh tokoh, mari sama-sama kita lindungi masyarakat. Ya, segala bentuk tindakan premanisme, jangan takut untuk melaporkan ya," dia menandaskan.