Sejarah Indonesia: Palangkaraya sebagai Bakal Ibu Kota RI
Salah satu teks cerita sejarah adalah adanya gagasan Palangkaraya sebagai Bakal Ibukota Indonesia.
Indonesia sendiri memiliki segudang cerita sejarah Indonesia. Teks cerita sejarah Indonesia merupakan teks yang menceritakan tentang kejadian masa lalu yang sesuai fakta dengan menceritakan latar belakang terjadinya peristiwa tersebut.
Salah satu teks cerita sejarah adalah adanya gagasan Palangkaraya sebagai Bakal Ibukota Indonesia. Wacana pemindahan ibu kota ke Pulau Kalimantan bukanlah hal baru.
Pada masa pemerintahan Sukarno, sudah pernah muncul gagasan serupa. Namun, jika saat ini rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur, tepatnya di Ibu Kota Nusantara (IKN), pada masa Sukarno gagasan tersebut mengarah pada pemindahan ibu kota ke Kalimantan Tengah, tepatnya di Palangkaraya.
Pada masa pemerintahan Sukarno, Palangkaraya sempat dipilih sebagai pemindahan ibu kota Republik Indonesia dari Jakarta pada 1964. Wacana ini Sukarno ungkapkan sendiri pada hari peringatan ulang tahun Jakarta ke 437 pada tanggal 22 Juni 1964.
Alasan Palangkaraya
Mengutip buku Soekarno dan Rencana Desain Ibu Kota RI di Palangkaraya karya Wijanarka, disebutkan bahwa Sukarno sangat mengagumi Piazza del Popolo di Roma, Italia, mal di Washington DC, dan master plan kota Berlin.
Ternyata, master plan struktur Kota Palangkaraya memiliki kesamaan dengan ketiga model tersebut.Palangkaraya juga berada di posisi strategis, yakni terletak di titik tengah garis imajiner yang menghubungkan Kota Sabang di Aceh (paling barat) dengan Kota Merauke di Papua (paling timur).
Kota ini juga berada tepat di tengah-tengah antara garis utara dan selatan yang melewati Palangkaraya.
Selain itu, Palangkaraya dipilih sebagai calon ibu kota negara karena, menurut Sukarno, Pemerintah RI belum pernah merancang kota baru sendiri. Semua kota yang ada saat awal kemerdekaan merupakan peninggalan dari masa kolonial.
Gagasan Gagal
Dan Palangkaraya sendiri merupakan kota baru mandiri pertama di awal kemerdekaan. Namun, gagasan Sukarno untuk memindahkan ibu kota RI dari Jakarta ke Palangkaraya tidak pernah terjadi.
Gagalnya gagasan ini diterapkan karena tiga alasan. Pertama, fasilitas dan aksesibilitas yang terbatas, terutama untuk mendukung acara-acara nasional dan kenegaraan yang diprioritaskan oleh Sukarno saat itu, seperti Asian Games (1962), Ganefo (Games of The New Emerging Forces) (1963), dan Konferensi Wartawan Asia Afrika (1963).
Kedua, kesulitan dalam mendapatkan bahan baku untuk membangun Palangkaraya sebagai ibu kota. Ketiga, lambatnya kemajuan pembangunan Palangkaraya yang terlihat dari kunjungan kedua Sukarno pada tahun 1959.Reporter Magang: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti