Ini Sosok Pejabat Licik Kerajaan Majapahit, 'Sengkuni' Suka Adu Domba Sebabkan Prahara Besar
Mahapati, sosok licik dalam sejarah Majapahit, memainkan peran penting dalam konflik internal yang mengguncang kerajaan.
Mahapati adalah salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam sejarah awal Kerajaan Majapahit. Dikenal karena kelicikannya, ia berperan besar dalam memicu konflik internal yang mengakibatkan jatuhnya banyak tokoh penting kerajaan.
Dalam sumber-sumber sejarah seperti Kitab Pararaton dan Kidung Sorandaka, Mahapati disebut sebagai Rakryan Patih sejak tahun 1316. Melalui berbagai cara, ia berusaha mencapai ambisinya untuk menjadi Mahapatih, meskipun dengan cara yang sangat licik.
Dalam perjalanan sejarahnya, Mahapati digambarkan sebagai sosok yang pandai menghasut dan gemar memfitnah. Taktik-taktik yang digunakannya untuk mencapai tujuannya sangat beragam, mulai dari mengadu domba hingga menyebarkan fitnah secara luas.
Salah satu tindakan paling terkenal yang dilakukannya adalah mengadu domba antara Ranggalawe dan Nambi, dua tokoh penting Majapahit. Tindakan ini memicu pemberontakan Ranggalawe yang berujung pada kematian banyak prajurit, termasuk Ranggalawe dan Lembu Sora.
Pemberontakan ini dianggap sebagai perang saudara pertama di Majapahit, yang menunjukkan dampak besar dari permainan politik Mahapati.
Selain itu, Mahapati juga terkenal karena memfitnah Mpu Nambi, Mahapatih pertama Majapahit, kepada Raja Jayanagara. Fitnah ini terjadi pada saat Nambi sedang berduka cita, memperlihatkan sifat kejam dan oportunis Mahapati.
Akibat dari fitnah ini, Mpu Nambi mengalami pemecatan dan akhirnya kehilangan nyawanya. Tindakan ini menunjukkan betapa jauh Mahapati bersedia melangkah untuk mencapai ambisinya.
Penyebaran Fitnah dan Ketidakstabilan di Majapahit
Mahapati tidak hanya berhenti pada dua tindakan tersebut. Ia secara sistematis menyebarkan fitnah terhadap para pejabat kuat Majapahit, menjatuhkan satu per satu dari mereka untuk membuka jalan menuju jabatannya yang diinginkan sebagai Mahapatih. Tindakan-tindakannya ini menyebabkan ketidakstabilan dan kekacauan di kerajaan, yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan di Majapahit.
Konflik yang ditimbulkan oleh Mahapati tidak hanya berdampak pada individu yang difitnah, tetapi juga menciptakan suasana ketidakpercayaan di antara para pejabat kerajaan. Dalam suasana yang penuh ketegangan ini, banyak pejabat yang merasa terancam dan tidak aman, yang pada gilirannya memperburuk keadaan politik di Majapahit.
Peran dalam Pemberontakan Ra Kuti
Salah satu peristiwa penting yang melibatkan Mahapati adalah pemberontakan Ra Kuti. Meskipun detail tentang peristiwa ini kurang jelas, keterlibatan Mahapati dalam kekacauan besar yang ditimbulkan sangat signifikan. Pemberontakan ini menjadi salah satu puncak dari ketidakstabilan yang terjadi di Majapahit akibat tindakan-tindakan licik Mahapati.
Akibat dari berbagai tindakannya, Mahapati akhirnya dihukum mati setelah pemberontakan Ra Kuti pada tahun 1319. Hukuman ini menjadi titik akhir dari karier politiknya yang penuh intrik dan manipulasi. Masyarakat Majapahit pun mulai menyadari dampak buruk dari ambisi dan kelicikan yang ditunjukkan oleh Mahapati.
Mahapati sering dibandingkan dengan tokoh Sengkuni dalam pewayangan karena kelicikannya yang luar biasa. Meskipun sumber-sumber sejarah memberikan gambaran negatif tentang Mahapati, penting untuk diingat bahwa interpretasi sejarah dapat bervariasi.
Pemahaman yang lebih dalam mengenai peran Mahapati dalam sejarah Majapahit mungkin memerlukan penelitian lebih lanjut. Namun, jelas bahwa pengaruhnya terhadap konflik internal di kerajaan sangat signifikan dan menjadi bagian penting dari narasi sejarah Majapahit.