‘Duel’ Raden Saleh vs Nicolaas Pieneman di Balik Penangkapan Pangeran Diponegoro
Lewat karya seni Raden Saleh menjawab adegan yang dilukis oleh Nicolaas Pieneman.
Penulis: Arsya Muhammad
Tahun 1830-1835, setelah Perang Jawa berakhir, Nicolaas Pieneman, seorang pelukis Belanda membuat lukisan Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal de-Cock. Lukisan ini sekarang tersimpan di Rijksmuseum.
Pieneman melukis Diponegoro pasrah menyerah. Bahasa tubuhnya menggambarkan Sang Pangeran benar-benar takluk pada Jenderal De Cock.
Sementara sang jenderal berdiri dengan pongah. Tangannya menunjuk penuh kuasa, seolah-olah memerintahkan Diponegoro segera dibawa pergi dari tempat itu.
“Di sana tidak ada bantahan, tidak ada kehebohan, dan melalui sandiwara yang dangkal serta mengejek, bekibar bendera tiga warna Belanda,”
beber Werner Kraus dalam buku Raden Saleh, Awal Seni Lukis Modern Indonesia.
Pieneman adalah pelukis besar Belanda. Penerima gelar kehormatan ksatria Orde Singa Kerajaan. Dia juga anggota Akademi Seni Rupa Kerajaan Belanda. Atas karya-karyanya, Pieneman meraih delapan medali penghargaan.
Werner Kraus menduga, saat di Belanda, Raden Saleh kemungkinan pernah melihat lukisan Diponegoro tersebut. Saat itu pelukis nomor satu dari Jawa tersebut mendapat beasiswa untuk mempelajari seni lukis di Benua Eropa.
Setelah kembali ke Batavia, Raden Saleh mengetahui wafatnya Pangeran Diponegoro dari sebuah artikel tanggal 3 Februari 1855. Sesaat setelah itu, dia memutuskan untuk melukis penangkapan pejuang Perang Jawa tersebut.
Raden Saleh punya hubungan emosional yang dekat dengan perjuangan Pangeran Diponegoro. Beberapa saudaranya, berjuang di pihak Diponegoro sebagai panglima perang. Dia juga yang diduga membocorkan buruknya perlakuan Belanda kepada Diponegoro selama di tahanan, pada wartawan di Paris.
Raden Saleh kemudian meminta izin pemerintah Belanda untuk melakukan penelitian ke Magelang. Tempat penangkapan Diponegoro di kediaman Residen Kedu. Namun Pemerintah Kolonial tidak memberikan izin.
Untungnya Raden Saleh pernah mengunjungi Magelang tahun 1852 dan 1853. Dia sudah punya gambaran yang baik tentang lokasi penangkapan tersebut.
Raden Saleh mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menyelesaikan lukisan. Ini merupakan pengalaman pertama baginya menggambar 40 orang lebih dalam satu lukisan. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melukis, kemungkinan di studio.
Tahun 1857, selesailah lukisan fenomenal tersebut. Penangkapan Diponegoro, disebut sebagai salah satu mahakarya yang dihasilkan Sang maestro.
Diponegoro dalam lukisan Raden Saleh menunjukkan air muka penuh amarah dan sikap menantang.
Raden Saleh menempatkan Diponegoro dan Jenderal De Cock dalam satu tingkat tangga yang sama. Berbeda dengan Pieneman yang melukis Diponegoro berada lebih rendah.
Lewat simbol, Raden Saleh melukiskan Jenderal De Cock berada di sisi kiri. Melambangkan ketidakjantanan. Tidak ada kegagahan dari De Cock seperti dalam lukisan Belanda. Wajahnya datar, tanpa ekspresi kemenangan.
Bukankah Diponegoro tidak dikalahkan dalam medan perang, tetapi dijebak dalam perundingan yang tidak adil?
Puncaknya, Raden Saleh melukiskan orang-orang Belanda berkepala besar. Hal ini mengingatkan masyarakat pada sosok hantu jahat di Jawa yang berkepala besar. Mungkin ini bentuk ejekan Raden Saleh atas kecurangan Belanda pada Diponegoro.
Lewat karya seni Raden Saleh menjawab adegan yang dilukis oleh Nicolaas Pieneman.
Lukisan tersebut kemudian diserahkan pada Raja Willem III. Oleh raja Belanda, lukisan tersebut kemudian disumbangkan ke rumah jompo militer di Broenbeek.
Dari sana, tahun 1975 lukisan itu sampai di Indonesia sebagai hadiah dari keluarga kerajaan Belanda. Kini menjadi koleksi dari Istana Presiden Yogyakarta.