Trivia: Peringati 200 Tahun Perang Jawa, BI Jateng Kuatkan Literasi Keuangan UMKM Lewat 'Rupiah Tresno Budoyo

Bank Indonesia Jawa Tengah menyelenggarakan 'Rupiah Tresno Budoyo' untuk memperkuat literasi keuangan UMKM, sekaligus melestarikan budaya dan semangat kemandirian ekonomi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Trivia: Peringati 200 Tahun Perang Jawa, BI Jateng Kuatkan Literasi Keuangan UMKM Lewat 'Rupiah Tresno Budoyo
Bank Indonesia Jawa Tengah menyelenggarakan 'Rupiah Tresno Budoyo' untuk memperkuat literasi keuangan UMKM, sekaligus melestarikan budaya dan semangat kemandirian ekonomi. (AntaraNews)

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah sukses menyelenggarakan program edukasi ekonomi bertajuk "Rupiah Tresno Budoyo" di Gedung Radjawali, Semarang. Acara ini secara khusus menyasar para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah tersebut. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat literasi keuangan serta semangat kemandirian ekonomi masyarakat.

Deputi Kepala Perwakilan BI Jateng, Nita Rachmenia, menjelaskan bahwa "Rupiah Tresno Budoyo" merupakan wujud nyata sinergi antara edukasi ekonomi dan pelestarian budaya. Kegiatan ini mengambil tema Pangeran Diponegoro, bertepatan dengan peringatan 200 tahun Perang Jawa. Semangat perjuangan Pangeran Diponegoro menjadi inspirasi utama dalam program ini.

Gelaran ini menjadi platform penting bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM, untuk mendalami literasi keuangan dan memahami sistem pembayaran digital. Selain itu, program ini juga berupaya menumbuhkan semangat kemandirian ekonomi di tengah tantangan modern. Sekitar 200 perempuan pelaku UMKM dari berbagai daerah di Jateng turut berpartisipasi.

"Rupiah Tresno Budoyo" bukan sekadar kegiatan edukasi biasa, melainkan sebuah inisiatif yang memadukan penguatan ekonomi dengan pelestarian nilai-nilai budaya. Deputi Kepala Perwakilan BI Jateng, Nita Rachmenia, menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk nyata sinergi tersebut. Sebelumnya, BI Jateng juga memiliki program serupa di bidang olahraga, menunjukkan komitmen dalam berbagai sektor.

Pemilihan tema Pangeran Diponegoro pada tahun ini sangat relevan karena bertepatan dengan 200 tahun Perang Jawa. Nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro, seperti kemandirian dan kedaulatan, diangkat sebagai semangat utama. Semangat ini diharapkan dapat menular kepada seluruh peserta, terutama para pelaku UMKM.

Nita Rachmenia menjelaskan bahwa semangat tersebut sangat relevan dengan konteks saat ini. Ini adalah bagaimana memperkuat kemandirian ekonomi dan mempercepat digitalisasi sistem pembayaran di era modern. "Rupiah Tresno Budoyo" menjadi jembatan untuk mengintegrasikan nilai-nilai sejarah dengan kebutuhan ekonomi kontemporer.

Kegiatan ini juga menjadi wadah bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM, untuk memperkuat literasi keuangan. Mereka juga diperkenalkan dengan sistem pembayaran digital yang semakin penting. Tujuannya adalah menumbuhkan semangat kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

Program "Rupiah Tresno Budoyo" diikuti oleh sekitar 200 perempuan pelaku UMKM dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Mereka merupakan binaan dari BI Jateng, Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jateng, serta komunitas usaha lainnya. Partisipasi aktif ini menunjukkan antusiasme tinggi dari sektor UMKM.

Dalam sesi talkshow pertama, para peserta mendapatkan edukasi mendalam tentang literasi keuangan dan akses layanan perbankan. Sesi ini dilanjutkan dengan pelatihan pemasaran digital. Pelatihan ini fokus pada fotografi produk, keterampilan penting untuk promosi di era digital.

Nita Rachmenia menekankan peran krusial UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional. "UMKM merupakan tulang punggung perekonomian, dan lebih dari 60 persen pelakunya adalah perempuan. Di Jateng dan DIY, jumlahnya mencapai hampir 20 persen dari total nasional. Karena itu, kami ingin perempuan pelaku usaha semakin berdaya," katanya. Oleh karena itu, BI Jateng berkomitmen untuk memberdayakan perempuan pelaku usaha agar semakin berdaya.

Sesi kedua menyoroti tema kemandirian pangan, dengan menghadirkan narasumber dari komunitas sorgum dan ketela. Mereka memperkenalkan berbagai bahan pangan alternatif yang inovatif. Melalui inovasi pangan ini, BI Jateng ingin menanamkan kesadaran bahwa kedaulatan ekonomi dapat dimulai dari pilihan bahan baku produksi.

Nita Rachmenia berharap bahwa semangat perjuangan Pangeran Diponegoro dapat terus menginspirasi para pelaku UMKM di era digital saat ini. Semangat ini diinterpretasikan ulang sesuai dengan konteks zaman modern. Ini adalah tentang adaptasi dan inovasi berkelanjutan.

Jika dahulu semangatnya adalah berjuang untuk kemerdekaan, kini semangatnya bergeser menjadi mandiri secara ekonomi. Selain itu, kedaulatan dalam inovasi juga menjadi fokus utama. Konsep ini ingin dihidupkan melalui setiap aspek "Rupiah Tresno Budoyo".

Program ini bukan hanya tentang edukasi finansial, tetapi juga tentang pembentukan pola pikir. Pola pikir yang mendorong UMKM untuk berani berinovasi dan memanfaatkan teknologi. Hal ini penting untuk menghadapi persaingan global yang semakin ketat.

Dengan demikian, "Rupiah Tresno Budoyo" diharapkan dapat menciptakan ekosistem UMKM yang lebih tangguh dan berdaya saing. Ini akan berkontribusi pada penguatan ekonomi daerah dan nasional secara keseluruhan. Semangat budaya dan kemandirian terus diintegrasikan dalam setiap langkah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi