Sejarah Libur Sekolah Selama Bulan Ramadan, Ada Sejak Jaman Belanda Hingga Libur Sebulan Penuh di Era Gus Dur
Muncul kabar libur sekolah selama sebulan penuh pada bulan Ramadan 2025. Bagaimana sejarahnya? Berikut ulasan selengkapnya.
Baru-baru ini, muncul perbincangan mengenai libur sekolah yang direncanakan selama satu bulan penuh pada saat Ramadan 2025. Isu ini sebelumnya juga pernah diangkat saat pemilihan presiden 2019 ketika Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno.
Selain itu, sejarah mencatat bahwa libur sekolah selama satu bulan penuh pada Ramadan pernah diterapkan pada era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, pada tahun 1999. Menanggapi isu tersebut, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi'i mengungkapkan bahwa ia telah mendengar wacana tersebut meskipun belum ada pembahasan resmi dari pemerintah.
"Kami belum bahas, tapi wacananya kayaknya ada, tapi saya belum bahas itu," ungkap Romo, seperti yang dilansir dari Liputan6.com (30/12/2024). Politisi dari Gerindra ini juga menegaskan bahwa wacana libur sekolah selama satu bulan pada Ramadan memang ada. "Sudah ada wacana," tegas Romo Syafi'i.
Libur Selama Puasa
Sebelumnya, wacana libur sekolah pada saat Ramadan juga pernah muncul saat pemilihan presiden 2019 ketika Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno berpasangan. Sandiaga Uno mengenang masa sekolahnya ketika ia menikmati libur selama satu bulan pada saat Ramadan.
"Tentunya ini adalah salah satu terobosan yang akan kita bawa bahwa, saya waktu masih muda pernah merasakan libur, dulu, saat Ramadan dan waktu anak-anak saya masih kecil, sekolah di Al Azhar, waktu itu juga libur sebulan penuh," jelas Sandiaga di Hotel Sultan Jakarta pada 15 Maret 2019.
Ia menambahkan bahwa libur selama bulan puasa bisa dimanfaatkan oleh siswa untuk mengikuti kegiatan pesantren kilat. Menurutnya, waktu libur ini juga dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih dekat dengan keluarga, sehingga bisa mengimbangi pengaruh teknologi informasi yang semakin mendominasi.
"Tentunya ini merupakan satu terobosan agar 1 bulan ini bisa digunakan para siswa untuk mungkin mengikuti pesantren kilat, menggunakan kesempatan ini juga, menghabiskan waktu bersama keluarga, membangun kedekatan keluarga dalam era informasi teknologi yang begitu intensitasnya tinggi," ujarnya.
"Mereka banyak waktunya habis di gadget, juga kesempatan Ramadhan ini untuk mendekatkan mereka ke tentunya membangun karakter yang kuat, karakter yang berakhlakul karimah, itu harapan kita," tambahnya.
Sejarah Libur di Bulan Ramadan di Indonesia
Melansir dari museumkepresidenan.id, kebijakan libur selama bulan puasa sebelumnya telah diberlakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda. Pemerintah Hindia Belanda saat itu memberikan libur sekolah selama satu bulan, mulai dari jenjang dasar seperti HIS hingga sekolah menengah atas seperti HBS dan AMS.
Selanjutnya, pada era kepemimpinan Presiden Soekarno, pemerintah melakukan penyesuaian jadwal dan menghentikan sementara kegiatan resmi maupun tidak resmi untuk memberikan kesempatan kepada umat Islam melaksanakan ibadah puasa dengan tenang dan khusyuk.
Libur Puasa Jadi Lebih Singkat di Masa Presiden Soeharto
Kemudian, di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan hari libur puasa menjadi lebih singkat. Kebijakan ini menimbulkan kritik dari berbagai pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Namun, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Daoed Joesoef, berpendapat bahwa pemberlakuan libur penuh seperti yang dilakukan oleh pemerintah kolonial tidak lebih dari upaya yang dianggap memperbodoh masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, Daoed Joesoef mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0211/U/1978 yang pada intinya mengajak masyarakat untuk memanfaatkan waktu libur dengan kegiatan yang bermanfaat.
Libur Puasa Selama Satu Bulan di Era Gus Dur
Di tahun 1999, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur resmi menduduki kursi Presiden Republik Indonesia. Salah satu momen paling diingat masyarakat semasa kepemimpinan Presiden ke-4 RI ini adalah libur Ramadan yang berlansugn selama 1 bulan penuh.
Gus Dur tidak hanya meliburkan sekolah, namun juga mengimbau agar sekolah-sekolah membuat kegiatan pesantren kilat. Tujuan dari libur puasa yang panjang ini adalah untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak di jenjang sekolah agar lebih fokus belajar agama Islam.
Akan tetapi, kebijakan ini kembali diubah pada era Presiden Megawati Soekarnoputri, yang mengikuti kebijakan Daoed Joesoef.