Hati-Hati Kenalan Online! Ini Ciri Penipuan Cinta di Dating App
Penipuan cinta semakin banyak terjadi di aplikasi kencan. Penting untuk mengenali ciri-ciri, modus, dan tanda-tanda bahaya.
Fenomena berkenalan melalui aplikasi kencan semakin meluas, terutama di era digital yang memungkinkan interaksi tanpa batas jarak.
Banyak individu memanfaatkan aplikasi kencan untuk mencari teman, relasi, bahkan pasangan hidup yang serius.
Namun, di balik kemudahan ini, terdapat risiko yang sering kali tidak disadari, yaitu praktik penipuan yang dikenal sebagai love scamming.
Modus ini memanfaatkan kedekatan emosional untuk menipu korban, biasanya dengan tujuan finansial. Love scamming sering kali tampak meyakinkan karena pelaku membangun hubungan secara bertahap dan terlihat tulus.
Banyak korban yang baru menyadari penipuan setelah mengalami kerugian besar, baik secara emosional maupun materi.
Sebagaimana yang dialami oleh Choirunnisa (30), seorang mahasiswa program pascasarjana di sebuah universitas ternama di Jawa Timur yang telah menggunakan aplikasi kencan atau dating apps sejak tahun 2025.
Di sisi lain, sebenarnya terdapat sejumlah tanda yang dapat dikenali sejak awal. Memahami ciri-ciri love scamming adalah langkah penting agar kamu tetap aman saat berkenalan di dunia digital.
Berikut adalah ciri-ciri love scamming yang dapat kamu jadikan panduan sebelum memulai interaksi online melalui aplikasi kencan, dirangkum dari Liputan6.com pada Rabu (25/2/2026).
Mengungkapkan Perasaan Terlalu Cepat
Pelaku penipuan cinta atau love scamming sering kali menunjukkan ketertarikan yang sangat mendalam dalam waktu yang singkat.
Mereka dapat mengungkapkan perasaan "jatuh cinta" hanya dalam hitungan hari atau minggu setelah pertama kali berkenalan.
Tujuan dari tindakan ini adalah untuk menciptakan kedekatan emosional dengan korban, sehingga mereka cepat percaya.
Dalam hubungan yang sehat, perasaan biasanya berkembang secara bertahap, bukan secara instan. Selain itu, pelaku sering kali membanjiri korban dengan pujian yang berlebihan dan perhatian yang terus-menerus.
Taktik ini dikenal sebagai love bombing, dan sangat efektif dalam membuat korban merasa istimewa. Ketika emosi sudah terlibat, korban cenderung lebih sulit untuk bersikap objektif, dan di sinilah manipulasi mulai berjalan tanpa disadari.
“Beberapa waktu lalu sekitar 3 mingguan, aku iseng membuka aplikasi jodoh yang memiliki tagline halal marriage apps for muslims. Ada dua kontak yang tersambung, tapi percakapan dengan salah satunya terasa lebih intens. Kami bertukar nomor dan mulai sering berkirim pesan setiap hari. Pesan-pesannya manis, penuh perhatian, bahkan cenderung love bombing. Ia cepat sekali akrab dan berbicara serius soal masa depan,” terang perempuan yang berprofesi sebagai jurnalis itu melalui pesan tertulis kepada Liputan6.com pada Selasa (24/2/2026).
Hindari Video Call atau Ketemu Langsung
Ciri berikutnya dari love scamming adalah pelaku selalu memiliki alasan untuk menghindari pertemuan fisik.
Mereka bisa saja mengklaim bahwa mereka bekerja di luar negeri, sedang dalam tugas khusus, atau mengalami masalah dengan kamera.
Dengan cara ini, mereka berusaha untuk menjaga identitas asli mereka tetap tersembunyi. Bahkan ketika video call terjadi, biasanya berlangsung singkat dan tidak jelas.
"Ia (pelaku, red) sempat meneleponku dua kali, suaranya terdengar meyakinkan. Namun setiap kali aku mengajaknya video call, ia selalu menolak dengan alasan pekerjaan," ungkap Choirunnisa.
Alasan yang terus berubah ini patut dicurigai. Misalnya, janji untuk bertemu yang selalu dibatalkan secara mendadak karena "situasi darurat".
Pola ini seringkali berulang agar korban tetap menunggu dan berharap. Jika seseorang benar-benar serius dalam menjalin hubungan, biasanya mereka akan berusaha mencari cara untuk bertemu secara langsung.
Ini adalah tanda bahwa pelaku tidak memiliki niat baik dan hanya memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi mereka.
Latar Belakang Hidup Berbeda-Beda
Pelaku sering kali memiliki latar belakang hidup yang menyentuh, seperti seorang duda yang memiliki anak, menjadi korban penipuan, atau bahkan seorang pekerja proyek di daerah yang sedang mengalami konflik.
Cerita-cerita ini dirancang untuk membangkitkan rasa empati dan iba dari orang lain. Dengan demikian, korban akan lebih mudah untuk memberikan dukungan baik secara emosional maupun finansial.
Semakin dramatis kisah yang disampaikan, semakin besar kemungkinan korban akan tergerak untuk membantu.
“Dia (pelaku, red) mengaku alumni Teknik Mesin Krisna Dwipayana Jakarta 2010-2015, tapi saat aku cek di PDDIKTI tidak ada nama itu. Dia juga menjual cerita kesedihan, ayahnya meninggal saat dia masih tujuh tahun, terus ibunya (meninggal) karena Covid-19. Katanya keluarga ibunya juga kena tsunami,” papar perempuan yang akrab disapa Nisa itu.
Biasanya, detail dari cerita yang disampaikan akan berubah seiring dengan berjalannya waktu. Jika diperhatikan dengan seksama, akan ada inkonsistensi yang menunjukkan adanya kebohongan.
Namun, karena korban sudah terikat secara emosional, hal ini sering kali diabaikan. Oleh karena itu, penting untuk tetap kritis meskipun perasaan simpati sudah menguasai.
Ajak Beralih ke Percakapan di Luar Aplikasi
Pelaku penipuan cinta sering kali meminta untuk melanjutkan percakapan di luar aplikasi kencan. Alasan yang mereka berikan biasanya adalah agar komunikasi terasa lebih nyaman atau bersifat privat.
Namun, langkah ini sebenarnya bertujuan untuk menghindari sistem keamanan yang ada di platform tersebut. Dengan cara ini, aktivitas mereka akan lebih sulit untuk dilaporkan oleh para korban.
Setelah beralih ke aplikasi pesan, intensitas komunikasi antara pelaku dan korban biasanya meningkat secara signifikan.
Pelaku berusaha membangun rutinitas komunikasi harian yang membuat korban merasa memiliki hubungan yang nyata.
Namun, penting untuk diingat bahwa hubungan tersebut sebenarnya dibangun semata-mata untuk kepentingan manipulasi dan penipuan. Hal ini menunjukkan betapa liciknya strategi yang digunakan oleh para penipu ini untuk meraih kepercayaan korban.
Mulailah Bahas Isu Keuangan
Tanda paling mencolok dari penipuan cinta adalah permintaan uang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pelaku biasanya mengaku berada dalam situasi darurat, seperti sakit, kecelakaan, atau masalah pekerjaan.
Mereka akan berusaha meyakinkan korban bahwa bantuan tersebut hanya bersifat sementara. Namun, setelah uang dikirim, permintaan tersebut biasanya akan terus berlanjut.
"Suatu hari ia (pelaku, red) menelepon dan bercerita ada tawaran mutasi ke Pakistan untuk 10 karyawan terbaik. Anehnya, ia memilih resign sebelum kontrak habis dengan alasan ingin menikah. Katanya, syarat pengunduran diri karena menikah harus melampirkan identitas calon pasangan dan rekening sebagai data pendamping. Di situ dia minta identitas dan nomor rekeningku," imbuh Nisa.
Metode yang digunakan oleh pelaku juga bervariasi, mulai dari transfer uang, voucher, hingga penggunaan mata uang kripto. Mereka sering kali menciptakan rasa urgensi agar korban tidak sempat berpikir panjang.
Jika ada seseorang yang belum pernah ditemui meminta uang, hal itu seharusnya menjadi tanda bahaya yang besar.
Prinsip dasarnya adalah, hubungan yang sehat tidak dimulai dengan permintaan finansial. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu waspada dan tidak mudah terjebak dalam situasi yang dapat merugikan diri sendiri.
Profil Foto Terasa Ideal
Akun yang dimiliki oleh pelaku biasanya menampilkan foto yang tampak sangat menarik dan profesional. Profesi yang dicantumkan pun sering kali terkesan prestisius, seperti dokter, tentara, atau pengusaha sukses.
Tujuan dari hal ini adalah untuk membangun kredibilitas sejak awal. Namun, ketika informasi profil ditelusuri lebih lanjut, sering kali ditemukan bahwa data yang disediakan minim atau bahkan tidak konsisten. Foto profil yang digunakan kadang merupakan hasil curian dari internet.
Dengan menggunakan pencarian gambar terbalik, kita sering menemukan bahwa identitas asli pemilik foto tersebut berbeda dari yang tertera di profil. Oleh karena itu, profil yang terlihat terlalu sempurna sebaiknya diwaspadai. Dalam kenyataannya, tidak ada orang yang benar-benar tanpa celah.
"Sampai sekarang aku masih halu, soalnya kan fotonya ganteng banget dan mengaku duda. Padahal akun dating apps sudah tak report. Tapi aku masih cari TikToknya, tiba-tiba juga hilang, nomorku juga diblokir," terang Nisa.
Pernyataan ini menunjukkan betapa sulitnya membedakan antara kenyataan dan penipuan di dunia maya. Banyak orang yang terjebak dalam ilusi yang diciptakan oleh para pelaku dengan cara yang sangat meyakinkan.
Hal ini menambah tantangan bagi pengguna untuk tetap waspada dan kritis terhadap informasi yang mereka terima. Dengan demikian, penting untuk selalu melakukan verifikasi sebelum mempercayai seseorang secara online.
Manipulatif
Ketika seseorang mulai merasakan kecurigaan terhadap pelaku, biasanya pelaku akan menunjukkan reaksi emosional. Mereka dapat merasa tersinggung, marah, atau bahkan berusaha tampil sebagai korban.
Dengan cara ini, pelaku ingin membuat korban merasa bersalah karena meragukan mereka. Teknik ini efektif dalam mengembalikan kepercayaan korban dan menghentikan pertanyaan yang muncul. Selain itu, pelaku sering kali memberikan janji-janji manis sebagai bentuk pengalihan perhatian.
Contohnya, mereka mungkin berjanji untuk segera bertemu atau menikah setelah masalah yang ada terselesaikan. Janji-janji ini sebenarnya hanya digunakan untuk mempertahankan hubungan, sedangkan pada kenyataannya, itu adalah bagian dari strategi manipulasi yang lebih besar.
Love Scamming Mendesak
Love scamming sering kali melibatkan situasi yang mendesak. Pelaku berusaha menciptakan rasa urgensi yang membuat korban merasa harus segera mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.
Contohnya, mereka meminta bantuan finansial sebelum "batas waktu" tertentu, sehingga korban tidak punya waktu untuk memverifikasi kebenaran cerita tersebut.
"Ia (pelaku, red) meminta ditransfer uang untuk kepulangan cuti, untungnya saat itu aku udah sadar kalau jadi korban love scamming karena sebelumnya sudah memastikan apakah yang bersangkutan benar-benar bekerja di perusahaan yang disebut, ternyata tidak ada nama itu di perusahaan tersebut," tandas Nisa.
Rasa urgensi yang diciptakan juga membuat korban merasa takut kehilangan hubungan jika tidak memberikan bantuan. Padahal, keputusan finansial seharusnya tidak diambil dalam keadaan tertekan secara emosional.
Jika seseorang terus-menerus memaksa untuk mendapatkan bantuan, itu adalah tanda bahwa hubungan tersebut tidak sehat.
Mengambil waktu sejenak untuk berpikir dan merenungkan situasi adalah langkah paling aman yang dapat diambil untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.