Unik, Negara Ini Malah Surplus Populasi Harimau Bukan Penduduk
Kelebihan populasi harimau ini menimbulkan berbagai masalah baru.
Nepal mendapatkan pujian internasional karena berhasil menggandakan jumlah populasi harimau dalam satu dekade terakhir. Namun, Perdana Menteri Khadga Prasad Sharma Oli mengungkapkan bahwa keberhasilan ini mungkin berlebihan.
"Dalam negara sekecil ini, kami memiliki lebih dari 350 harimau ... Kami tidak bisa memiliki begitu banyak harimau dan membiarkan mereka memakan manusia," katanya bulan lalu, seperti yang dilaporkan BBC, Sabtu (17/1).
Menurut informasi dari pemerintah, antara tahun 2019 hingga 2023, serangan harimau telah menyebabkan hampir 40 orang tewas dan 15 orang terluka. Namun, komunitas lokal berpendapat bahwa angka tersebut jauh lebih tinggi.
"Bagi kami, 150 harimau sudah cukup," kata Oli pada Desember lalu.
Dia juga mengusulkan agar Nepal dapat memberikan harimau-harimau tersebut sebagai hadiah kepada negara lain. Pertanyaan yang muncul adalah, berapa banyak harimau yang dianggap sebagai jumlah yang berlebihan? Para ahli menyatakan bahwa jumlah tersebut sangat bergantung pada ketersediaan mangsa di area tertentu. Idealnya, setiap harimau memerlukan sekitar 500 hewan mangsa, seperti rusa, antelop, atau kerbau liar, menurut ahli biologi harimau, Ullas Karanth.
Ahli lainnya berpendapat, kekhawatiran Oli mengenai jumlah harimau yang berlebihan tidaklah tepat dan menyarankan agar pemerintah Nepal lebih fokus pada pengembangan kawasan perlindungan yang seimbang antara jumlah mangsa dan harimau.
Kenaikan angka korban jiwa manusia, menurut ahli zoologi Karan Shah, menunjukkan bahwa model konservasi Nepal yang sebelumnya efektif kini mulai mengalami masalah.
"Selama ini, fokus Nepal tampaknya lebih pada menarik perhatian internasional, sementara dampaknya terhadap komunitas sekitar taman nasional dan kawasan lindung diabaikan," ungkap Shah.
Shah menekankan, konservasi bukan hanya sekadar isu "ekologis atau ilmiah", tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial. Penting untuk mencegah kehilangan nyawa manusia agar masyarakat lokal tetap terlibat dalam upaya konservasi dan tidak berbalik menentangnya.
Kemarahan di kalangan masyarakat lokal Nepal juga dilaporkan semakin meningkat karena harimau sering memangsa ternak mereka.
"Sebagian besar populasi kami masih tinggal di daerah pedesaan dan bergantung pada sumber daya hutan yang mereka bantu lestarikan. Namun sekarang, mereka semakin sering dibunuh atau terluka oleh harimau," jelas presiden Federasi Pengguna Hutan Masyarakat Nepal, Thakur Bhandari, kepada BBC.
"Sebagai konservasionis hutan, kami tidak bisa menolak keberadaan satwa liar, namun itu tidak berarti kami harus mengabaikan dampaknya terhadap manusia dan masyarakat kami," tambahnya.
Korbankan Manusia
Seratus tahun lalu, diperkirakan ada sekitar 100.000 harimau yang berkeliaran di Asia. Namun, akibat dari deforestasi dan perburuan liar yang terjadi secara luas, populasi harimau ini terancam punah. Saat ini, hanya tersisa sekitar 5.600 harimau liar di 13 negara, termasuk Nepal, China, India, Thailand, Indonesia, dan Rusia. Negara-negara tersebut telah berkomitmen untuk menggandakan populasi harimau mereka pada tahun 2022. Nepal menjadi yang pertama yang berhasil melampaui target tersebut, sebagian besar berkat inisiatif zero-poaching yang bertujuan untuk menghilangkan atau mencegah perburuan ilegal terhadap satwa liar, serta peningkatan luas hutan di negara itu antara tahun 1992 dan 2016.
Menurut Oli, pertumbuhan populasi harimau di Nepal seringkali mengorbankan nyawa manusia. Namun, menemukan solusi yang tepat untuk masalah ini bukanlah hal yang mudah.
Departemen Taman Nasional dan Satwa Liar mengakui pihaknya menghadapi tantangan dalam pengelolaan harimau di Nepal. Harimau yang membunuh manusia akan dilacak dan dipindahkan ke penangkaran.
"Kebun binatang dan pusat penyelamatan sudah kewalahan menangani harimau bermasalah," ungkap departemen tersebut dalam laporan konservasi yang dirilis pada tahun 2023.
"Protokol yang komprehensif sangat diperlukan untuk menangani penyelamatan, penanganan, dan rehabilitasi satwa yang bermasalah."
Dikirim ke Luar Negeri
Oli juga mengusulkan agar harimau Nepal dikirim ke luar negeri.
"Orang-orang suka memelihara burung seperti elang dan merak sebagai hewan peliharaan, jadi mengapa tidak harimau?" tambahnya.
"Itu juga akan meningkatkan status mereka."
Namun, ada pandangan yang berbeda. Karanth menyatakan bahwa harimau yang telah berulang kali membunuh manusia seharusnya "segera dibunuh". Beberapa orang berpendapat, manusia telah memperburuk masalah ini dengan merambah habitat alami harimau, memanfaatkan lahan untuk pertanian atau pembangunan infrastruktur, serta mengurangi jumlah mangsa besar yang tersedia bagi harimau.
Menurut BBC, seorang ahli manajemen satwa liar menyatakan bahwa Oli berusaha mengurangi jumlah harimau untuk membuka lebih banyak lahan bagi pembangunan infrastruktur.
"Ini bukan tentang keselamatan masyarakat," ujarnya.
Saat ini, situasi masih terjebak dalam kebuntuan. Yang jelas, manusia dan harimau di Nepal kesulitan untuk mencapai koeksistensi yang damai, dan keberhasilan konservasi di negara ini kini menghadirkan berbagai masalah kompleks yang harus dihadapi.