Sosok Balita 2 Tahun yang Menjadi Dewi Kumari di Nepal
Dalam menjaga tradisi, anak-anak berusia dua hingga empat tahun diwajibkan tinggal di kuil sampai mereka mencapai masa pubertas.
Di tengah kemajuan teknologi yang pesat saat ini, Nepal tetap setia menjaga tradisi unik yang melibatkan pemilihan seorang balita untuk tinggal di dalam kuil.
Ananta Shakya, seorang ayah, harus merelakan putrinya yang berusia dua tahun bernama Aryantara Shakya untuk diangkat sebagai "dewi hidup" Nepal yang baru, seperti yang dilaporkan oleh The Week pada Senin (6/10).
Prosesi penobatan dimulai dengan anggota keluarga yang menggendong gadis kecil itu, membawanya keluar dari rumah menuju sebuah kuil di Kathmandu.
Selanjutnya, Aryantara dinyatakan sebagai Kumari yang baru, sebuah acara yang berlangsung pada minggu lalu bertepatan dengan perayaan Dashain, festival Hindu yang paling bersejarah di Nepal. Ananta Shakya menyampaikan perasaannya dengan tulus.
"Kemarin dia masih putri saya, tetapi hari ini sudah menjadi seorang dewi," ucapnya.
Ia juga menambahkan kepada Associated Press tentang makna mimpi yang dialami istrinya.
"Saat hamil, istri saya bermimpi menjadi dewi, dan kami percaya bahwa anak kami akan menjadi sosok yang sangat istimewa," tuturnya.
Kehidupan seorang Kumari di Nepal menyimpan banyak misteri
Dewi Kumari merupakan sosok dewi kehidupan yang disembah, dengan tradisi yang telah ada selama 300 tahun, terutama di kalangan umat Hindu dan Buddha.
Di beberapa bagian India, tradisi ini dianggap sebagai representasi dari perempuan suci. Dalam pelaksanaannya, hanya gadis kecil dari klan Shakya, yang merupakan bagian dari umat Buddha Newati, yang diizinkan untuk mengikuti tradisi ini.
Calon Kumari biasanya berusia antara dua hingga empat tahun dan harus memenuhi kriteria fisik yang ketat, seperti kulit, rambut, mata, dan gigi yang harus bersih tanpa cacat.
Selama festival, gadis kecil tersebut diarak keliling kota menggunakan kereta yang ditarik oleh umat terpilih.
Ia mengenakan pakaian merah yang dihiasi dengan "mata ketiga" yang dilukis di dahinya. Namun, banyak calon Kumari yang tidak dapat mengingat apa yang terjadi pada hari penobatan mereka, karena usia mereka yang terlalu muda untuk menyimpan banyak kenangan.
Para gadis kecil ini menghabiskan masa kecil mereka di dalam kuil dan jarang diizinkan keluar, bahkan kaki mereka tidak boleh menyentuh tanah. Mereka hanya akan kembali menjadi manusia biasa ketika mengalami menstruasi atau masa pubertas pertama mereka.
Selama delapan tahun, mantan Kumari Preeti Shakya menjalani kehidupan yang sangat berbeda dibandingkan saat ia tinggal di pinggiran kota yang tidak dikenal.
Ia tinggal di Kumari Ghar, sebuah istana khusus untuk sang Dewi, dan hanya diperbolehkan bertemu keluarganya seminggu sekali. Teman satu-satunya adalah keluarga penjaga resmi Kumari.
"Saya ingat menonton televisi dan melihat gaun-gaun modern, saya sangat ingin memakainya," ungkap Preeti Shakya dalam sebuah wawancara di salah satu situs berita.
Selama masa jabatannya, Preeti telah memberkati Raja Nepal sebanyak tujuh kali dan sekali kepada perdana menteri. Banyak orang yang merasakan pancaran positif saat berada di dekatnya.
"Mereka merasakan sesuatu seperti api, energi positif di sekitar saya," tuturnya.
"Orang-orang yang berdoa kepada saya sebenarnya telah diberkati, tetapi saya tidak merasakan apa-apa," tambahnya.
Tradisi Kumari
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak kritik yang ditujukan kepada tradisi Kumari di Nepal. Gadis-gadis yang terpilih untuk menjadi Kumari akan kembali menjalani kehidupan normal saat mereka memasuki masa pubertas, di mana mereka dikeluarkan dari kuil dan digantikan oleh gadis kecil lainnya.
Menurut Deutsche Welle, mantan Kumari seringkali mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari setelah bertahun-tahun terasing dari dunia luar.
Dalam memoarnya yang ditulis pada tahun 1990-an berjudul "From Goddess to Mortal," Rashmila Shakya, seorang mantan Kumari, menggambarkan tantangan yang dihadapinya, termasuk kurangnya pendidikan dan kesulitan untuk menyesuaikan diri kembali dengan masyarakat.
Sejak saat itu, pemerintah Nepal telah mewajibkan pendidikan bagi Kumari yang masih menjalani perannya dan memberikan pensiun bulanan sekitar 165 dolar untuk mantan Kumari, yang sedikit lebih tinggi dari upah minimum.
Perubahan yang dialami setelah menjalani tradisi Kumari juga berdampak pada kehidupan gadis-gadis tersebut, karena status mereka sebagai mantan Kumari akan selalu melekat pada diri mereka.
The Guardian melaporkan pada tahun 2001 bahwa laki-laki yang menikahi mantan Kumari diyakini akan mengalami kematian dini.
"Sang Kumari terpaksa untuk mengorbankan masa kecilnya," kata Sapana Pradhan-Malla, seorang pengacara hak asasi manusia di Nepal.
Ia menambahkan, "Hak-haknya dilanggar karena ia harus menjadi dewi." Seiring dengan meningkatnya perhatian terhadap tradisi Kumari, banyak pengamat yang mulai bersuara menentang praktik ini. Hal ini mendorong Nepal untuk menandatangani Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Anak yang berkaitan dengan tradisi Kumari. Preeti Shakya juga menegaskan pentingnya hak anak dengan menyatakan, "Tidak ada yang dapat mengeksploitasi anak-anak atas simbol kebudayaan."