Kota di China Ini Terapkan Setengah Hari Kerja Setiap Jumat, Tapi Alasannya Bukan karena Ibadah
Kota di China ini terapkan jam kerja 4,5 hari dalam sepekan.
Kota Mianyang di China memberlakukan kebijakan baru mengenai jam kerja, yaitu empat setengah hari kerja dengan akhir pekan yang lebih panjang. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan fleksibilitas waktu bagi para pekerja, serta mendorong peningkatan belanja dan pariwisata di daerah tersebut.
Model "setengah hari Jumat ditambah akhir pekan" ini merupakan bagian dari rencana kerja kota untuk tahun 2025 yang bertujuan untuk menggerakkan kembali konsumsi domestik yang sedang lesu. Meskipun baru diumumkan pada awal Mei, respons dari warganet China sangat positif setelah beberapa media lokal mulai meliputnya.
Di platform media sosial seperti Weibo, tagar "2,5-day weekend is coming" telah mencapai lebih dari 24 juta tampilan.Banyak pengguna yang menyambut baik kebijakan ini dan berharap agar hal serupa diterapkan di kota mereka masing-masing.
Namun, tidak sedikit pula yang meragukan efektivitasnya, seperti yang diungkapkan oleh seorang pengguna: "Akhir pekan dua hari saja belum merata, kok sudah mau tambah setengah hari?" ungkapnya, yang mendapatkan banyak dukungan dari pengguna lainnya.
Tujuan Penerapan Jam Kerja 4,5 Hari di Mianyang
Bagi penduduk Mianyang, seperti Yang, tambahan setengah hari libur di hari Jumat memberikan peluang untuk berlibur dan menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga. "Waktu sangat terbatas. Kalau ada tambahan waktu, saya bisa lebih sering bersama istri dan anak," ucap seorang pekerja lain, sebagaimana dikutip dari laman CNA, pada hari Jumat (6/6/2025).
Pemerintah kota berharap bahwa kebijakan ini dapat menghidupkan kembali sektor ekonomi malam, pariwisata domestik, dan penyelenggaraan berbagai acara. Namun, hingga saat ini, belum ada peraturan resmi yang mewajibkan perusahaan untuk menerapkan sistem tersebut. Kebijakan ini masih bersifat sukarela, dan bagi mereka yang belum mencapai target kerja 40 jam seminggu, tetap diharuskan untuk mengganti waktu yang kurang dengan lembur pada hari kerja lainnya.
Pemerintah Kota Mianyang memiliki beberapa tujuan utama. Salah satunya adalah meningkatkan konsumsi domestik. Waktu luang diharapkan mendorong masyarakat berbelanja dan berwisata di dalam kota. Hal ini diharapkan menghidupkan kembali ekonomi lokal.
Selain itu, pemerintah juga ingin mendorong pariwisata lokal. Waktu luang tambahan diharapkan meningkatkan kunjungan wisatawan domestik. Sektor ekonomi malam juga diharapkan ikut bergeliat. Masyarakat diharapkan lebih banyak beraktivitas di malam hari.
Kebijakan ini juga bertujuan meningkatkan kesejahteraan pekerja. Waktu luang tambahan diharapkan menyeimbangkan kehidupan kerja. Dengan demikian, tingkat kelelahan pekerja dapat berkurang. Berikut rincian tujuan kebijakan ini:
- Meningkatkan konsumsi domestik
- Mendorong pariwisata lokal
- Menghidupkan sektor ekonomi malam
- Meningkatkan kesejahteraan pekerja
Budaya Kerja 996
Kebijakan ini muncul sebagai bagian dari usaha besar di China untuk mengurangi dampak negatif dari budaya kerja 996, yaitu bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari dalam seminggu. Budaya ini telah menjadi beban bagi banyak pekerja, terutama generasi muda.
Namun, para ahli seperti Prof. Yang Haiyang dari Southwestern University of Finance and Economics mengingatkan bahwa pengurangan jam kerja tidak bisa dianggap sebagai solusi cepat untuk semua sektor industri. "Ini adalah tren alami dari kemajuan sosial, tetapi tidak bisa diterapkan secara seragam. Penelitian lebih lanjut diperlukan agar kebijakan ini sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan," ujarnya kepada People's Daily. Selain itu, para pengamat juga memperingatkan tentang kemungkinan peningkatan biaya operasional bagi perusahaan serta penurunan produktivitas jika kebijakan ini diterapkan secara luas tanpa perencanaan yang matang.