Ilmuwan Ungkap Asal Usul Ceres, Planet Kerdil yang Diduga Mengandung Air
Ceres terletak di Sabuk Asteroid, yaitu area di tata surya yang berada di antara orbit Mars dan Jupiter.
Ceres merupakan planet katai pertama yang berhasil ditemukan. Objek luar angkasa ini adalah planet kerdil terkecil yang ada saat ini. Terletak di Sabuk Asteroid, Ceres berada di antara orbit Mars dan Jupiter dalam tata surya.
Sebelum mendapatkan klasifikasi sebagai planet katai, Ceres dianggap sebagai asteroid terbesar di wilayah tersebut. Dengan diameter sekitar 940 kilometer, Ceres menjadi objek paling besar di Sabuk Asteroid, menyumbang sekitar sepertiga dari total massa sabuk tersebut.
Orbit Ceres berada pada jarak sekitar 2,8 Satuan Astronomi (SA) dari matahari. Menurut informasi yang dirilis NASA pada Selasa (4/2), astronom asal Sisilia, Giuseppe Piazzi, menemukan Ceres pada tahun 1801. Penemuan ini berdasarkan pada dugaan bahwa terdapat planet yang hilang di celah antara Mars dan Jupiter.
Ceres sering kali disebut dalam berbagai literatur ilmiah sebagai salah satu asteroid terbesar dalam tata surya. Berbeda dengan asteroid lainnya, Ceres memiliki bentuk yang hampir bulat. Terdiri dari batuan dan es, Ceres diperkirakan memiliki inti berbatu dan lapisan mantel yang mengandung es air.
Permukaan Ceres ditutupi material gelap dan menunjukkan berbagai tanda aktivitas geologis, seperti kawah, pegunungan, serta wilayah terang yang diduga mengandung garam atau mineral terhidrasi. Penemuan endapan kuning terang di Kawah Consus baru-baru ini memberikan bukti baru tentang sejarah kryovulkanisme yang ada di Ceres. Temuan ini kembali memunculkan perdebatan mengenai asal-usul planet katai ini, apakah terbentuk di sabuk asteroid atau bermigrasi ke sana dari luar Tata Surya.
Endapan Amonium
Dikutip dari laman SciTechDaily, Selasa (04/2), para peneliti berpendapat Ceres kemungkinan besar terbentuk di sabuk asteroid alih-alih bermigrasi dari daerah luar Tata Surya. Penelitian ini didukung temuan endapan amonium yang kaya di Kawah Consus, yang dipublikasikan dalam Journal of Geophysical Research: Planets oleh tim dari Max Planck Institute for Solar System Research (MPS) di Gttingen.
Tim tersebut menganalisis data yang dikumpulkan wahana antariksa Dawn milik NASA, yang sebelumnya telah mengidentifikasi adanya endapan amonium di permukaan Ceres. Beberapa ilmuwan berasumsi amonium beku yang stabil di wilayah luar Tata Surya berkontribusi terhadap pembentukan Ceres, menunjukkan planet katai ini mungkin berasal dari lokasi yang jauh dari sabuk asteroid. Namun, penelitian terkini menawarkan teori alternatif: material kaya amonium yang ditemukan di Kawah Consus mungkin dihasilkan oleh aktivitas kryovulkanisme yang unik di Ceres.
Berbeda dengan asteroid lainnya, Ceres memiliki geologi yang kompleks dan dinamis. Wahana Dawn, yang menjelajahi Ceres dari tahun 2015 hingga 2018, telah menemukan bukti kuat mengenai adanya aktivitas kryovulkanisme yang masih berlangsung hingga saat ini. Beberapa kawah di Ceres mengandung endapan garam putih, yang diyakini sebagai sisa dari cairan asin yang telah naik dari lapisan bawah permukaan selama miliaran tahun.
Analisis terbaru di Kawah Consus menemukan endapan serupa, tetapi dengan warna kekuningan, yang memberikan wawasan baru tentang evolusi geologi Ceres. Kawah Consus terletak di belahan selatan Ceres dan memiliki diameter sekitar 64 kilometer. Meskipun bukan kawah terbesar, kawah ini memiliki struktur yang unik dengan dinding setinggi 4,5 kilometer yang sebagian besar telah tererosi.
Aktivitas Kryovulkanisme
Di bagian timur kawah utama terdapat kawah kecil berukuran sekitar 15 x 11 kilometer, di mana ditemukan material kuning terang yang kaya akan amonium. Temuan terbaru menunjukkan material terang di Kawah Consus mengandung amonium, senyawa yang sebelumnya diyakini hanya dapat terbentuk di lingkungan dingin di tepi luar Tata Surya.
Para ilmuwan sebelumnya menyimpulkan Ceres seharusnya berasal dari wilayah tersebut dan kemudian berpindah ke sabuk asteroid. Namun, penelitian terbaru ini menunjukkan amonium yang ditemukan di Ceres kemungkinan berasal dari aktivitas internalnya sendiri, bukan dari luar Tata Surya. Peneliti beranggapan amonium sudah ada dalam material yang membentuk Ceres sejak awal.
Karena amonium tidak dapat bergabung dengan mineral di mantel Ceres, senyawa ini akhirnya terakumulasi dalam lapisan cairan asin yang tersebar di antara mantel dan kerak. Aktivitas kryovulkanisme menyebabkan cairan asin yang kaya amonium ini naik ke permukaan selama miliaran tahun.
Studi juga menemukan konsentrasi amonium lebih tinggi di lapisan dalam kerak dibandingkan di permukaan. Kawah-kawah dalam seperti Consus berfungsi sebagai jendela alami untuk melihat lebih dalam sejarah geologi Ceres. Dampak dari tumbukan yang membentuk kawah kecil di bagian timur Consus sekitar 280 juta tahun yang lalu diyakini telah mengungkap lapisan kaya amonium dari kedalaman.