Gerhana Bulan Total Terlama Sejak 2022 Tak Sempurna Terlihat di Aceh Akibat Cuaca

Fenomena Gerhana Bulan Total yang dinanti-nantikan tak terlihat sempurna di Aceh karena cuaca mendung dan gerimis. Mengapa gerhana terlama sejak 2022 ini justru terhalang awan?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gerhana Bulan Total Terlama Sejak 2022 Tak Sempurna Terlihat di Aceh Akibat Cuaca
Fenomena Gerhana Bulan Total yang dinanti-nantikan tak terlihat sempurna di Aceh karena cuaca mendung dan gerimis. Mengapa gerhana terlama sejak 2022 ini justru terhalang awan? (Merdeka.com)

Fenomena Gerhana Bulan Total yang diprediksi menjadi yang terlama sejak tahun 2022, sayangnya tidak terlihat sempurna di wilayah Aceh. Meskipun masyarakat dan tim pengamat telah mempersiapkan diri dengan antusias, cuaca mendung dan gerimis yang menyelimuti Banda Aceh pada Minggu malam hingga Senin dini hari, 7-8 September 2025, menjadi penghalang utama.

Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang kurang mendukung membuat proses gerhana tidak tampak jelas, bahkan dengan bantuan teleskop. Pengamatan yang dilakukan oleh Tim Falakiyah Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang di kantor Kanwil Kemenag Aceh pun menghadapi kendala signifikan.

Sebelum pengamatan dimulai, para pengunjung dan tim di kantor Kemenag Aceh terlebih dahulu melaksanakan shalat sunnah khusuf atau shalat gerhana bulan. Meskipun demikian, tim tetap berkomitmen untuk memantau fenomena alam ini hingga puncak gerhana berakhir pada pukul 01.52 WIB, dengan harapan cuaca akan membaik.

Pengamatan Gerhana Bulan Total di Banda Aceh menghadapi tantangan besar akibat kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, mengungkapkan, “Karena cuaca mendung di Banda Aceh, maka proses terjadi gerhana itu kurang terang. Tadi ada tampak beberapa saat.” Pernyataan ini disampaikan di sela-sela pemantauan yang dilakukan oleh Tim Falakiyah Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang.

Meskipun visibilitas gerhana bulan total sangat terbatas di awal, Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh menunjukkan dedikasi tinggi. Mereka tetap melanjutkan pengamatan hingga akhir puncak gerhana, yang diperkirakan berlangsung hingga pukul 01.52 WIB. Harapan agar cuaca cerah di sisa waktu pengamatan terus menyertai upaya mereka.

Sebelum memulai pengamatan, masyarakat dan tim yang hadir di kantor Kemenag Aceh bersama-sama menunaikan shalat sunnah khusuf. Ini merupakan bagian dari tradisi keagamaan yang menyertai fenomena gerhana bulan, menunjukkan ketaatan dan pengharapan kepada Tuhan di tengah peristiwa alam.

Dalam kesempatan pengamatan gerhana bulan total ini, Azhari juga menyampaikan pesan penting terkait fenomena alam tersebut. Ia menekankan agar masyarakat tidak mengaitkan gerhana bulan dengan kematian, musibah, atau hal-hal buruk lainnya. Menurutnya, gerhana bulan adalah murni fenomena alam yang bertujuan untuk menegaskan keagungan dan kebesaran Allah SWT.

Azhari mengajak masyarakat, khususnya umat Muslim, untuk menjadikan gerhana bulan sebagai momentum introspeksi. “Fenomena alam ini salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. Ini adalah semacam peringatan untuk kita selalu mempersiapkan diri kita dalam hidup ini,” ujarnya. Pesan ini menggarisbawahi pentingnya meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT dan terus memperbaiki diri.

Penekanan ini bertujuan untuk meluruskan pandangan yang mungkin masih mengaitkan gerhana dengan takhayul atau pertanda negatif. Kemenag Aceh berupaya memberikan pemahaman yang benar, bahwa setiap peristiwa alam adalah manifestasi dari kekuasaan Tuhan dan sarana untuk merenungi kebesaran-Nya.

Gerhana Bulan Total yang terjadi di langit Aceh pada Minggu malam, 7 September, hingga Senin dini hari, 8 September 2025, merupakan salah satu yang terlama sejak tahun 2022. Fenomena ini diawali dengan beberapa fase yang berlangsung secara bertahap, memberikan gambaran lengkap tentang pergerakan bulan.

Proses gerhana dimulai dengan fase gerhana bulan penumbra pada pukul 22.28 WIB. Kemudian, bulan memasuki fase gerhana bulan sebagian pada pukul 23.27 WIB. Pada saat ini, bulan purnama yang semula berwarna putih terang mulai menunjukkan sedikit perubahan warna menjadi kemerahan di bagian atas kiri.

Puncak dari fenomena ini adalah ketika bulan sepenuhnya berwarna merah, yang dikenal sebagai gerhana bulan total, terjadi pada pukul 00.30 WIB. Fase totalitas ini berlangsung selama 1 jam 22 menit, sebelum akhirnya berakhir pada pukul 01.52 WIB. Selama fase ini, bulan tampak meredup dan berubah menjadi warna merah tembaga, sehingga sering disebut sebagai blood moon.

Gerhana bulan total sendiri merupakan peristiwa astronomi ketika bulan melewati bayangan inti (umbra) bumi secara penuh. Ini terjadi saat bumi berada di posisi tengah antara matahari dan bulan, menyebabkan cahaya matahari terhalang dan tidak langsung mengenai bulan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi