Ilmuwan Kaget, Pulau Terpencil Ini Diterjang Megatsunami Setinggi Patung Liberty Selama Sembilan Hari
Sebuah pulau terpencil di Greenland tahun lau dihantam gelombang tsunami raksasa.
September tahun lalu, seismolog di berbagai belahan dunia mendeteksi getaran yang tidak pernah mereka jumpai sebelumnya.
Gelombang seismik itu tampaknya berasal dari Greenland dan berlangsung selama sembilan hari di Dickson Fjord. Demikian menurut llaporan terbaru The Seismic Record.
"Ini sinyal yang sangat, sangat aneh dan belum pernah saya lihat sebelumnya di beberapa stasiun kami di Utara," kata Carl Ebeling, seorang seismolog di Scripps Institution of Oceanography, Universitas California, San Diego, Amerika Serikat, seperti dilansir NBC News, Jumat (13/9).
Segera setelah getaran itu terjadi, sebuah kapal pesiar yang berlayar di dekat fjord di Greenland menyadari bahwa di Pulau Ella yang terpencil, sebuah tempat yang digunakan untuk penelitian ilmiah dan oleh militer Denmark untuk patroli kereta luncur anjing — telah hancur.
Peristiwa itu menarik sekelompok seismolog internasional, militer Denmark, dan ahli kelautan ke dalam misteri: Apa yang telah menghantam pulau itu, dan dari mana asalnya?
Kemarin para peneliti merilis kesimpulan mereka di jurnal Science. Pulau itu telah dilanda salah satu tsunami terbesar yang pernah tercatat, kata mereka, dengan gelombang yang meninggalkan tanda air setinggi sekitar 198 meter.
Itu adalah hasil dari serangkaian peristiwa langka yang terjadi secara beruntun yang dipicu oleh perubahan iklim.
Pemicu awalnya terjadi ketika suhu yang menghangat menyebabkan lidah gletser yang menipis runtuh, demikian temuan para peneliti.
Dikunjungi turis
Kondisi itu mengguncang lereng gunung yang curam, menyebabkan longsoran batu dan es menghantam Dickson Fjord di Greenland. Hal itu memindahkan sejumlah besar air, sehingga gelombang yang menjulang tinggi melintasi fjord sempit, yang lebarnya sekitar 1,5 mil.
Gelombang tsunami — setidaknya setinggi Patung Liberty — menjalar ke dinding batu curam yang melapisi fjord. Karena tanah longsor menghantam jalur air pada sudut hampir 90 derajat, gelombang memantul bolak-balik melintasinya selama sembilan hari — sebuah fenomena yang oleh para ilmuwan disebut seiche.
“Tidak seorang pun pernah melihat hal seperti ini,” kata Kristian Svennevig, penulis utama penelitian tersebut dan seorang geolog serta peneliti senior di Survei Geologi Denmark dan Greenland.
Temuan ini merupakan hasil investigasi yang rumit selama setahun. Tim peneliti mengatakan Pulau Ella — sekitar 72,4 kilometer dari lokasi longsor — dihantam tsunami setinggi setidaknya 4 meter.
Turis terkadang mengunjungi pulau itu.
“Hanya beberapa hari sebelum kejadian, kapal pesiar sudah ada di sana dan berada di pantai,” kata Svennevig. “Sungguh, sangat beruntung tidak ada seorang pun di sana saat kejadian itu.”
Seiche ini merupakan yang terpanjang yang pernah diamati para ilmuwan. Sebelumnya, tsunami yang disebabkan oleh tanah longsor biasanya menciptakan gelombang yang mereda dalam beberapa jam.
“Ini benar-benar rangkaian kejadian dan belum pernah diamati sebelumnya,” kata Alice Gabriel, salah satu penulis penelitian.
“Bumi adalah sistem yang sangat dinamis dan saat ini, kita berada dalam fase di mana keseimbangan yang sangat sensitif ini terganggu cukup hebat akibat perubahan iklim.”