Burundi: Negara Termiskin di Dunia hingga Dikatakan Sebagai Nerakanya Dunia
Negara kecil yang dikepung daratan ini memang memiliki kondisi perekonomian yang sangat buruk.
Burundi: Negara Termiskin di Dunia hingga Dikatakan Sebagai Nerakanya Dunia
Semenjak berhasil memisahkan diri dari Rwanda dan meraih kemerdekaan yang resmi pada tanggal 1 Juli 1962, Burundi masih berada di peringkat teratas negara paling miskin di dunia.
Negara kecil yang dikepung daratan ini memang memiliki kondisi perekonomian yang sangat buruk.
(c) 2023 Merdeka.com
Berdasarkan data World Economy pada tahun 2022 gross domestic product (GDP) atau produk domestik bruto (PDB) Burundi, sebesar USD16,29 atau setara dengan Rp251.957.
Sebagai informasi, PDB adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu.
Jumlah dan Profesi Penduduk di Burundi
Burundi sendiri terletak di benua Afrika bagian tengah dan berbatasan dengan Rwanda, Tanzania, serta Republik Demokratik Kongo. Dengan luas wilayah 27,834 kilometer persegi, Burundi memiliki populasi sekitar 11,8 juta jiwa.
Berdasarkan Global Finance Magazine, sekitar 90 persen dari hampir 12 juta penduduknya bergantung pada pertanian subsisten, di mana mereka hanya fokus bertani untuk dinikmati sendiri hasilnya.
Penyebab Burundi Menjadi Negara Miskin
Ada banyak alasan mengapa Burundi menjadi negara paling miskin di dunia.
Namun, dari banyaknya alasan tersebut, ternyata perang saudara, korupsi, endemik, infrastruktur dan masalah keamanan menjadi faktor yang utama.
Bahkan, karena perang saudara yang berlangsung dari 1972-2018, Burundi kerap disebut sebagai neraka dunia yang tak pernah luput dari perkelahian dan aksi kekerasan.
Tingkat Kesehatan di Burundi Juga Sangat Rendah
Sebagai negara yang miskin, sudah tentu masalah kesehatan menjadi salah satu kekhawatiran yang sedang dihadapi oleh Burundi. Hampir semua kasus kematian di negara ini pun terjadi akibat penyakit menular dan gizi buruk.
Bukan hanya itu, tingkat kesehatan yang sangat rendah ini ternyata juga dipengaruhi oleh minimnya fasilitas rumah sakit dan tenaga medis yang profesional.
Tak heran, orang sakit di sana kurang bisa mendapatkan penanganan medis yang benar dan profesional.